Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Laporan Utama

'Blue Chip' dari Melayu

Meski dikecam, Magnum Corporation berkembang pesat di Malaysia. Indonesia bakal mengikuti jejaknya.

JANGAN bandingkan Metropolitan Magnum Indonesia dengan perusahaan induknya di Malaysia. Di negeri jiran itu, Magnum Corporation Berhad menjulang dengan pendapatan miliaran dolar Amerika per tahun dari lotere empat angka, sementara di Indonesia Magnum bak jabang bayi yang kelahirannya sudah menuai kecaman. Tapi, jika berhasil melewati masa-masa sulit itu, bukan tidak mungkin Magnum Indonesia bakal menyusul induknya menjadi raksasa judi di negeri yang sudah lama akrab dengan togel (toto gelap) alias judi buntut ini.

Kini Magnum Indonesia masih punya dua kantor. Dan kedua-duanya masih sepi. Salah satu kantornya berada di Wisma Danamon Aetna, Jalan Jenderal Sudirman. Di gedung perkantoran di kawasan bisnis utama ini belum terlihat kesibukan pegawai Magnum Indonesia meskipun kantor itu sudah dibuka November silam. Selain Metropolitan Magnum Indonesia, di gedung itu juga berkantor Mega Magnum dan Multi Magnum.

Perusahaan milik Yanto Hendrik ini juga berkantor di gedung pemasaran kompleks perumahan Green Garden di jalan arteri Kedoya, Jakarta Barat. Alamat inilah yang tercantum dalam proposal dana sumbangan kesejahteraan berhadiah olahraga yang diajukan perusahaan itu kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia. Kantor ini juga tak memiliki pegawai. Yanto, yang dalam proposal disebut sebagai Direktur Utama Metropolitan Magnum, pun hanya sebentar-sebentar berada di kantor. "Pagi-pagi datang, tak lama kemudian sudah pergi lagi," kata seorang petugas kebersihan di gedung itu.

Magnum bisa dibilang salah satu perusahaan besar Malaysia. Rentang usahanya mulai dari lotere empat angka, keuangan, teknologi informasi, sampai properti. Bisnisnya juga tersebar di delapan dari 13 negara bagian di Malaysia dan juga di luar negeri seperti Hong Kong, Filipina, Cina, dan British Virgin Islands.

Perusahaan yang sudah beroperasi sejak 1968 itu kini menguasai 42 persen pasar lotere di Malaysia, yang perputaran uangnya mencapai enam miliar ringgit atau US$ 1,57 miliar (sekitar Rp 13 triliun) per tahun. Perusahaan yang masuk papan utama bursa Kuala Lumpur ini juga tergolong saham blue chip. Ketika ekspansi Magnum ke Indonesia jadi pembicaraan di bursa Kuala Lumpur pada pekan pertama Januari lalu, harga sahamnya naik sampai 10 persen menjadi tiga ringgit per lembar.

Perkembangan Magnum memang luar biasa. Berbeda dengan Genting Highlands yang tak setiap warga Malaysia bisa memasukinya, permainan lotere empat angka ini dapat dilakukan di hampir semua kota di Malaysia. "Umumnya toko penjual tiket Magnum berada di perkotaan," kata seorang mahasiswa Indonesia yang tengah belajar di Kuala Lumpur. Lotere yang mirip judi buntut di Indonesia ini umumnya diminati kalangan keturunan Cina dan India, tapi warga Melayu dan tenaga kerja Indonesia pun kadang ikut membelinya.

Semula lotere Magnum masih manual dan mengacu pada pertandingan pacuan kuda di Singapura. Namun, sejak 1985, Magnum mendapat izin dari pemerintah untuk menyelenggarakan penarikan undian sendiri. Komputerisasi yang dilakukan pada 1989 membuat bisnis Magnum melejit. Pada 1990, penjualannya sudah di atas 100 juta ringgit. Pada 2002, penjualan Magnum sudah 2,4 miliar ringgit (sekitar Rp 5,3 triliun), dengan laba setelah pajak Rp 500 miliar.

Hebatnya, perkembangan yang cepat itu terjadi di tengah protes yang tak pernah surut. Dan tudingan pun dialamatkan ke UMNO (Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu). Bekas pejabat pemerintah Malaysia atau pentolan UMNO memang banyak yang menjadi petinggi atau pemegang saham di Magnum.

Cik Gu Azmi, pemimpin lembaga swadaya masyarakat yang giat berkampanye antiperjudian di Malaysia, misalnya, menyebut bekas Menteri Pendidikan Malaysia, Tan Sri Dato' Mohd Khir bin Johari, yang menjadi Vice Chairman Magnum 4D. Atau bekas Ketua Pemuda UMNO, Datuk Haji Mohamed Al-Amin Majid, yang memiliki hampir dua juta lembar saham di Magnum 4D.

Bisa jadi, hal yang sama akan terjadi di Indonesia. Kondisi yang ada memang sangat memungkinkan hal itu terjadi. Penelitian yang dilakukan Lembaga Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia, misalnya, pada 2001 memperkirakan ada 1,2 juta orang di Jakarta yang terlibat perjudian toto gelap. Omzetnya pun tak main-main, sekitar Rp 5 miliar per minggu. Ini bisa menjadi tempat persemaian yang subur bagi Metropolitan Magnum Indonesia.

MT, Hanibal W.Y. Wijayanta, Faisal Assegaf (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data