Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004
   
Sastra

Godam Beraksi Sampai Mati

Seorang komikus berkarya hingga akhir hayat. Ia mewariskan Godam, pahlawan pemberantas kejahatan.

SEPEKAN menjelang fajar tahun baru 2004, Rumah Budaya Tembi, di Bantul, Yogyakarta, menggelar pameran komik. Tak tanggung-tanggung, pameran berlangsung tiga minggu sampai 17 Januari 2004. Beberapa peminat komik masa kini mungkin masih ingat komikus Widodo Nur Slamet, yang lebih dikenal sebagai Wid N.S. Itu sebabnya karyanya digelar untuk mengingat kejayaan industri komik lokal di era 1970-an hingga 1980-an. Ketika itulah sejumlah nama komikus muncul: Yan Mintaraga, Teguh Santoso, Ganes T.H. (Si Buta dari Goa Hantu), Hans Jala-Jala (Panji Tengkorak), Hasmi (Gundala Putra Petir).

Tragisnya, beberapa jam sebelum pameran dibuka, Wid N.S. meninggal pada usia 65 tahun. Tak salah jika disebut Almarhum merupakan sisa komikus di era itu yang masih berkarya—hingga akhir hayat—justru ketika komik lokal tersapu bersih oleh komik impor. Tak kurang dari 25 lembar karya Wid N.S. yang dilukis di kertas ukuran HVS dipamerkan, beberapa di antaranya karya asli. "Memang tak banyak karya asli Mas Wid yang masih tersisa," ujar Ons Untoro, koordinator Rumah Budaya Tembi. Hanya ada beberapa lembar karya seri Godam. Selebihnya karya pasca-1980-an yang umumnya komik strip untuk koran. Untung masih ada beberapa buku komik seri Godam—meski sudah kusam dan tak lengkap—yang dipa- merkan dalam kotak kaca, seperti Tirani Biru di Negeri Godam, Black Magic, Sang Kolektor, Bocah Atlantis, Mentjari Djedjak Majat, Doctor Setan, Mata Sinar X Godam.

Almarhum dikenal terutama berkat seri si Godam. Bacalah, misalnya, gayanya dalam Godam, Doctor Setan: "He! Aku mendengar tembakan tiga kali! Berarti Profesor dan jang lainnja ada dalam bahaja. Aku harus menolongnja! Akan kupakai tjintjin adjaib ini!" Bimsalabim, ketika Awang menyorongkan cincin ke jari manis asap tebal segera menyelimuti tubuhnya. Saat asap lenyap, bukan Awang lagi jang berdiri disitu, melainkan djagoan kita jang cukup menggemparkan dunia: GODAM!

Awang adalah pemuda sopir truk jarak jauh yang menjelma jadi pahlawan pemberantas kejahatan. Ia muncul dengan baju besi berlogo G berbentuk segitiga bersayap. Baju besi itu membuat Godam kebal peluru, tenaganya pun berlipat ganda. Tinju berbalut sarung tangan mengepal bertenaga godam, kaki kukuh ber- sepatu bot nyaris menyentuh dengkul, jubah licin kaku. Jubah yang terbuat dari bendera pusaka suku Zelu itu membuat tubuh Godam seringan kapas hingga mampu melesat mengejar pesawat jet.

Ketika diciptakan pada 1969, Godam menjadi "bacaan wajib" para remaja saat itu. Ketika itu di Amerika Serikat orang sedang demam Superman. "Mas Wid menciptakan Godam, saya menciptakan Gundala Putra Petir," ujar komikus Hasmi, sobat Almarhum. Wid N.S. memang piawai melambungkan fantasi pembaca dengan memasukkan aspek ilmu dan teknologi. Godam, misalnya, dipertemukan dengan penduduk benua yang hilang Atlantis dalam seri Aquanus; meluncur dengan roket ke planet Thalezer; bentrok dengan Doctor Setan, si pencipta robot.

Mula-mula Wid N.S. menciptakan tokoh Aquanus, si manusia air, pada 1969. Namun, sukses baru ia raih setelah si Godam lahir. Dengan judul berbeda, komik Godam yang diterbitkan beberapa seri laku keras. Meski terinspirasi oleh tokoh Superman, Godam adalah rekaan asli Wid N.S. Tokoh Awang mendapat kesaktian lewat "tjintjin adjaib" pemberian "roch sutji" berupa orang tua berpakaian serba putih. Sedjak dia mempunjai tjintjin adjaib itu, dia (Awang) sangat ditakuti pendjahat, karena dimana kedjahatan timbul Godam selalu menumpasnya, demikian ditulis Wid N.S. dalam seri Doctor Setan.

Godam muncul dengan sosok tubuh berciri Asia. Rahangnya persegi, mulut agak lebar, ototnya tak menonjol berlebihan. Awalnya, Godam tak mengenakan celana pendek ketat, sarung tangan, dan sepatu bot. Dalam seri Tirani Biru di Negeri Godam, misalnya, tokoh populer itu hanya mengenakan cawat dan sepatu bertali tanpa sarung tangan. "Inilah Godam yang berciri Melayu," ujar Wid N.S. sebagaimana dituturkan oleh komikus Hasmi.

Zaman berputar, selera konsumen komik pun berubah. Mereka tak lagi tertarik adegan baku silat yang pernah jadi pakem komik Indonesia. Juga tak bersemangat menikmati komik cerita sejarah karya Wid N.S. macam Perang Diponegoro. Semuanya dilibas komik impor. Maka, satu per satu komikus lokal tumbang. Atau beralih profesi. Tapi Wid N.S. bertahan. Bahkan hingga akhir hayatnya, beberapa jam sebelum pameran retrospeksinya dibuka.

Raihul Fadjri


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data