Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 48/XXXII/26 Januari - 01 Februari 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Dulu Primadona, Kini Pecundang

Selama tiga tahun terakhir, ekspor tekstil turun terus akibat kalah bersaing. Bahan baku, biaya buruh, dan mesin tua menjadi penyebab.

Dewa keberuntungan bersikap ramah terhadap Hari selama dua tahun terakhir. Warga di seputar rumahnya menjadi saksi membaiknya kehidupan pria berusia 40-an tahun itu. Rumah kediamannya, yang semula berukuran 200 meter persegi, meluas tiga kali lipat. Simbol kekayaan lain yang kasatmata seperti mobil juga dapat digandakan oleh Hari. Di garasi rumahnya, nongkrong satu sedan mewah buatan Jerman dan satu mobil serba guna buatan Jepang gres, menemani mobil pikap yang telah dimilikinya bertahun-tahun.

Sepenggal cerita sukses milik Hari menjadi menarik karena rezeki itu dikecapnya dari industri tekstil. Pria asal Cilacap, Jawa Tengah, yang enggan nama lengkap dan nama perusahaannya dikutip itu adalah seorang produsen tekstil kelas ecek-ecek. Produk yang dibuatnya adalah celana pendek dan kaus untuk lelaki. Dalam tiga tahun terakhir, pesanan kaus dan celana yang ia sebut "murahan" itu justru mengalir deras dari para buyer, yang kebanyakan makelar. "Saya tidak tahu ke mana lagi mereka menjualnya," kata Hari.

Tapi mencari pengusaha tekstil yang sukses seperti Hari di masa-masa ini sungguh sulit. Kini yang terjadi justru sebaliknya. Industri tekstil, yang pernah dinaikkan ke atas panggung sebagai primadona ekspor Indonesia, tengah dirundung nestapa. Rekor ekspor yang dicapai pada tahun 2000 sudah lama tak pernah lagi dijangkau. Selama tiga tahun terakhir, ekspor tekstil dan produk tekstil terus-menerus turun (lihat Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia 1997-2003). Nilai ekspor sebesar US$ 8,2 miliar pada tahun 2000 menyusut seperlimanya menjadi US$ 6,5 miliar saja pada akhir tahun lalu. Masa keemasan itu sudah lama berlalu.

Cina dan Vietnam disebut sebagai pesaing yang telah berhasil mempecundangi tekstil made in Indonesia di pasar internasional. Gambaran persaingan di tingkat dunia semakin menyeramkan di tahun mendatang. Pasalnya, sistem kuota perdagangan tekstil yang selama ini diberlakukan Amerika Serikat, sebagai importir terbesar produk tekstil buatan Indonesia, akan dihapuskan saat rezim perdagangan bebas dimulai. Ibarat judo, produk Indonesia bakal bertarung di kelas bebas.

Asosiasi Perusahaan Tekstil Amerika Serikat memprediksi perdagangan bebas yang diberlakukan tahun depan akan memindahkan dana sebesar US$ 42 miliar dari negara-negara Uni Eropa, Amerika Tengah, dan Asia Pasifik ke Cina. Bisa diduga, dalam beberapa tahun ke depan, ekspor Indonesia bakal makin menyusut. Kedahsyatan Cina memang sulit dibendung siapa saja.

Impotensi produk tekstil dalam negeri terhadap barang buatan Cina bahkan terekam di sejumlah pasar dalam negeri. Tengok saja ke sejumlah pusat perbelanjaan, seperti Pasar Senen atau Pasar Baru, Jakarta. Beragam produk tekstil Cina terlihat mendominasi. "Barang Cina laku karena murah," ujar Titik, pedagang di Pasar Senen. Sekadar mencontohkan, ia menyebut harga selembar baju atasan untuk wanita asal negeri bambu itu dan buatan lokal bisa berbeda hingga Rp 20 ribu.

Sawab dari kekalahan di pasar akhirnya ditanggung juga oleh ratusan ribu tenaga kerja di sektor tekstil. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Sofyan Wanandi, memperkirakan 100 ribu hingga 150 ribu pekerja tekstil akan kehilangan mata pencarian sepanjang tahun ini. Itu perkiraan yang paling konservatif. "Kenyataannya bisa lebih buruk dari itu," kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Benny Sutrisno. Ia menyebut angka pemutusan hubungan kerja yang sesungguhnya sulit dimonitor karena industri tekstil didominasi oleh perusahaan berskala kecil seperti yang dimiliki Hari.

Sebagian kecil dari mereka yang "bergerilya" di pasar tekstil kelas bawah, diakui Benny, ada yang bertahan. Biasanya pengusaha tekstil gurem itu menjajakan produk mereka antardaerah atau dalam skala kecil, seperti yang dilakukan Hari. Bahkan ada juga tekstil buatan Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Barat yang sempat melanglang buana melalui jalur perdagangan wisata seperti Bali. "Masalahnya, industri wisata di Bali itu sendiri kemudian mati," ujar Benny.

Di luar perusahaan berskala mini, industri tekstil Indonesia memang tengah mengalami masa suram. "Penyebab ketidakmampuan bersaing itu sebenarnya masalah internal perusahaan," ujar Direktur Ekspor Produk Industri Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Abdul Halim, kepada Dara Meutia Uning dari TEMPO. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dan masalah tenaga kerja disebut Abdul sebagai problem khas perusahaan tekstil dalam negeri.

Adanya kedua penghambat daya saing itu diamini oleh Lucas L. Prawoto, Vice President PT Apac Inti Corpora. Sebagian besar produk tekstil Indonesia seingat Lucas berbahan baku katun yang harus diimpor. Sedangkan soal tenaga kerja dikaitkan dengan penurunan daya saing karena hampir tiap tahun kenaikan upah buruh minimum tak pernah absen.

Selain itu, ada hambatan lain, yakni mesin produksi yang rendah produktivitasnya. "Mesin-mesin pabrik di sini sudah tua, sehingga kecepatan produksinya lambat," ujar Anwar, Ketua Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit Kota Tangerang. Benny, yang juga Presiden Direktur Grup Apac, menyebut angka kebutuhan investasi baru untuk mengganti mesin-mesin tua itu sampai US$ 2,3 miliar (hampir Rp 20 triliun). Itu kalau Indonesia masih mau bersaing.

Maka, untuk bertahan dari gempuran produk Cina, Apac, yang mempekerjakan lebih dari 13 ribu karyawan, memilih meningkatkan teknologi mesin pabrik mereka ketimbang mengurangi jumlah karyawan. "Sekarang sudah bukan zamannya main PHK lagi," ujar Lucas sembari meyakinkan bahwa perusahaannya tidak akan melakukan jurus itu sepanjang tahun ini. Lagi pula pilihan untuk meng-upgrade mesin akan mendatangkan keuntungan ganda bagi Apac. Selain kapasitas produksi terangkat, besaran biaya tertekan karena bahan bakar mesin diubah dari solar menjadi batu bara, yang lebih murah.

Sayangnya, tak semua pabrik bisa meniru langkah Apac. Tekanan biaya yang sangat berat, dari bahan baku, listrik, hingga upah, memang sulit dielakkan para pengusaha. Industri tekstil Indonesia agaknya sudah mulai merambat ke ujung senja.

Thomas Hadiwinata, Tomi Aryanto, Sohirin Irin (Semarang), Ayu Sukma (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data