Islam Datang dari Cina? Selama ini berkembang dua teori: Islam di Nusantara berasal dari Arab atau India. Tenggelam akibat pelapukan sejarah. |
ARUS CINA-ISLAM-JAWA: Bongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI
Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Penerbit: Inspeal dan Perhimpunan INTI, Yogyakarta, 2003, Tebal: 313 halaman
BUKU ini dapat menimbulkan "revolusi mental" di kalangan umat Islam karena mengubah pandangan yang tertanam sekian lama. Pertama, Islam yang berkembang di Nusantara berasal dari Negeri Cina. Kedua, Wali Songo yang mengembangkan Islam di Pulau Jawapaling tidak sebagianadalah orang Tionghoa. Selama ini ada dua teori tentang jalur pengembangan agama Islam, yaitu melalui Jazirah Arab (Hadramaut) atau India (Gujarat).
Nurcholish Madjid melihat kecocokan "teori Cina" itu dari segi mazhab dan kebahasaan. Mazhab yang berkembang di Cina adalah Sunni-Syafii, yang umumnya dianut kaum muslim se-panjang "jalur sutra". Umat Islam Asia Tengah dan Cina berada dalam kawasan pengaruh bahasa dan budaya Islam Persi. Dapat dikatakan, Islam datang ke Nusantara dari daratan Cina paling tidak dalam suatu fase tertentu perkembangan di kawasan Asia Tenggara.
Hasil penelitian Sumanto, sarjana Syariah IAIN Walisongo, Semarang, dan lulusan program S-2 Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana ini penting karena mencoba memasukkan etnis Tionghoa sebagai bagian dari umat (Islam). Ini salah satu upaya menghilangkan sentimen anti-Cina yang berakar di Tanah Air. Kenapa bila ada kerusuhan di Pekalongan, misalnya, yang jadi sasaran adalah etnis Tionghoa, bukan Arab? Karena etnis Arab dianggap bagian dari umat, sedangkan Tionghoa bukan bagian dari umat (orang asing, out-group).
Dalam persepsi Jawa, Tionghoa itu berwajah Konghucu, sedangkan wajah Cina Islam tenggelam akibat pelapukan sejarah. Padahal Wali Songopaling tidak sebagianyang berjasa mengembangan Islam di Pulau Jawa berasal dari etnis Tionghoa. Selain itu, percampuran budaya Cina-Islam-Jawa itu telah berproses berabad-abad. Keberadaan identitas sino Javanese muslim culture perlu disampaikan kepada masyarakat. Etnis Tionghoa bukanlah konsep tunggal atau monolitik, melainkan memiliki banyak wajahdi antaranya muslim.
Meskipun tidak disinggung dalam buku ini, jasa etnis Tionghoa dalam pengembangan iptek dan kuliner juga perlu disosialkan secara keseluruhan. Diharapkan hal ini dapat menimbulkan pengertian dan saling meng-hormati. Ada empat nebula (mega-budaya), yaitu India (Hindu-Buddha), Arab (Islam), Cina dan Eropa (Kristiani), yang mempengaruhi budaya lokal di Nusantara.
Sesuai dengan urutan kedatangannya, pada lapisan paling dalam "struktur mentalitas" masyarakat Indonesia sekarang terdapat pengaruh India, pada lapis berikutnya Arab (Islam) dan Cina. Yang paling atas adalah Eropa/Kristiani. Jadi, seorang yang berdasi dan lulusan universitas, doyan makan bakmi, beragama Islam, dan sering memberikan sesajen serta percaya kepada takhyul adalah pribadi yang lahir dari berbagai pengaruh nebula budaya itu.
Buku ini mengandung beberapa kelemahan. Penulisnya tidak menggunakan sumber berbahasa Cina kecuali beberapa catatan yang telah disalin oleh Groeneveldt (1960) ke dalam bahasa Inggris. Banyak dikutip karya Slamet Mulyana (1968) dan Parlindungan (1964), yang keduanya sama lemah dalam kesahihan sumber. Selain itu, dalam buku ini banyak ditemui istilah yang anakronistis.
Pada abad XV dan XVI belum dikenal istilah seperti "ekspatriat permanen" atau "negeri Paman Mao". Penulis menyebut Raden Patah sebagai "CEO umat Islam"istilah yang sebetulnya relatif sangat baru di dunia usaha. Patut dipertanyakan pula apakah benar misi pelayaran Laksamana Cheng Ho abad XV (seperti dikutip Sumanto dari Slamet Mulyana dan Parlindungan) memiliki hidden agenda, yaitu pengembangan agama Islam. Lumrah bila dalam ekspedisi itu terdapat pelaut muslim, karena negeri yang dikunjunginya sebagian berpenduduk Islam.
Terlepas dari kekurangan di atas, penerbitan buku ini patut dihargai karena memiliki mission sacrée, yaitu me- nampilkan jasa etnis Tionghoa dalam peradaban nasional kita, yang pada gilirannya dapat menumbuhkan rasa saling menghargai sebagai komponen bangsa. Dari segi keilmuan, tesis yang dikemukakan Sumanto Al Qurtuby menantang ilmuwan lain untuk memperkuatatau mengritiknya.
Asvi Warman Adam, Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
|