Rekor Baru Napas Lama Sentimen musiman memicu indeks naik ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini diramal paling lama bertahan tiga bulan. |
Di bursa Jakarta, virus krisis seperti telah punah. Sepanjang pekan lalu, aksi beli saham berlangsung marak. Saat penutupan perdagangan Jumat, indeks harga saham gabungan (IHSG) menjejak angka 770,334.
Itu merupakan penajaman dari rekor tertinggi yang terukir pada hari yang sama seminggu sebelumnya, ketika indeks meroket hingga 753,69. Pada saat itulah posisi indeks melewati 740,83, rekor tertinggi yang pernah tercapai pada 8 Juli 1997. Pemecahan rekor di awal tahun itu disambut dengan kor senada oleh para pelaku pasar. ”Ini January effect,” seru mereka.
Istilah itu mengacu pada fenomena bergairahnya para investor untuk membeli saham di bursa yang biasa terjadi sepanjang Januari.
Investor bersemangat memborong saham karena mereka tidak mau ketinggalan posisi saat laporan keuangan perusahaan publik muncul, yang biasanya terjadi sekitar Februari-Maret. Jangan lupa, laporan keuangan merupakan salah satu bahan untuk penilaian kinerja saham secara fundamental.
Selama sepuluh tahun terakhir, Bursa Efek Jakarta memang terlihat lebih atraktif pada bulan Januari. Hanya pada tahun 2000 dan 2003, indeks di bulan Januari lebih rendah dibandingkan dengan indeks penutupan akhir tahun. Besar kemungkinan efek Januari kalah pamor dibandingkan dengan sentimen negatif yang muncul pada waktu itu.
Pada tahun 2000, misalnya, perdagangan saham selama Januari mati angin gara-gara kencangnya isu tentang kudeta terhadap kepemimpinan Abdurrahman Wahid. Kerunyaman di dalam negeri meningkat dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat, yang mengerek naik suku bunga hingga sebesar 0,5 persen.
Efek Januari juga alpa mengunjungi bursa pada awal tahun 2003. Para investor tak terangsang menggelontorkan uang mereka ke bursa karena pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, tarif listrik, dan tarif telepon.
Sebagaimana lazimnya di bursa Jakarta, setiap kali indeks terayun naik pasti dikaitkan dengan gelombang uang dari kantong investor asing. Kali ini peran mereka tak luput disebut. ”Saya lihat memang ada uang investor asing yang masuk,” ujar Martin Panggabean, ekonom di Bank Mandiri.
Hingga akhir perdagangan Rabu kemarin, nilai pembelian bersih (net buying) investor asing sudah mencapai Rp 1,3 triliun. Rekor pembelian selama dua pekan itu terhitung fantastis jika dibandingkan dengan nilai pembelian asing sepanjang tahun lalu, yang hanya Rp 6 triliun.
Anehnya, nilai pembelian sebesar itu tidak melongsorkan nilai tukar dolar di pasar uang Jakarta secara signifikan. Jika dibandingkan dengan kurs dolar di akhir tahun 2003 (Rp 8.410 per dolar AS), pembelian saham besar-besaran oleh investor asing hanya mengakibatkan dolar melemah Rp 56 menjadi Rp 8.354 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu.
Selain permintaan dolar yang memang meningkat, tren penurunan suku bunga bank domestik yang terus berlanjut merupakan faktor utama yang patut disebut. Terakhir, Bank Indonesia memangkas suku bunga Sertifikat Bank Indonesia berjangka sebulan sebesar 0,18 poin menjadi 8,06 persen. ”Saat ini perhatian utama investor asing memang soal suku bunga,” ujar Anton Gunawan, ekonom Citibank.
Di kala produk perbankan kehilangan daya pikat, wajar jika investor asing berpaling ke produk pasar modal. Dan di antara sekian deret produk investasi yang dijajakan, sahamlah yang paling memikat. Reksadana, yang dalam setahun terakhir sempat menjadi pesaing, terpuruk karena perdebatan panjang soal penghitungan nilai aktiva bersih. Pengujung tahun lalu menjadi saksi dari pencairan besar-besaran reksadana. Pada bulan September dana yang dihimpun reksadana lebih dari Rp 95 triliun, tapi pada bulan November turun menjadi Rp 88 triliun.
Di sisi lain, harga saham-saham lokal masih menggoda dibandingkan dengan saham made in luar negeri. Indikator yang paling mudah untuk menguatkan penilaian itu adalah price to earning ratio (PER), yaitu rasio perbandingan antara harga saham dan pendapatan perusahaan.
Para analis sepakat rata-rata PER saham yang dijual di bursa saham Jakarta masih berkisar 8 kali, jauh di bawah rata-rata di bursa saham lainnya di Asia, yang berkisar 15 kali. Artinya, saham-saham di BEJ masih tergolong murah dan masih berpotensi untuk menguat.
Kebetulan pula, akhir tahun lalu muncul sinyalemen dari para juragan uang kaliber dunia untuk kembali menggelontorkan modal mereka ke kawasan emerging market. Meski Indonesia tergolong nomor buncit di kelas ini, ”Cipratan uang mereka pasti sampai juga ke sini,” ujar Edwin Sinaga, analis PT Kuo Capital Rahardja.
Selain karena kelaziman di perdagangan awal tahun, Martin menyebut hajatan pemilihan umum sebagai faktor musiman yang mengangkat indeks. Pemilu memang sering diidentikkan dengan ketidakpastian ekonomi. Tapi, di bursa, menjelang pemilu justru merupakan saat adrenalin perdagangan tinggi.
Apa itu berkaitan dengan proyek partai politik tertentu yang ingin menghimpun dana melalui bursa saham? Tak ada yang tegas mengiyakan. Satu yang pasti, menjelang pemilu, kebutuhan dana untuk aktivitas politik meningkat. ”Nah, dana yang paling cepat dari mana, sih? Ya... dari menggoreng saham,” kata seorang pialang dari perusahaan sekuritas lokal.
Terlepas dari itu, napas penguatan indeks saat ini memang lebih karena siklus musiman. ”Soalnya, secara fundamental, tak ada perbaikan kinerja keuangan emiten yang mencolok,” ujar seorang analis yang menolak disebut namanya. Maka tak aneh kalau para analis kemudian ragu penguatan indeks saham dapat bertahan lama. ”Paling lama mungkin tiga bulan,” ujar Martin.
Thomas Hadiwinata
|