Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004
   
Perilaku

Kesurupan Berseri di Pedungan

Puluhan murid satu sekolah di Bali kesurupan berulang-ulang. Gejala psikologis atau fenomena gaib?

Belum selesai lagu Di Sana Senang di Sini Senang, tiba-tiba teriakan keras terdengar dari ruangan kelas VI Sekolah Dasar No. 3 Pedungan, Denpasar, lalu disambung jeritan para murid. Rupanya, Ni Putu Masrini Erawati, wali kelas yang sedang memimpin lagu saat itu, sontak menggelepar di lantai dan meliuk bak seekor macan lapar. Guru berusia 37 tahun itu lalu dilarikan ke pura padmasana di lingkungan sekolah. Karena belum sadar, akhirnya ia dilarikan ke Pura Parerepan Dewa Bagus dan Dewa Ratu Ayu di Banjar Angkansari, yang berseberangan dengan sekolah itu. Dalam keadaan tak sadar itulah mulut Masrini berkomat-kamit, minta dibuatkan upacara penyamleh siap selem (ayam hitam), telur ayam mentah, dan sesaji lima warna.

Sebelum Masrini, murid-murid sekolah itu sudah terserang kesurupan. Senin dua pekan lalu, 20 orang menjadi korban. Esoknya empat korban, dan terakhir, esoknya lagi, 50 siswa. Sebagian besar siswa yang kesurupan menari-nari sambil berteriak-teriak layaknya pemeran rangda dalam tarian calon arang.

Namun yang lebih dahsyat terjadi besoknya lagi. Kamis pagi dua pekan lalu itu, semua siswa yang sebelumnya kesurupan dikumpulkan, lalu diberi tips menghindari kesurupan, dengan cara tidak melamun. Katanya, roh sering masuk ke pelamun yang pikirannya sedang kosong. Semua siswa lalu masuk kelas masing-masing. Cuma beberapa menit kemudian, teriakan keras pecah dari kelas VI. Di situ, dua siswa kesurupan dan menular kepada yang lain.

Mereka kemudian dibawa ke padmasana untuk disembuhkan, sedangkan yang sehat dibiarkan menyanyi dan menari agar tak terpengaruh. Masrini mengajak anak-anak menyanyi. "Tapi tiba-tiba pandangan mata saya berkunang-kunang dan gelap, lalu saya tak sadar lagi apa yang saya lakukan," katanya. Ketika sadar, ia mendapat cerita baru saja bertingkah seperti harimau. Akibatnya, pakaiannya kotor dan berlepotan. Hari Minggu pekan lalu, setelah dilakukan permohonan ampun di pura setempat, kesurupan tidak lagi menghantui sekolah itu.

Di Bali sering terlihat orang kesurupan saat upacara adat, tapi yang massal jarang sekali terjadi. Orang Bali menyebutnya kerauhan atau kemasukan roh. Menurut versi Bali, roh yang masuk biasanya roh batara dari pura tertentu atau roh leluhur. Dari ceracau para penderita kesurupan, penyebab utamanya adalah kekurangan sesajen saat upacara adat atau keluarga almarhum masih punya utang janji dan kesalahan yang belum ditebus. Dengan percikan air suci, kesurupan umumnya bisa sembuh.

Psikolog Lely Setyawati dari Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, mengatakan, kerauhan termasuk gejala psikologis, yakni gangguan disosiatif, saat orang lepas dari realitas sehari-hari. Gejala ini dimulai dengan perasaan cemas yang kuat. Menurut Lely, tidak semua orang bisa mengungkapkan rasa cemasnya. Normalnya, orang cemas mengeluarkan keringat, gugup, atau grogi. Tapi yang abnormal akan menekannya ke alam bawah sadar, dan itu bisa muncul secara tiba-tiba. "Kecemasan itu bisa ditularkan secara massal," katanya.

Ia mencontohkan bahwa rasa takut, terhadap setan misalnya, bisa menular dengan cepat. Tapi kerauhan, kata Lely, bukan penyakit kejiwaan yang parah. Sebab, masih ada depresi dan skizofrenia, tingkat kecemasan yang benar-benar sudah akut. Saat kesurupan, seseorang tetap sadar, tapi fokus otaknya menyempit hanya pada satu hal, untuk mengurangi kecemasan. Sering mereka menjatuhkan diri atau bertingkah aneh supaya merasa lega. Ia mencontohkan, di bagian gawat darurat Rumah Sakit Sanglah, pasien sering menderita gejala kesurupan, sebagai pelepasan dari rasa malu atau tertekan karena penyakitnya.

Tentang pendapat masuknya roh batara, menurut Lely, itu merupakan hal yang wajar karena kesurupan sering dihubungkan dengan kepercayaan masyarakat setempat. "Hal itu ada pada semua kepercayaan dan agama," katanya. Usaha sugesti yang dilakukan kepala sekolah sebelum kerauhan itu, menurut Lely pula, menunjukkan adanya masalah kejiwaan yang serius di lokasi itu dan harus ditangani. Cuma, ia tetap tak bisa menjawab apa yang kira-kira menjadi penyebab kecemasan kolektif puluhan siswa dan guru di sana.

I G.G. Maha Adi, Rofiqi Hasan (Denpasar)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data