Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Ilmu dan Teknologi

Memotret Bumi dengan Presisi

Peta wilayah Indonesia masih mengacu ke peta peninggalan Belanda. Teknologi pemetaan sensor radar punya tawaran lebih murah dan akurat.

Pesawat Learjet itu menukik tajam. Dari kaca kokpit, daratan terlihat makin dekat. Bukit, pepohonan, sungai, semua bergerak cepat dan makin cepat. Lalu terdengar teriakan tertahan, "Crash..!" Tapi tak ada bola api, tak ada ledakan. Yang terdengar hanya ledakan tawa para undangan.

Simulasi pesawat di komputer tersebut adalah salah satu atraksi dalam peluncuran proyek NEXTMap di Hotel Sahid, Jakarta, pekan silam. Inilah sebuah proyek untuk memetakan daratan Nusantara dari pesawat. Citra digital berbentuk pepohonan, kontur bukit, dan sungai itu adalah salah satu contoh hasil pemetaan mereka setelah diolah di komputer.

Untuk menghadirkan kesan realistis, citra tersebut digabung dengan simulasi pesawat jet. Lalu, salah satu undangan diminta beraksi sebagai pilot, mengemudikan pesawat di atas daratan virtual. Hasilnya, maklum pilot dadakan, tentu saja crash.

Intermap, perusahaan yang mengelola proyek NEXTMap, memang spesialis pemetaan dari udara. Sukses memetakan wilayah Inggris Raya, mereka mulai menawarkan produknya ke Indonesia. Tanpa banyak publikasi, Intermap telah menyelesaikan tahap awal program pemetaan untuk wilayah timur Indonesia. Wilayah yang sudah mereka garap mencapai 244 ribu kilometer persegi. NEXTMap tahap kedua dijadwalkan selesai akhir 2004. Dalam proyek ini, wilayah seluas 156 ribu kilometer persegi akan dipetakan dalam skala 1 : 20.000. Ini meliputi wilayah Indonesia bagian tengah dan barat.

Untuk memetakan seluruh Indonesia, Intermap mematok waktu sekitar lima tahun. Ini target ambisius, karena membuat peta Sulawesi berskala 1 : 50.000 saja pemerintah Indonesia perlu waktu 10 tahun. "Kami bekerja sepuluh kali lebih cepat," kata Tono Saksono, Direktur Teknologi Exsa Internasional, perusahaan lokal mitra Intermap.

Hadirnya Intermap membuat Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang memakai teknologi interferometric synthetic aperture radar (IFSAR). Menurut Eric DesRoche, Vice President NEXTMap Program, teknologi andalan mereka sangat sesuai dengan alam Indonesia. "Di sini banyak kabut dan awan gelap. Bagi teknologi lain, ini hambatan. Bagi kami, ini sama sekali bukan masalah," katanya.

Intermap tahu persis bahwa Indonesia sangat butuh pemetaan dari udara. Apalagi dalam 30 tahun terakhir baru 30 persen wilayah Indonesia yang sudah dipetakan dengan rinci. Faktanya, menurut Tono, sampai saat ini masih banyak wilayah Indonesia mengacu pada peta-peta buatan Belanda.

Pemerintah Indonesia memang belum memutuskan apakah akan memakai produk Intermap atau tidak. Tapi, kalaupun tidak, pihak Intermap tetap akan beroperasi di sini. Mereka melihat potensi pasar pengguna produk IFSAR dari kalangan swasta, baik lokal maupun asing, yang memerlukan peta rinci Indonesia sangat besar. "Kita tetap jalan. Tapi, kalau hanya pihak luar yang membeli, patut disayangkan," ujar Tono.

Ditemukan tahun 1970-an, teknologi IFSAR memanfaatkan gelombang radio untuk menggambar dan mengukur kemiringan permukaan bumi. Caranya dengan menghitung waktu tempuh gelombang radio untuk merambat ke obyek di permukaan bumi dan waktu untuk kembali ke pusat sensor setelah dipantulkan oleh obyek. Perbedaan waktu itulah yang akan dibaca sebagai perbedaan kemiringan permukaan bumi. Teknologi ini menghasilkan dua produk inti: orthorectified radar image (ORI) dan digital elevation model (DEM).

Citra ORI adalah citra permukaan bumi yang telah dipoles. Warnanya mirip foto udara hitam-putih. Tapi, dengan teknologi digital, ORI menampilkan "bayangan" yang memberi kesan visual tentang kemiringan. Jika dilihat menggunakan kacamata tiga dimensi, bayangan itu akan tampak realistis, mirip seperti jika kita melihat daratan dari atas pesawat.

Untuk memetakan kemiringan (kontur) tanah dengan lebih akurat, yang dipakai adalah data DEM. Aslinya, gambar yang masuk tidak berbentuk kontur. Namun, dengan komputer, gambar tersebut dipoles dengan gradasi warna-warna pelangi. Untuk yang berwarna biru, itu berarti permukaan daratan terendah. Kemudian meningkat ke hijau, kuning, hingga merah yang mewakili permukaan daratan tertinggi.

Produk inti IFSAR telah dimanfaatkan untuk beragam keperluan. Di Inggris, citra IFSAR dipakai untuk memotret daerah aliran sungai wilayah timur Shrebury. Dari data ini, perusahaan Norwich Union menggabungkan ORI dan DEM untuk membuat peta genangan banjir.

Menurut Tono, teknologi IFSAR adalah kombinasi ketelitian, kecepatan, dan keringanan biaya. Karena memakai sensor radar aktif, IFSAR tak perlu sumber energi luar seperti sinar matahari. Ini tak dimiliki sistem lain yang memakai sensor optis atau opto-elektronis seperti foto udara dan citra satelit. Karena tergolong sensor pasif, sistem di luar IFSAR bergantung pada adanya sinar matahari. Jadi, jangankan di kegelapan malam, ada hamparan awan pun sistem lain tak bisa memotret dengan sempurna.

Akurasi teknologi IFSAR generasi terakhir juga sangat tinggi, hingga satuan sentimeter. Generasi ketiga teknologi synthetic aperture radar (SAR) yang dipakai Intermap, STAR-3i, telah menghasilkan citra ORI dengan presisi 1,25 meter dan data DEM dengan presisi 0,5 meter. "Kami bisa mengukur kemiringan tanah hingga setiap lima meter persegi," Tono memaparkan.

Ihwal kecepatan, IFSAR melampaui teknologi foto udara konvensional. Sekali jalan, radar IFSAR bisa menyapu permukaan bumi selebar 10 kilometer dan sepanjang 200 kilometer. Setiap menit, IFSAR bisa memotret wilayah seluas 100 kilometer persegi. Pengolahan data pun berjalan cepat. Untuk menghasilkan citra ORI dan DEM seluas 304 ribu kilometer persegi, IFSAR hanya perlu waktu seminggu. Untuk wilayah yang sama, pengumpulan dan pengolahan data sistem foto udara bisa memakan waktu sampai dua bulan.

Harga produk IFSAR juga terbilang murah. Intermap menjual ORI plus DEM seharga US$ 2,5 sampai US$ 20 per kilometer persegi, tergantung luas pesanan. Harga ini, menurut Tono, hanya 20 sampai 40 persen dari harga teknologi lainnya. Sebagai perbandingan, untuk jasa pengolahan citra satelit Ikonos saja, Space Imaging, saingan IFSAR, mematok harga US$ 132 per kilometer persegi.

Boleh jadi, IFSAR akan menjadi alternatif pemetaan udara yang akurat sekaligus murah. Menurut Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), Rudolf W. Matindas, kelebihan IFSAR adalah kemampuannya membuat peta udara tanpa tergantung kondisi cuaca. "Mudah-mudahan ini jadi awal sebuah revolusi dalam program pemetaan nasional," ujarnya.

Di luar semua kelebihan itu, IFSAR memiliki kelemahan. Seperti data radar umumnya, citra IFSAR tak berwarna alias hitam-putih. Ini terjadi lantaran IFSAR hanya memakai satu gelombang radio. Sedangkan sistem lainnya memakai kombinasi gelombang elektromagnetik yang bisa menghasilkan banyak warna. Karena kelemahan ini, menurut Tono, untuk menghasilkan peta digital tiga dimensi, IFSAR perlu bantuan citra satelit berwarna.

Toh, kelemahan itu bukan monopoli IFSAR. Untuk membuat peta berskala 1 : 2.500 sampai 1 : 15.000, citra Ikonos dan QuickBird, misalnya, perlu digabung dengan DEM beresolusi tinggi (kerapatan 5 meter) dan akurasi tinggi (0,5 meter sampai 3 meter). Data DEM serupa hanya bisa dipasok IFSAR atau padanannya, LIDAR (light detection and ranging). "Pada akhirnya, berbagai teknologi pencitraan hanya bisa saling melengkapi," ujar Tono.

Jajang Jamaludin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data