Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXII/26 Januari - 01 Februari 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Ketika Tak Bisa Memilih

Di saat industri tekstil nasional berjaya sebagai primadona ekspor, para buruh inilah yang disebut-sebut para ekonom atau pemerintah sebagai sang pencipta daya saing. Sayangnya, yang dijual sebagai keunggulan adalah upah mereka yang murah, bukan keahlian mereka. Ketika Vietnam dan Cina menawarkan upah yang lebih murah, Indonesia langsung tercecer di belakang. Tak aneh jika banyak perusahaan tekstil di Indonesia yang pindah ke Vietnam atau Myanmar. Sebagian lagi tutup karena tak kuat menanggung upah yang terus meningkat.

Maka cerita hidup pas-pasan yang biasa dilakoni buruh tekstil semakin terdengar menyedihkan. Tengok saja apa yang dialami Iswandi, buruh sebuah pabrik tekstil yang sudah masuk bursa Jakarta. Sejak Juni silam, Iswandi dan sekitar 50 temannya diskors tanpa batas dari pabrik itu gara-gara menolak dirumahkan. Iswandi menolak karena dia melihat perusahaan itu masih kebanjiran order sehingga tak layak memangkas pegawai. Dan lagi, pesangon yang ditawarkan cuma Rp 3,5 juta. "Saya sudah bekerja 20 tahun," katanya.

Maka mengadulah Iswandi dan teman-temannya ke Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P). Tapi, sebelum vonis diketuk, mereka sudah harus membayar biaya di muka, yang jumlahnya tidak kecil. Praktis, gaji bulanan sebesar Rp 840 ribu ludes tanpa bekas. Jadilah Iswandi sebagai penjaga kantor sekretariat Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit (SPTSK) Tangerang. Nasib yang lebih apes dialami Suherdi, rekan Iswandi yang ikut diskors. Pria asal Serang ini terpaksa menjadi kuli bangunan untuk menanggung hidup dirinya bersama istri dan dua anak.

Cerita ini bukanlah semata-mata kisah hidup keduanya. Bagi kebanyakan buruh pabrik tekstil, hidup pas-pasan dan malah tekor adalah hal biasa. Asih, buruh Apac Inti Corpora, Semarang, mengisahkan gajinya yang Rp 500 ribu per bulan hanya cukup untuk menutup biaya keseharian dan kontrak "rumah"—tempat kos yang sempit. Bahkan, agar bisa memberikan kado untuk temannya yang menikah pun, Asih mesti membeli gelas kreditan dengan tiga kali bayar. "Untung, masih ada poliklinik di pabrik kalau sakit," katanya.

Sialnya, kehidupan seperti itu tak mungkin dihindari banyak penduduk usia kerja di Indonesia. Kesempatan kerja belakangan ini memang jauh berkurang dibandingkan dengan sebelum krisis. Kini setiap tahun ada tambahan penganggur sekitar 800 ribu orang. Sampai akhir 2003, tingkat pengangguran di Indonesia sudah di atas 10 persen (sekitar 10 juta orang). Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut sampai 2-3 tahun mendatang. Iswandi, Asih, dan jutaan buruh lainnya memang tak bisa memilih.

THW, Sohirin Irin (Semarang), Ayu Sukma, Rana Akbari Fitriawan (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data