|
Nasib raksasa tekstil dan alat-alat berat, Grup Texmaco, kian tak menentu. Pelbagai belitan utang membuat pembeli ogah mendekatinya. Buktinya, penjualan aset Texmaco oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang ketiga kalinya lagi-lagi sepi peminat. Hingga batas akhir penutupan program penjualan aset kredit tahap keenam, Senin pekan lalu, tak satu pun investor yang mengajukan penawaran.
Utang yang ditanggung Texmaco memang kepalang berat. Grup milik Marimutu Sinivasan itu punya utang kepada BPPN sebesar Rp 29,04 triliun, utang kepada kreditor asing US$ 1,4 miliar, tunggakan kredit perdagangan atau letter of credit kepada BNI sebesar US$ 89 juta, dan tunggakan pajak, listrik, dan gas negara sekitar US$ 52 juta.
Nasib Texmaco akan ditentukan setelah hasil penawaran itu dilaporkan kepada Komite Kebijakan Sektor Keuangan. Rencananya, Departemen Keuangan kelak akan menangani grup bermasalah itu bersama sisa aset kredit lainnya begitu BPPN bubar, 27 Februari mendatang.
|