Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Laporan Utama

Mereka yang Dikejar Kontroversi

KONI dan PT MMI sudah lama merancang kerja sama penyelenggaraan tiket berhadiah. Inilah tokoh-tokoh yang ikut mengurusnya.

KEGUNDAHAN sempat mengganjal hati Burhan Bustaman. Sejumlah media massa menulis bahwa dirinya tengah berusaha kabur, menghindar dari kontroversi tiket olahraga berhadiah yang kadung mencuat di tengah khalayak. Padahal Direktur Utama PT Metropolitan Magnum Indonesia (MMI) ini mengaku sedang pergi mengurus bisnis asparagusnya di Sumatera Utara sepanjang pekan lalu. "Saya pergi ke Medan, kok, diberitakan kabur," katanya kepada TEMPO.

Pekan-pekan ini, Burhan memang menjadi incaran wartawan. Mereka berupaya mengkonfirmasikan soal kerja sama antara MMI dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dalam penyelenggaraan tiket berhadiah.

Nasib yang sama dialami pengurus KONI seperti Andi Gani Nena Wea, Indra Kartasasmita, dan Mayjen (Purn.) Sang Nyoman Suwisma. Mereka kerap dihubungi pers karena dianggap mengetahui proses kerja sama itu. Apalagi belakangan ada yang menilai undian berhadiah itu sesungguhnya mirip-mirip dengan lotere.

Apa saja peran Burhan, Andi Gani, dan kawan-kawannya? Inilah profil dan penjelasan mereka.

Burhan Bustaman

Direktur Utama PT Metropolitan Magnum Indonesia

LELAKI yang lahir di Medan pada 18 April 1953 ini cukup kenyang pengalaman. Pada usia 10 tahun, ia telah diboyong ke Jakarta oleh orang tuanya. Saat usianya menginjak dewasa, Burhan bekerja di perusahaan pelayaran, yang membawanya berkelana ke sejumlah negara seperti Jepang, Swedia, dan Amerika Serikat.

Bosan merantau, pada 1973, ia akhirnya kembali ke Medan untuk membuka usaha agrobisnis di sana. Usahanya berkembang pesat. Sukses di agrobisnis, Burhan lalu merambah ke usaha perikanan. Ia mendirikan dua perusahaan perikanan di Medan, yang hingga sekarang masih mengepul. "Semua usaha saya lancar-lancar saja," katanya.

Kini tiba-tiba namanya menyelip di tengah kontroversi soal tiket berhadiah. Di tengah upaya wartawan mengejar konfirmasi dari Yanto Hendrik Chang, Direktur PT MMI yang mengajukan proposal kerja sama, Burhan mengaku sebagai direktur utama perusahaan itu dan bersedia menjawab pertanyaan wartawan. Orang lalu menaruh sedikit curiga. "Ada yang bilang, jangan-jangan nama saya cuma dipajang. Padahal saya pemegang saham mayoritas perusahaan itu," tuturnya kepada TEMPO.

Soal proposal yang cuma diteken oleh Yanto Hendrik, ada pula penjelasannya. Ketika proposal dikeluarkan, Burhan memang belum terjun ke PT MMI. "Saya membeli mayoritas saham perusahaan itu pertengahan 2003 dan kerja sama dimulai sebelum saya masuk," katanya. Sebagai pemegang saham mayoritas, ia lalu menjadi Direktur Utama PT MMI.

Sejak saat itu pula Burhan mengaku aktif mempresentasikan proposal tersebut di KONI. Ia juga melakukan revisi sana-sini. "Yang berbau judi kita pangkas semua," katanya. Jadilah rencana kerja sama itu benar-benar seperti yang dilansir oleh Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah: cuma semacam door prize.

Menurut Burhan, hadiah yang diberikan sama saja dengan iming-iming yang dilakukan sejumlah bank. Undian yang akan dijalankan PT MMI akan dilakukan terhadap 52 kegiatan olahraga berskala nasional dan internasional. Hanya, ia menolak menjelaskan secara detail proses dan mekanisme undian tersebut. "Belum bisa saya katakan sekarang. Kami belum siap," katanya.

Andi Gani Nena Wea

Ketua Komisi Industri dan Bisnis Olahraga KONI

PADA usianya yang masih muda, 28 tahun, Andi Gani Nena Wea telah menduduki posisi yang cukup penting di KONI. Sehari-hari putra Jacob Nuwa Wea (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi) ini menjadi ketua komisi industri dan bisnis olahraga di organisasi tersebut.

Andi mengakui, komisi yang dipimpinnya telah menerima setidaknya 127 proposal kerja sama pengembangan bisnis olahraga. Salah satunya proposal yang diajukan PT Metropolitan Magnum Indonesia, yang diterimanya pada pertengahan 2003 lalu.

Setelah menerima proposal PT Magnum, ia bertemu dengan Burhan Bustaman (Direktur Utama MMI) dan Yanto Hendrik Chang (salah seorang direksi MMI) di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta. Lalu, pada September 2003, bersama Nyoman Suwisma, Andi berkunjung ke kantor pusat Magnum Corporation Berhad di Malaysia. Di sana, mereka melakukan peninjauan pelaksanaan bisnis yang dikelola Magnum.

Menurut Andi, lawatan itu sebuah kebetulan saja. "Saya kebetulan akan mengurus bisnis saya di sana. Saya bahkan berangkat tidak bersama Pak Suwisma. Kami baru bertemu di sana," katanya.

Di kantor pusat Magnum, ia menyaksikan bagaimana program lotere empat angka dilakukan. Saat itu, Andi juga menyatakan pendapatnya kepada para petinggi Magnum. "Saya menegaskan bahwa kalau sistem seperti ini dijalankan di Indonesia, pasti akan ditolak. Kalau memang mau, harus dimodifikasi," katanya.

Saat ini KONI Pusat masih menunggu keluarnya izin dari Departemen Sosial dan tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia. "Dalam surat yang diberikan Ketua Umum KONI Pusat Agum Gumelar disebutkan bahwa kalau memang izin sudah diberikan oleh Depsos, baru dibuat juklak (petunjuk pelaksanaan)-nya," tuturnya.

Mayjen (Purn.) Sang Nyoman Suwisma

Wakil Ketua Bidang Perencanaan dan Anggaran KONI

BERSAMA Andi Gani Nena Wea, Wakil Ketua Bidang Perencanaan dan Anggaran KONI ini pernah berkunjung ke kantor pusat Magnum di Malaysia. Hanya, Sang Nyoman Suwisma mengaku tak ingat persis kapan lawatan itu dilakukan. "Itu sudah lama, mana ingat lagi," katanya.

Di mata Suwisma, kerja sama KONI dengan PT MMI itu adalah kerja sama resmi, tidak ada unsur kepentingan pribadinya. "Ini semua urusan organisasi. Jangan dibawa ke urusan pribadi," katanya.

Selain itu, kerja sama tersebut dilakukan sesuai dengan prosedur. Pihak Magnum pun telah melakukan presentasi di kantor pusat KONI di Jakarta. Presentasi itu dilakukan sebelum SEA Games di Vietnam beberapa waktu lalu. "Semuanya juga hadir," ujar Suwisma.

Indra Kartasasmita

Ketua Bidang Perencanaan dan Anggaran KONI

SUATU hari di bulan Agustus 2003, Agum Gumelar tiba-tiba bertanya kepada Indra Kartasasmita soal nasib proposal kerja sama PT MMI dengan KONI. Yang ditanya amat kaget karena ia belum pernah mendengar rencana kerja sama itu. Padahal, sebagai ketua bidang perencanaan dan anggaran, Indra mestinya ikut berurusan juga dengan kerja sama seperti itu.

Belakangan semuanya menjadi jelas, setelah sebuah memo dan telaah atas proposal tersebut mampir di mejanya. Di situ dijelaskan bahwa proposal dari MMI itu telah dipelajari dengan saksama oleh Wakil Ketua Bidang Perencanaan dan Anggaran dan Ketua Komisi Industri dan Bisnis Olahraga KONI. Mereka pun telah melakukan studi banding ke kantor pusat Magnum di Malaysia.

Jika Indra menyetujui isi draf tersebut, ia tinggal ikut menekennya, lalu mengirimkannya kepada Ketua Umum KONI Agum Gumelar. Tapi ia tak buru-buru menyepakatinya. Indra meminta stafnya mengganti bunyi memo itu. Sebuah poin penting lalu dimasukkan, yakni PT MMI harus melakukan presentasi di KONI sebelum usul itu dibawa ke Departemen Sosial. "Itu penting untuk melihat seperti apa bisnis itu," katanya kepada TEMPO.

Jadi atau tidaknya presentasi, Indra tak tahu-menahu sampai akhirnya masalah ini dilansir media massa. Ia juga mengaku tak pernah membaca proposal dari PT MMI.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data