Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Opini

Zarkani pun Berenang dalam Kubangan Darah

Separuh penduduk Aceh mengalami gangguan jiwa. Obatnya: dirikan Pusat Krisis, hentikan perang.

Perang di mana-mana sama saja: menghasilkan pemenang, pecundang, dan korban. Di Hongaria ada Margit, di Aceh ada Zarkani. Apa bedanya? Margit, gadis remaja Hongaria di masa penindasan tentara Rusia yang komunis di era tahun 1950-an, suatu hari harus melihat dengan mata kepala sendiri bapaknya dibantai ketika sedang mencicip makanan di sebuah restoran di Budapest. Sang bapak marah ketika anak perawannya diganggu tentara Rusia yang naik berahi melihat keelokan si gadis. Dan sebentar kemudian sang bapak sudah berkalang tanah.

Kepedihan dan mungkin trauma yang dialami Margit, yang kita tonton melalui film An American Rhapsody itu, sangat nyata dan banyak kita dengar di wilayah konflik di mana pun. Tak ada bedanya dengan yang dialami Zarkani (nama samaran) di Aceh. Ketika bapaknya menghilang tanpa jejak, anak muda asal Blang Mangat, Aceh Utara, itu masih berusia 20 tahun. Sampai kini, 15 tahun kemudian, Zarkani masih terus mencari di mana sang bapak berada. Dalam pencarian itu, tiba-tiba Zarkani "menemukan" bayangan bapaknya di kubangan darah hewan kurban di masjid, maka berenanglah ia di sana seraya memekik bahwa dia sudah menemukan tumpahan sang bapak. Lain kali dia merasa bahwa orang mati pasti ada kuburnya, maka dia pun membuat gundukan tanah yang diakuinya sebagai makam sang bapak.

Margit di Hongaria mungkin bertahan waras, tapi Zarkani sudah lama kehilangan akal sehatnya. Dia pernah ngeluyur sendirian dan mencari sang bapak di tangsi tentara. Mungkin ia masih ingat bahwa di tahun 1989, sang bapak, Abdullah (juga nama samaran), pernah dipanggil ke markas ABRI di kawasan Krueng Pase, Aceh Utara. Pemerintah Orde Baru saat itu mulai menetapkan Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM). Sejak itulah sang bapak menghilang dan Zarkani terus penasaran mencarinya sampai ke tangsi. Terang saja Zarkani dianggap "orang berbahaya" dan ia harus pulang dengan hadiah bogem mentah bertubi-tubi. Agar tidak bertambah parah, ia terpaksa diikat keluarganya di tiang rumah agar tidak terus mengembara.

Perang di mana pun sama: menghasilkan derita dan trauma. Maka, tidak mengherankan bila Kepala Dinas Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam, Dokter Mulya Hasjmy, melaporkan hasil penelitiannya bahwa banyak orang Aceh mengalami gangguan jiwa. Namun, tetap saja angka hasil penelitian sepanjang 2003 itu mengagetkan: separuh rakyat Aceh terganggu jiwanya—bagian terbanyak adalah terkena depresi. Pada situasi yang normal, dari 4 juta jiwa penduduk Aceh, angka gangguan jiwa itu hanya dialami sepuluh persen penduduk (lihat rubrik Kesehatan: Terjebak Mendung Bumi Seulawah).

Angka-angka ini jelaslah mengkhawatirkan. TNI sangat mungkin menang dalam pertempuran, tapi nasib Aceh justru akan ditentukan sekian tahun setelah "kemenangan" perang itu diraih. Jakarta tidaklah mungkin terus-menerus menggenggam Aceh. Cepat atau lambat, Aceh haruslah diurus oleh anak negerinya sendiri. Adalah anak-anak Aceh yang seharusnya berjuang membangun kembali Serambi Mekah itu dari sisa-sisa perang. Bagaimana mungkin hal itu akan dilakukan dengan separuh penduduk yang terganggu jiwanya?

Maka, yang harus dilakukan Jakarta sesungguhnya banyak sekali. Yang utama adalah menyadari bahwa perang yang sedang dilakukan kini dan juga di masa lalu—katakanlah bisa dicarikan argumen pembenarnya oleh Jakarta—tetaplah berdampak buruk bagi penduduk. Kesadaran itu seharusnya diikuti langkah TNI dengan mulai mengedepankan operasi teritorial untuk menyejahterakan rakyat ketimbang operasi keamanan yang menakutkan.

Bersamaan dengan itu, Jakarta bisa membangun Pusat Krisis di Aceh untuk memulihkan trauma penduduk Aceh. Lembaga ini sangat penting dibangun demi mengurangi ketegangan akibat perang di masa Aceh berstatus daerah operasi militer (1989-1998) dan juga perang yang tengah berlangsung. Sebab, ketegangan dan perasaan tidak menentu yang semakin pekat, seperti pendapat Dr. Irmansyah dari UI, memacu merosotnya kesehatan mental. Ketika kesehatan mental merosot, merosot pulalah kemampuan menatap masa depan.

Aceh yang separuh penduduknya terganggu jiwanya adalah Aceh yang terganggu masa depannya. Jika tidak segera ditangani, Jakarta akan mengeluarkan biaya besar untuk menyembuhkannya—bila wilayah itu tetap ingin dipertahankan menjadi bagian dari Republik.

Perang di mana pun sama saja: menghasilkan korban, trauma, dan kegilaan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data