Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 47/XXXII/19 - 25 Januari 2004
   
Gaya Hidup

Jika Lidah Ingin Bertualang

Seni kuliner kian mendapat tempat. Jalan-jalan dan wisata mengeksplorasi makanan dan cita rasa pun makin diminati.

Jangan sebut diri kampiun pencinta seni kuliner jika Anda tak punya nyali menjajal makanan aneh. Umpamanya, "water" dari Minahasa, Sulawesi Utara, yang tak lain adalah sekawanan ulat yang muncul di jantung batang pohon sagu yang sudah ditebang. Ada dua cara menikmatinya: ulat dibakar lalu ditaburi sambal rica-rica, bisa juga disantap mentah-mentah ketika para ulat bertubuh montok sedang sibuk menggeliat.

Nikmat? Entahlah. Tampaknya butuh saraf baja untuk mencicipi water, yang merupakan santapan favorit masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia bagian timur ini. Tapi jangan risau, ada William Wongso, 54 tahun, pakar kuliner ternama yang membagi pengalamannya menikmati sang ulat. "Enak juga. Rasanya seperti santan mentah," kata William, yang dinobatkan sebagai satu dari enam dewa masak di kawasan Asia versi Asiaweek tahun 2001.

Bondan Winarno, wartawan senior yang juga pencinta kuliner sejati, punya pengalaman serupa. Suatu ketika, Bondan berkunjung ke sebuah pedesaan di Cina dan disuguhi kumbang kelapa yang digoreng garing. Bondan tercenung kaget, tak tahu harus diapakan kumbang berwajah mengerikan ini. Sampai akhirnya tuan rumah memasukkan kumbang goreng ke mulut dan mengeremusnya sampai lumat. "Dengan penuh keberanian, saya ikuti jejak tuan rumah," kata Bondan, "dan ternyata uenak tenan...!"

Begitulah, selaku pencinta seni kuliner, lidah harus selalu siaga menerima sensasi baru. "Justru sensasi kaget itu yang kita cari," kata Bondan. Para pemuja kuliner—segala sesuatu yang terkait dengan seni memasak—juga tak segan bertualang demi mengeksplorasi cita rasa, cara memasak, dan filosofi memasak di setiap kultur masyarakat.

Betul, lonjakan popularitas petualangan kuliner adalah keniscayaan bagi dunia modern. Dunia tak lagi punya batas gamblang. Taraf ekonomi meningkat dan diiringi pergerakan hebat industri makanan. "Dua atau tiga dekade lalu kita harus puas dengan masakan ibu atau istri di rumah," kata Bondan. Tapi sekarang kita leluasa makan di warung di emperan toko, kafe yang nyaman, sampai restoran mahal.

Sementara itu, kehidupan dunia makin jauh dari segala hal yang seragam. Seperti juga musik, seni kuliner pun mengalami percampuran dan saling-silang budaya. Buktinya, "Fusion cuisine kini sedang jadi tren di restoran kelas wahid," kata William Wongso. Para juru masak papan atas bereksperimen memadukan dua atau tiga gaya memasak sekaligus dalam satu hidangan. Contohnya, steak daging sirloin gaya New York yang diperkaya bumbu ala Indonesia, atau bebek liar panggang ala Virginia yang disajikan dengan kuah kari India.

Nah, dengan segala percampuran ini, wisata kuliner menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Para pencinta kuliner dan penikmat makanan (gastronom) berusaha saling belajar, mengeksplorasi, dan memahami aneka ragam budaya.

Pada level dunia, wisata kuliner adalah industri yang ditangani dengan serius. Survei yang mendalam mesti dilakukan dua atau tiga tahun sebelum acara resmi digelar. Maklum, banyak hal mesti disiapkan demi memuaskan para pencinta kuliner yang haus petualangan.

Dua tahun lalu, misalnya, William mengikuti tur ke Vietnam bersama Institut Kuliner Amerika, yang bermarkas di Pennsylvania. Tur dua minggu dengan biaya US$ 4.700 (tidak termasuk tiket pesawat) ini betul-betul sarat aktivitas masak-memasak di kota-kota Vietnam, yakni Saigon, Hoi An, Hue, Hanoi, dan Halong Bay. Puluhan peserta dari berbagai negara diajak blusukan menjelajah satu desa ke desa lain untuk menyaksikan pembuatan pho atau mi kuah. Mereka juga belajar memasak kulit lumpia (banh trang), babi panggang (bun cha), dan aneka masakan dari ikan segar.

Bagaimana dengan Indonesia? Wisata kuliner memang mulai bermunculan di negeri ini. Beberapa majalah wanita tercatat pernah menggelar tur kuliner ke Bangkok (Thailand), Shanghai (Cina), dan Florence (Italia). Hanya, perjalanan yang digelar panitia lokal ini cenderung kurang persiapan matang. Aktivitas tur masih didominasi acara belanja barang bermerek di butik-butik mahal, yang tak ada kaitan sama sekali dengan eksplorasi kuliner. "Itu sebabnya saya malas ikut tur macam ini," kata Ambarini Kartohadiprojo, penulis serial buku kue-kue kering terbitan Gramedia.

Tapi, jangan dulu berkecil hati. Belakangan muncul model wisata kuliner yang tidak sekadar mengandalkan peran event organizer. Aktivitas yang lebih bersifat perkawanan ini dimunculkan oleh para penggila makanan yang menjadi anggota klub Jalansutra. Nama ini bukan merujuk pada silkroad yang ada di Cina masa lalu. Kata sutra diadaptasi dari bahasa Sanskerta yang berarti panduan, sehingga Jalansutra adalah panduan jalan-jalan.

Klub ini bermula dari kolom "Jalansutra" yang ditulis Bondan, yang dimuat teratur di Kompas Cyber Media (KCM). Sejak awal dirilis dua tahun lalu, kolom ini selalu mendapat respons gencar dari para pembacanya. Saking bersemangatnya, para penggemar Jalansutra merasa perlu berhimpun dalam sebuah milis demi komunikasi yang lebih intensif. Anggota klub ini pun terus bertambah dan saat ini telah mencapai 1.200 orang yang tersebar di dalam dan luar negeri.

Lazimnya sebuah klub, Jalansutra punya sederet kegiatan. Ada kopi darat membincangkan aneka soal kuliner: makan di restoran yang jadi buah bibir di kalangan pecandu makan enak, mengobrol sambil menyeruput kopi, mencicip anggur oleh-oleh kawan dari luar negeri, masak bareng, kursus etiket jamuan makan, atau jalan-jalan ke pasar mencari bumbu langka.

Selain eksplorasi kedai jalanan di Jakarta dan sekitarnya, Jalansutra juga tak lupa merancang program wisata yang lebih serius. Oktober lalu, 20 anggota klub ini meluncur selama tiga hari ke Bali dengan ongkos Rp 1,7 juta per orang. Di sana mereka bertamasya menikmati aneka makanan khas Bali semisal sate lilit, ayam betutu, sambel matah, lawar ijo, sayur paku, telor rebus bumbu bali, dan perkedel teri.

Sembari lidah terus beraksi mencecap, para peserta asyik menyimak Bondan Winarno, pemandu tur, yang sibuk mendeskripsikan cara memasak, filosofi, dan bagaimana kerumitan penyajian sederet makanan tersebut. "Kami jadi puas banget dan jadi lebih menghargai makanan," demikian Paramita Wikansari, panitia tur, berkomentar.

Kepuasan makin mendorong anggota Jalansutra untuk merancang perjalanan-perjalanan berikutnya. "Anda boleh gabung, lo," ujarnya mengundang.

William Wongso dan Bondan Winarno sepakat bahwa acara jalan-jalan ala Jalansutra makin dibuat gencar. "Terutama dengan tujuan dalam negeri," kata Bondan. Surabaya, Semarang, Yogya, Padang, Medan, sekadar menyebut contoh, adalah gudang makanan daerah yang bisa dikemas dalam bentuk paket menarik. Kemasan yang pasti ampuh untuk menggelindingkan roda industri pariwisata. "Kita ini ndak kalah kok dibanding Thailand, Vietnam, dan India," kata Bondan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data