Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Laporan Utama

Setelah Lotere Melayu Terkuak

Setelah Porkas lama mati, kini pemerintah dan KONI mengeluarkan lotere gaya baru dengan pola permainan serupa. Tapi, ketika lotere itu diributkan pers, banyak pihak lepas tangan.

BEGITU menerima sebundel dokumen penting, Indra Kartasasmita, Ketua Bidang Perencanaan dan Anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), langsung menulis secarik memo. Pesan yang ditulis September silam itu berbunyi, "Jangan sampai program ini bocor ke media massa." Tapi memo dari Indra kini tak lagi berguna. Sejak pekan lalu, wartawan ramai mencecar dia dengan satu pertanyaan penting: benarkah KONI bakal menghidupkan kembali lotere olahraga?

Apa boleh buat, rencana itu memang sudah telanjur tersiar luas. Berawal dari desas-desus di Senayan, tempat komite itu berkantor, cerita soal lotere makin kuat menjadi kenyataan. Satu salinan surat resmi yang diperoleh Tempo News Room jelas menyebut KONI sudah bekerja sama dengan Magnum Investment Limited, perusahaan investasi milik bandar lotere terbesar Malaysia, Magnum Corporation Berhad.

Di Indonesia, permainan itu akan bertajuk Dana Sumbangan Olahraga Berhadiah Empat Cabang Olahraga. Magnum menunjuk satu agennya untuk Indonesia: PT Metropolitan Magnum Indonesia, yang kini berkantor di Jalan Sudirman, Jakarta. Untuk proyek ini, mereka siap menggelontorkan modal sekitar US$ 75 juta (Rp 637,5 miliar).

Ketua Umum KONI Agum Gumelar juga telah membenarkan rencana itu. "Kita nanti mendapatkan bagian dari usaha mereka," ujar Agum. Menteri Perhubungan itu pulalah yang meneken surat persetujuan program undian itu pada Oktober tahun lalu.

Dan ini yang lebih penting: sudah ada pula lampu hijau dari Departemen Sosial. Desember 2003, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah telah mengeluarkan surat izin bagi Magnum untuk mengelola permainan itu selama setahun: mulai Februari 2004 sampai Januari 2005. Izin undian gratis berhadiah itu diberikan kepada Magnum untuk seluruh wilayah Indonesia. Sesuai dengan proposal, pada tahun pertama, empat kota besar menjadi sasaran: Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung.

Buat Magnum, ini memang bisnis besar. Dalam proposal, disebut kerja sama itu akan berlangsung selama 10 tahun. Tahap awal berjalan tujuh tahun dan selanjutnya tiga tahun. Dalam kurun waktu itu, Magnum memproyeksikan keuntungan bersih akumulatif sebesar Rp 4,68 triliun—sekitar sepertiga dari omzet perusahaan itu, yang sekitar Rp 13 triliun, per tahun. PT Metropolitan Magnum Indonesia menargetkan keuntungan bersih hingga Rp 127 miliar pada tahun pertama. Saat ini, ketika bisnis gede itu belum lagi berjalan, saham Magnum di bursa saham Malaysia telah melonjak 9,9 persen (lihat 'Blue Chip' dari Melayu).

Adapun KONI mendapat bagian tetap Rp 36 miliar setahun atau Rp 3 miliar per bulan. Di luar itu, ada royalti sebesar 10 persen dari penjualan tiket kotor. Kalau berhasil, tentu saja proyek ini rezeki nomplok bagi KONI. Apalagi komite itu membutuhkan dana besar. Selama ini, duit buat pembinaan olahraga dirasakan cekak. Kata Sekretaris Jenderal KONI Djohar Arifin Husin, dengan dana terbatas, atlet nasional sulit menembus prestasi di tingkat dunia. Pada SEA Games tahun lalu, misalnya, pemerintah hanya mengucurkan bantuan Rp 42 miliar. "Padahal KONI membutuhkan dana tak kurang dari Rp 80 miliar," ujarnya. Akibatnya, komite itu sering menadahkan tangan ke sponsor dan donatur (lihat Prestasi itu Mahal).

Di Malaysia, dunia olahraga memang berkembang dengan, salah satunya, sokongan dana dari bisnis lotere. Di sana, produk Magnum ini dikenal sebagai "4 Sports Welfare Game" alias permainan menebak empat digit angka dalam pertandingan olahraga. Sistem itu pula yang akan ditiru di Indonesia.

Dari modelnya, lotere ini bisa dibilang mirip Porkas Sepak Bola yang pernah ngetop di Indonesia pada 1987-1988. Dalam lotere gaya Magnum, yang ditebak adalah huruf A sampai J yang merujuk pada angka 0 sampai 9. Setiap abjad mengandaikan cabang olahraga tertentu, misalnya A untuk archery atau simbol olahraga panahan (lihat Patah Tumbuh Lotere Berganti).

Porkas? Itulah soalnya. Mesti tak sepenuhnya mirip, permainan ini toh sama ujungnya: menebak kecocokan huruf dengan hasil undian.Yang membuat berbeda barangkali hadiahnya. Dengan kupon Rp 300, dulu Porkas sanggup membuat orang bermimpi memetik hadiah utama uang tunai Rp 100 juta. Sedangkan Magnum, seperti terbetik dalam proposal awalnya, menawarkan aneka hadiah: dari sedan mewah sampai mesin pengering rambut. Untuk menang, orang cukup membeli satu tiket seharga Rp 2.500. Setiap tiket berhak atas satu kupon undian.

Kalau Porkas dulu diberangus karena dekat dengan judi, bagaimana dengan lotere Magnum? Burhan Bustaman, Direktur Utama PT Metropolitan Magnum Indonesia, menolak programnya disebut judi atau lotere. "Sama saja seperti undian bagi nasabah bank, bisa mendapat hadiah mobil bisa juga tidak," katanya kepada Tempo News Room di kantornya, Wisma Danamon, Jakarta, Jumat pekan silam. Menurut Burhan, lotere, eh, undian berhadiah itu akan dimulai awal Februari nanti. Dan kalau itu nanti ternyata bentuknya judi, "Saya siap izinnya dibatalkan," ujarnya.

Judi atau tidak memang soal sensitif. Itulah sebabnya Yanto Hendrik Chang—bos Metropolitan Magnum Indonesia yang entah kenapa mendadak digantikan Burhan akhir Desember lalu—sampai tiga kali mengirimkan surat permohonan kepada Departemen Sosial. Ketiga surat permohonan itu merekam perbedaan yang ganjil.

Pada surat 15 September silam, selain hadiah utama berupa ribuan barang elektronik senilai total Rp 1,5 miliar, terdapat hadiah uang tunai. Jumlahnya cukup besar: 3.000 hadiah masing-masing Rp 150 ribu. Lalu, pada surat kedua yang datang sebulan kemudian, ada tambahan hadiah hiburan berupa 200 uang tunai masing-masing Rp 1,5 juta. Hadiah itu diberikan kepada mereka yang bisa menebak 3 angka terakhir. Kalau dua angka terakhir yang kena, tersedia 1.000 uang tunai masing-masing Rp 200 ribu. Surat ketiga berbunyi sama dengan yang kedua. Bedanya, tak ada lagi kata "uang tunai untuk 3 atau 2 angka berurutan benar dari belakang." Dengan kata lain, ada kesan surat yang terakhir berupaya "mereduksi" hadiah duit untuk melindungi pengelola dari tudingan menggelar undian semacam Porkas.

Hal lain yang terasa janggal adalah tempat membeli kupon undian. Di dalam proposal dan rekomendasi Departemen Sosial disebutkan peserta bisa mendapat kupon dengan cara membeli tiket menonton pertandingan olahraga. Anehnya, penjualan tiket dilakukan melalui outlet-outlet di pasar atau mal dan melalui sistem on-line. Dengan kata lain, tiket bisa dibeli di mana pun di seluruh Indonesia tanpa harus menonton pertandingan yang ditebak. Di sinilah lubang kemungkinan peserta hanya membeli kupon untuk undian dan melupakan pertandingan olahraga jadi terbuka.

Karena bau judi yang semerbak itulah Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin pasang kuda-kuda. Dia mengatakan, belakangan ini memang banyak proposal pengumpulan dana masyarakat masuk ke kantor MUI. Tapi, karena berbau "tak halal", proposal itu akhirnya ditolak. Apalagi kalau ada unsur perjudian. "Pasti langsung kita tolak," ujarnya. Nasib proposal Magnum, menurut Din, juga sudah jelas. "Dari informasi yang kami terima, Magnum itu kan perusahaan judi," katanya. Sampai Sabtu pekan lalu, tak selembar pun surat dari Magnum masuk ke MUI.

Ramai ditentang di sana-sini, pengurus KONI cenderung lepas tangan dengan rencana kupon berhadiah ini. Indra Kartasasmita membantah bahwa dirinya terkait dengan proposal Magnum. Katanya, semua proposal memang biasanya singgah di meja kerjanya. Tapi, dalam kasus Magnum, dia mengaku belum menerima proposal itu.

Lalu bagaimana dengan memo 29 Agustus 2003 dari Indra kepada Agum Gumelar yang menyetujui proposal itu? Indra mengaku tidak tahu-menahu. Katanya, memo berisi telaah staf itu dibuat oleh stafnya tapi kemudian urung dia teken (kopi surat yang diperoleh Tempo News Room menunjukkan memo itu memang belum ditandatangani). "Saya minta ditambahkan rekomendasi agar Magnum mempresentasikan dulu kepada KONI," kata Indra. Di bawah nama Indra dalam memo itu tertera selarik paraf. "Itu tanda tangan Nyoman Suwisma," kata Indra.

Sang Nyoman Suwisma adalah Wakil Ketua Bidang Perencanaan KONI. Ia bersama Andi Gani Nena Wea, Ketua Komisi Industri dan Bisnis Olahraga KONI Pusat, disebut-sebut menimbang kelayakan proposal Magnum dan meneruskannya ke Agum. Tapi, ketika dihubungi, Nyoman mengelak. "Tak ada urusan dengan saya. Itu semua lewat Andi Gani," ujarnya kepada TEMPO Jumat pekan lalu.

Andi Gani mengaku menerima proposal dari PT Metropolitan Magnum Indonesia, agen resmi Magnum Corporation di Indonesia, sekitar setahun lalu. Bersama Nyoman, dia juga sempat melawat ke Kuala Lumpur, Malaysia, sekitar tanggal 10-11 Agustus 2003. Menurut pengakuan Andi, kunjungan itu bukan khusus menengok usaha Magnum. Jadi, cuma sambilan. Waktu itu, kata dia, belum ada kesepakatan bisnis antara KONI dan Magnum (lihat Mereka yang Dikejar Kontroversi).

Setelah itu, menurut Djohar Arifin, PT Metropolitan Magnum Indonesia mempresentasikan proposal mereka kepada KONI. Komite olahraga itu setuju dan proposal dikirimkan ke Departemen Sosial. Pada 16 Desember 2003, Menteri Sosial pun meneken surat sepakat.

Nezar Patria, Wenseslaus Manggut, Sudrajat, Sapto Yunus


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data