Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Laporan Utama

Wangsit Eyang dan Orang Gila

Serba-serbi para penjudi mencari nomor. Ada yang belum kapok meski sudah bangkrut habis.

PERSIS dengan arca penjaga gapura, Wanto bersila mematung dengan kedua tangan bersedekap. Bola matanya yang mulai memerah seperti tak berkedip memelototi sebongkah batu hitam sejauh empat meter di depannya. Kadang kepalanya menjulur ke depan, seperti melongok sesuatu yang ganjil. Kantuk dan perut keroncongan tak mampu mengusik "ritual"-nya.

Suasana hening serta aroma menusuk minyak wangi murahan juga tak membuat bujangan ceking berkulit legam ini bergidik jeri. Lagi pula, dia tak sendirian pada tengah malam akhir 1995 itu. Ada sekitar 25 orang berjubel di sana: ruang setengah terbuka seluas 16 meter persegi di samping kelenteng di Tonjong, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Anehnya, kebanyakan dari mereka berusia 7-8 tahun. Lo? "Mereka belum akil balig, jadi masih suci, tapi sudah melek angka," kata Wanto, 38 tahun, kepada TEMPO, Rabu lalu. Memang mereka sedang berurusan dengan deretan angka, yakni nomor kode judi tebak angka toto gelap alias togel.

Batu yang jadi pusat perhatian berbentuk seperti gunung sebesar televisi 29 inci. Di tengahnya ada cap sepasang telapak kaki orang dewasa. Para pendatang menyebutnya "Eyang Langlang Buana", seperti tulisan di bawahnya. Para pecandu togel, khususnya di Jawa Barat, percaya bahwa "Eyang" sering memberikan "keberuntungan" berupa deretan angka.

Pada pukul 24.00, juru kunci mengoleskan minyak wangi di permukaan batu, lalu semua yang hadir kompak menatap tajam ke sana. "Kalau melihat di satu titik, ya udah, dipanteng terus," ujar Wanto. Tapi cuma dua jam lebih "waktu sakti"-nya. Setelah itu, "Eyang" letoy, apalagi mendekati azan subuh. Nah, Wanto dipilih teman-temannya jadi "joki" juga lantaran "kesucian" tadi.

"Saya dikejar-kejar karena belum pernah begituan sama cewek," kata pekerja serabutan ini, tersipu. Tapi dua jam berlalu, Wanto hanya melihat batu, sementara matanya sudah berkunang-kunang. Terpaksa dia main sebut sembarang angka saja, agar sang cukong senang. "Terang saja enggak tembus," ucapnya terkekeh.

Pasangan togel minimal Rp 1.000, dibuka empat kali sepekan: Senin, Kamis, Sabtu, dan Ahad. Bisa menebak dua angka buntut mendapat 60 kali uang taruhan, tiga angka buntut memperoleh 400 kali lipatnya, dan persis menebak empat angka dapat 2.500 kali lipat. Bandar penyelenggara togel tak cuma satu. Yang jadi idola di kebanyakan kota besar adalah togel Singapura/Malaysia.

Tapi ada pula togel lokal, misalnya di Jakarta disebut tokam (Toto Kampung Melayu) dan A Satu, yang diundi tiap malam. Atau Pakong, judi tebak dua angka 01 sampai 36. "Di Jakarta Barat banyak ibu-ibu suka Pakong," kata Danil Erwin, 40 tahun, pegawai swasta pecinta togel. Meski tak resmi, togel lancar jaya.

Bukan berarti polisi tak bertindak. Gultom, misalnya, berkali-kali ditangkap polisi selama tiga tahun menjadi agen di Medan. Tapi ayah tiga anak ini selalu bebas atas jaminan bandarnya. "Kita tak takut, ada polisi yang bekerja sama dengan taukeku," ujarnya pekan lalu.

Beda lagi Cap Ji Kia, judi khas Solo dan sekitarnya. Cara mainnya cukup menebak angka di 12 kartu Cina. Angka "mujur" dibuka dua jam sekali, dari pukul 11.00 sampai 23.00, setiap hari. Kalau Presiden atau Kepala Polri mampir ke sana, baru permainan diliburkan. Bandarnya cuma tiga: Wisanggeni, Singo Lawu, dan PSP. Anak sekolah dasar bisa jadi pelanggan karena taruhan paling rendah: cuma 500 perak.

Makanya nomor kode sangat penting buat para petaruh. Rupa-rupa cara dilakukan agar diperoleh deretan angka cespleng. Dari yang "ilmiah" dengan rumus-rumus (ngecak), lewat mimpi, minta ke dukun, bersemadi di tempat keramat, sampai yang mengada-ada. Pokoknya, semua ditafsirkan menjadi angka.

Anwar Sugeng, pegawai percetakan warga Kecamatan Bubutan, Surabaya, berburu nomor dengan menonton serial Angling Dharma di sebuah televisi swasta. Pada episode Rabu malam tiga pekan lalu, Nyi Jantur menjadi merpati dan kucing saat mencari penculik anak raja. "Di buku mimpi, kucing nomor 18. Saya pasang, tembus," katanya dengan nada berbahagia.

Adapun Suwarno, 45 tahun, lebih senang mencermati "kode alam", misalnya membolak-balik nomor pelat kendaraan yang mengalami kecelakaan, atau mencari nomor di buku mimpi. Saking ngawurnya, pertengkaran tetangga sebelah juga bisa dikonversikan jadi nomor. "Beberapa kali penjual ikat pinggang lewat, nomornya keluar 41," ujar kondektur bis di Surabaya ini.

Tak kurang pula yang percaya, nomor pemberian orang gila di jalanan ampuh membobol brankas bandar. Termasuk Wanto ceking tadi. Warga Kramat Jati, Jakarta Timur, ini girang sewaktu bertemu tetangganya yang lagi "stres". Langsung saja hajat disampaikan. Setelah terdiam sejenak, si tetangga malah menjawab: "Jangan main gituan, nanti jadi gila, lo...."

Kebanyakan pecandu togel berasal dari kalangan menengah ke bawah. Di antaranya bahkan terdapat pegawai negeri, tentara, dan polisi. Tapi bukan main banyaknya uang yang mereka hamburkan. Menurut survei Lembaga Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia, pada 2001, tiap minggu 1,2 juta orang Jakarta pasang togel. Adapun omzet bandar bisa mencapai Rp 5 miliar per pekan.

Penghasilan bandar Cap Ji lebih syur. Setoran pengecer (tambang) Rp 300 ribu hingga 500 ribu per hari. Menilik banyaknya tambang, omzet bandar per hari bisa Rp 1 miliar. Jadi, total sebulan kira-kira Rp 28 miliar. Pengecer dan agen pun kebagian "rezeki" lumayan. Ali, 52 tahun, bersyukur ekonominya membaik setelah tiga tahun jadi pengecer togel dan tokam di Kramat Jati. Di luar "tip" para petaruh yang menang, 25 persen uang taruhan masuk kantongnya. Begitu juga Gultom, yang mengaku bisa membeli rumah dan sepeda motor.

Namun lebih banyak cerita tragis gara-gara judi. Soeradji, 62 tahun, pada 1990 mendapat undian SDSB Rp 1 miliar. Dasar orang lugu, warga Trenggalek, Jawa Timur, ini diam saja meski cuma menerima Rp 460 juta. Mulailah dia membeli mobil, membangun rumah, masjid, jembatan, mendirikan perusahaan konstruksi, dan mengaspal jalan desa. Setelah tiga tahun, eh, tak terlihat sisa kekayaannya. "Uang seperti air, datang dan perginya cepat sekali," katanya lirih.

Simamora, 38 tahun, warga Simpang Limun, Medan, akhirnya menjadi tukang becak. Padahal sebelumnya ayah empat anak ini menyewakan tiga becaknya. Dua tahun "gila angka" togel, ia hanya lima kali menang, yang paling banyak Rp 325 ribu. Setelah itu, wasalam..., hartanya amblas. "Aku sudah tobat," katanya.

Ada lagi hikayat Hardi, dengan rekor tembus Cap Ji Rp 25 juta. Dalam sekejap uangnya ludes, bahkan kebun 600 meter persegi ikut raib, dan rumah yang hanya sebiji tergadai. Akhirnya istrinya minta cerai karena tak tahan. Terpaksa bekas penjudi kakap ini menumpang di rumah rekannya sambil berusaha mencari pekerjaan halal.

Contoh tak kapok barangkali Eko, 41 tahun. Boleh dibilang mantan polisi ini sudah bangkrut habis. Ia dipecat instansinya gara-gara melego sepeda motor bukti kejahatan. Motor temannya juga ikut disikat. Duit hasil penjualan motor colongan tadi habis untuk Cap Ji. Sekarang dia mencari nafkah dengan mengayuh becak. Toh Eko tak patah arang. "Sekarang pasang kecil-kecilan saja," katanya.

Jobpie Sugiharto, Sunudyantoro (Trenggalek), Kukuh S.W., Agus Raharjo (Surabaya), Imron Rosyid (Solo), Bambang Soed (Medan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data