Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/XXXII/12 - 18 Januari 2004
   
Nasional

Caleg Depresi ala Buku Teks

Tujuh caleg di Boyolali terancam gugur tak lulus uji kesehatan jiwa. Tapi hasil uji itu dianggap terlalu berpedoman pada buku teks.

BAMBANG Sutopo terperanjat bukan kepalang. Untuk beberapa saat ia tak kuasa berkata-kata. Kepala Desa Sambon, Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah itu tegas bersaksi bahwa Sumardi sebagai bawahannya tak pernah menampakkan perilaku aneh. Sebagai petugas pembantu pencatat nikah di KUA Banyudono, Sumardi juga tak pernah berbuat salah atawa bertindak neko-neko.

"Maksudnya kelainan jiwa itu yang bagaimana, to? Dia tidak gila, kok," kata Bambang kepada TEMPO sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Semua warga Sambon pun mengenal Sumardi sebagai pria supel dan rajin, sehingga mereka tak heran jika pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menempatkan dia sebagai calon anggota legislatif nomor 3 untuk daerah pemilihan Boyolali III. Kalaupun ada yang tak jamak bagi mereka, hingga kini Sumardi, 40 tahun, belum juga beristri. Tapi, "Nikah kan soal jodoh, bukan soal perilaku atau mental," kata adik Sumardi, yang tak mau namanya dikutip.

Sumardi adalah satu dari 24 caleg yang dikabarkan tak lulus uji kesehatan di Boyolali. Kabar itu semula diembuskan Sekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Boyolali, Roni Budi Santosa, Kamis dua pekan lalu. Ia mengaku mendapat informasi dari sumbernya di RSUD Boyolali. Mereka lantas direkomendasi memeriksakan diri ke psikiater di RS Jiwa Klaten. Ketua KPU Boyolali, Purwanto, langsung meminta para caleg mengikuti rekomendasi itu. Hasilnya, tujuh orang dinyatakan tetap tidak lolos alias mengalami gangguan kejiwaan. Tapi tak ada penjelasan terperincinya. "KPU tak mendapatkan tembusan hasil diagnosis," kata Purwanto.

Secara umum Kepala RSUD Boyolali, Yulianto Prabowo, hanya menyatakan pihaknya menemukan indikasi kemung- kinan para calon wakil rakyat itu me- miliki gangguan kejiwaan, yakni berupa skizofrenia dan antisosial. Meski baru taraf gejala, katanya, secara teoretis para penderita skizofrenia biasanya mengalami gejala seperti mendengar suara dari dalam dirinya, yang tidak didengar oleh orang lain. Atau meyakini orang lain tengah membaca dan mengendalikan pikiran mereka. "Ucapan dan perilaku mereka sangat tidak beraturan sehingga kerap menakutkan orang yang berada di sekitarnya," kata Yulianto.

Para pengurus partai politik umumnya menolak membeberkan identitas kader mereka yang tak lulus uji kesehatan rohani itu. Hanya Abdul Rouf, Wakil Sekretaris PKB cabang Boyolali, yang bersedia menyebut nama kadernya. Dialah Sumardi, B.A., yang sehari-hari mengajar di sebuah SLTP swasta, dan Sumardi yang itu tadi. Sumardi yang BA menjadi caleg pada nomor urut 7 di daerah pemilihan I. "Kalau dari surat keterangan dokter, mereka mengalami kecenderungan depresi," kata Rouf.

Ketua PKB Boyolali, Jamal Yazid, mengaku sudah bertemu dengan kedua caleg tersebut dan tim dokter. Kepada dia, dokter menyampaikan, dari hasil tes, kedua kadernya itu terindikasi tidak bisa diajak berpikir dan bekerja berat. "Dikhawatirkan, kalau berpikir keras akan depresi," kata Jamal, mengutip penjelasan dokter. Hanya, kolega Jamal dari PDI Perjuangan, Probo Suhartono, meragukan akurasi hasil uji ini. Jika para caleg itu diperiksa ulang oleh tim dokter dari rumah sakit lain, dia percaya hasilnya akan berbeda. "Jadi, mereka jangan dicurigai dan dikatakan menderita kelainan jiwa," katanya.

Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar psikologi sosial Universitas Indonesia, menilai kesimpulan tim dokter RSUD Boyolali maupun psikiater yang memeriksa para caleg terlalu berpedoman pada text book, sehingga bias. Dia menduga analisis dan kesimpulan yang dibuat hanya merujuk pada buku panduan teknis semacam DSM-MD (Diagnostic Statistical Manual for Mentally Disorder). Padahal, di Amerika Serikat buku itu sudah banyak dikritik. Untuk sampai pada kesimpulan bahwa seseorang mengidap skizofrenia, menurut Sarlito, psikolog biasanya juga me- wawancarai anggota keluarga dan orang-orang dekat si pasien. Kalau soal depresi? "Siapa sih sekarang ini yang tidak begitu?" Sarlito menukas.

Sudrajat dan Imron Rosyid


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data