Sebatang Kurma dan Peradaban yang Hilang Jejak-jejak sejarah 2.000 tahun mendadak raib setelah Bam rata tanah oleh gempa. Pekan lalu, pemerintah Iran menyatakan kota itu tak lagi layak dibangun ataupun dihuni kembali. |
SUARA merdu, agak serak,mengalun sayup dari menara Masjid Jami yang berdiri megah di bekas kuil Zoroaster. Ketika itu, subuh, Jumat terakhir tahun lalu. Jam dinding menunjuk angka empat lebih beberapa menit. Dari menara masjid, muazin tua Zahedi al-Husseini, yang berjanggut tebal, mengumandangkan tarhim, mengingatkan warga Kota Bam agar bangun lebih awal, bersiap me- nunaikan salat subuh. "Ya, arhamar rahimin, irhamna!" ("Ya, Allah Maha Pencinta, cintailah kami!")
Belasan peziarah, rata-rata orang Baluchis dan Kurdi yang bersorban tebal, sejenak menghentikan ritual khalwat di makam sufi besar Mirza Na'im, lalu beranjak menuju masjid. Beberapa orang Kurdi, penggembala domba, masih terlelap di gubuk dan gua-gua di lembah Pegunungan Zagros di kawasan Iran se- belah tenggara. Salju belum lagi membungkus puncak-puncak gunung. Tapi suhu mulai dingin menusuk tulang.
Tiba-tiba, hanya beberapa saat, tanah bergetar. Meja, kursi, balai-balai, dan lemari bergetar. Lampu-lampu gantung bergoyang-goyang. Beberapa lelaki keluar dari kamar bawah tanah yang hangat, membuka pintu depan, lalu keluar ke jalan raya. Beberapa saat lewat, getaran itu berhenti. Sebagian orang kembali ke rumah. Yang lain bergegas ke masjid sembari mengatupkan jubah agar lebih hangat.
Angin gurun pasir Dasht-e-Lut bertiup pelan mengusap lembah dan perbukitan Zagros, menebarkan aroma sedap rimbunan kebun kurma, lemon, dan zaitun di beberapa kawasan Provinsi Kerman, seribu kilometer di sebelah tenggara Teheran. Dan Arg-e-Bam, benteng purba berusia 2.000 tahun, membisu dalam masa silam. Lalu datanglah petaka itu: Zahedi al-Husseini, yang baru saja mengumandangkan kalimat pertama azan subuh, terpelanting. Jam dinding menunjuk angka 05.27.
Hanya dalam beberapa detik—ketika jemaah Masjid Jami tengah berwudu, saat para ibu memperbaiki letak selimut anak-anaknya di rumah, tatkala belasan nomad Kurdi beranjak bangun hendak menghitung domba—kota tua Bam mendadak rata dengan tanah. Tak terdengar teriakan minta tolong. Tak ada isak tangis, lolong anjing, embik domba, dan ringkik kuda. Tak ada azan subuh. Hanya gemuruh. Sekejap, lalu senyap!
Gempa berkekuatan 6,7 pada skala Richter telah meluluh-lantakkan Bam, yang dihuni sekitar 100 ribu jiwa. Sampai pekan lalu, tak kurang dari 80 ribu jiwa meninggal. Setiap bangunan yang tegak, lumat mendebu. Televisi Iran menayangkan pemandangan mengerikan: jalanan sepi, semua bangunan rata dengan tanah, dan yang masih tegak cuma sebatang pohon kurma!
Sebagian besar bangunan di Bam—juga di kawasan Iran lainnya—terbuat dari campuran lumpur, rumput, serta dahan dan dedaunan kurma atau zaitun, tanpa tulang penguat. Maka bangunan tradisional—lazimnya dilengkapi ruangan bawah tanah, yang hangat di musim dingin dan sejuk di musim panas—amat gampang dirontokkan gempa meski hanya berkekuatan 5 pada skala Richter.
Iran, negeri mullah yang menyimpan berbagai warisan peradaban tinggi itu, memang akrab dengan gempa. Kawasan sebelah baratnya terutama, yang bergunung-gunung, terletak di lintasan patahan utama lempengan bumi. Bam adalah tragedi yang tak terkira. Namun bukan yang pertama. Pada 1968, gempa telah menyapu 12 ribu nyawa. Menyusul pada 1990 (50 ribu jiwa), 1999 (35 ribu jiwa), dan 2002 (229 jiwa).
Sampai pekan lalu, upaya pertolongan dan evakuasi korban masih dilanjutkan. Tenaga medis dan sukarelawan datang dari 30 negara, termasuk Indonesia. Ki-amat di kota tua itu menyuguhkan panorama yang mengerikan. Ratusan mayat bergelimpangan di jalan-jalan. Bau anyir meruap menusuk hidung. Rumah penuh sesak oleh manusia yang sekarat dan luka-luka. Para penggali kubur terenyak dalam kelelahan. Pelabuhan udara Bam disulap menjadi rumah sakit terbuka.
Nestapa di Bam bukan cuma milik warga Iran. Inilah kedukaan dunia yang tak terperikan; Bam menyimpan warisan peradaban purba, mencatat jejak-jejak sejarah dua milenium. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan beberapa bangunan tua di sana sebagai peninggalan budaya yang harus dilindungi. Terutama Benteng Arg-e-Bam, yang dibangun di zaman Dinasti Parthian (Arsacid), pe-nguasa Persia (Iran) dan Syam (Irak) sekitar tiga abad sebelum Masehi. Benteng antik yang memiliki 38 menara pengawas itu masih utuh—sebelum akhirnya lenyap oleh gempa pada akhir tahun lalu.
Di Bam, kuil Zoroaster dibangun se-kitar 600 tahun sebelum Masehi. Sembilan abad setelah Masehi, di atas kuil ini didirikan Masjid Jami oleh Ya'qub ibn al-Layth as-Saffar, pendiri Dinasti Saffarid. Dan makam Mirza Na'im, sufi besar yang hidup tiga abad silam, terbujur tak jauh dari masjid raya tersebut. Di sekitar zaman itu, Bam menjadi titik pertemuan antar-etnis. Letaknya strategis di tepi lalu lintas perdagangan "Jalan Sutra" yang tersohor di masa itu: dari Cina, Pakistan, dan India ke Eropa.
Kini dunia tak dapat lagi menyaksikan matahari senja dari menara Arg-e-Bam. Para pengembara Kurdi dan orang-orang Baluchis kehilangan panorama bintang-gemintang di langit malam gurun pasir Dasht-e-Lut.
Tak ada lagi khalwat yang khusyuk di makam Mirza Na'im, tak ada lagi Al-Husseini yang penuh haru mengumandangkan tarhim.... Semuanya berakhir di Bam, kembali kepada debu. Kehidupan cuma tersisa dalam sebatang pohon kurma.
Budiman S. Hartoyo
|