Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXII/26 Januari - 01 Februari 2004
   
Luar Negeri

Pandanglah Bintang Utara...

Korban tewas serdadu AS genap 500 orang. Beberapa di antaranya karena frustrasi dan bunuh diri. Moral pasukan sangat merosot.

SERSAN Jaror C. Puello-Coronado tengah berjaga bersama dua anggota polisi militer di pintu utama markas tentara Amerika Serikat di Ad-Dawaniyah, kawasan Irak bagian selatan. Tiba-tiba, Sabtu pagi, 17 Januari lalu, sebuah truk melesat ke arah mereka. Puello mendorong seorang rekannya dan memperingatkan yang lain. Tapi truk bermuatan bom itu justru menabrak Puello hingga tewas. Celakanya, saat itu banyak warga Irak menunggu masuk ke markas untuk berkunjung atau bekerja. Tak ayal, 16 warga Irak, yang sedang antre di antara gulungan kawat berduri di sekeliling tempat pemeriksaan, lumat oleh bom, 20 mobil hangus terbakar, dan dua prajurit AS tewas.

Sejak invasi secara sepihak ke Irak, sudah 500 prajurit AS tewas—jumlah korban terbesar sejak AS terlibat agresi di Vietnam tiga dasawarsa silam. Perang Vietnam selama 10 tahun telah mengubur 58 ribu prajurit dan warga sipil AS. Sedangkan di Irak, tentara AS terus berjatuhan justru setelah perang dinyatakan berakhir oleh Presiden George W. Bush, 1 Mei tahun silam. "Tapi 500 prajurit tewas itu sudah terlalu banyak," kata Sersan Melanie Torres asal California.

Korban tentara AS yang semakin bertambah tak ayal menepis dugaan tertangkapnya Saddam Hussein Desember silam akan mengurangi semangat gerilyawan Irak. Yang terjadi justru sebaliknya: muncul indikasi jatuhnya moral pasukan AS. "Tingkat moralitas sebagian besar tentara sudah benar-benar ambruk," ujar seorang perwira Divisi Infanteri III AS di Irak. Ada beberapa tentara AS yang frustrasi diam-diam menulis surat kepada anggota Kongres atau Palang Merah Internasional minta dipulangkan. "Mereka juga menguras tabungan untuk membeli tiket pulang," tulis seorang prajurit.

Merosotnya moral pasukan AS itu bukan hanya karena waktu penempatan yang tak terbatas, tapi juga akibat perubahan jadwal pemulangan yang selalu terjadi. Banyak prajurit yang tidak lagi percaya kepada komandan mereka. "Perlakuan yang buruk terhadap kami, dan kebohongan mengenai jadwal kepulangan, benar-benar telah menghancurkan harapan kami semua," tulis seorang prajurit muda kepada seorang anggota Kongres.

Pentagon bukannya berpangku tangan. Empat hingga enam bulan mendatang, markas besar serdadu AS itu memang berencana memulangkan sebagian besar dari 130 ribu prajurit yang sudah letih itu, diganti dengan 105 ribu serdadu yang dilengkapi Strykers, kendaraan perang berteknologi canggih. Namun, sementara pergantian itu masih ditunggu-tunggu hingga bikin jengkel, semangat perang tentara AS mulai digerogoti oleh ancaman gerilyawan, bom bunuh diri, suhu padang pasir yang terik, kondisi hidup yang keras, dan rasa jemu. Sudah beberapa pekan ini, 9.000 anggota Divisi Infanteri III AS, yang bertugas selama enam bulan hingga setahun, menunggu kesempatan pulang kampung.

Mereka benar-benar frustrasi dan putus asa. "Ada yang mengomel, ada yang mencoba curhat, ada pula yang menulis surat, menangis, dan berteriak-teriak. Banyak yang lelah dan tertekan. Ada yang jalan-jalan tak tentu arah seperti pion yang tak punya peran dalam suatu permainan," tulis seorang perwira dalam sepucuk surat. Bahkan ada 21 tentara AS yang bunuh diri. Dari 100 ribu prajurit, persentase yang bunuh diri naik dari 10,5 persen menjadi 13,5 persen. Sementara itu, sejak November lalu, 4.400 tentara AS menunggu giliran perawatan psikis dan 400 orang di antaranya dipulangkan karena gangguan kejiwaan. "Ini tak pernah terjadi sebelumnya," ujar William Winkenwerder, asisten Menteri Pertahanan AS bidang kesehatan mental.

Tapi, seperti biasa, meningkatnya angka kematian tentara AS yang mengakibatkan merosotnya moral pasukan itu dibantah. "Saya kira pasukan tak melihat hubungan antara jumlah korban dan moral tentara. Mereka tahu punya bangsa dan korps militer yang berdiri teguh mem-back-up," kata Brigadir Jenderal Mark Kimmitt, juru bicara militer AS, dengan nada klise. Tapi nyatanya ratusan janda dan calon janda di AS menangisi perang Irak yang alasannya dicari-cari oleh Presiden Bush itu.

"Kami kehilangan nyawa, lalu semua itu untuk apa? Mereka membawa pulang kantong mayat, dan apa yang kami peroleh dari pemerintah? I'm so sorry, semua itu tak akan mengembalikan suami-suami kami," kata Nyonya Sandra Puello, janda sang Sersan, kesal. Ia memang menyebut suaminya sebagai pahlawan, tapi tak mudah menerima kematiannya. Suatu hari ia mengamuk, ke luar rumah, lalu seperti orang gila mencabut semua tanaman di halaman rumahnya di Long Pond, Pennsylvania.

Hari-hari ini, Sandra masih hafal betul kalimat-kalimat yang ditulis suaminya dalam sepucuk surat terakhir, tak lama sebelum insiden truk bermuatan bom itu: "Ketika kamu duduk hening di bawah temaram sinar bulan, pandanglah Bintang Utara. Aku juga akan memandang bintang itu di langit biru, dan membayangkan aku duduk bahagia di sampingmu, meski kita jauh terpisah. Di Bintang Utara, engkau selalu dapat menemuiku...."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data