Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004
   
Iqra

Sebuah Teka-teki Tak Berjawab

Untuk pertama kali, sebuah novel dicalonkan untuk mendapatkan Penghargaan Whitbread untuk tiga kategori sekaligus: anak-anak, remaja, dan dewasa. Novel The Curious Incident of the Dog in the Night Time karya Mark Haddon adalah sebuah novel yang menyajikan seorang anak penderita autisme yang menyedot perhatian para pencinta buku. Berbagai pujian dialamatkan ke sang penulis, seorang dosen penulisan kreatif di Oxford University, London, Inggris. Buku ini mengisahkan dunia sepi Christopher, 15 tahun, bocah penyandang autisme. The Curious tergolong istimewa karena tak ada sepatah pun kata yang berbau autisme di dalamnya. Haddon menampilkan jagat asing si bocah melalui bahasa tutur yang langsung tanpa metafora. Jurus "show it don't tell it" menjadikan buku ini orisinal dan jauh dari klise. Sebuah prestasi yang layak diapresiasi mengingat austime sampai sekarang masih diakui sebagai enigma, teka-teki paling memusingkan bagi dunia kedokteran. Buku ini juga menarik karena keingintahuan akan autisme tengah menggelegak di mana-mana. Terbitnya buku-buku tentang kelainan ini sangat membantu terbangunnya pemahaman lebih baik. Ikuti perjalanan TEMPO sehari bersama penderita autisme.

NAMANYA Christopher Francis Boone. Dia hafal semua nama negara di seluruh dunia beserta ibu kotanya. Dia amat mengagumi bilangan prima dan sanggup mengurutkannya sampai angka 7.075. Remaja tanggung 15 tahun ini masih punya keunikan lain. Lima mobil merah berjajar di jalanan adalah sebuah pertanda hari bakal cerah. Sebaliknya, empat mobil kuning yang melintas adalah isyarat buruk. Seharian Christopher tak mau makan, minum, dan tegang menanti peristiwa buruk yang segera datang menyusul mobil kuning.

Sosok Christopher memang sekadar khayalan. Dialah tokoh utama The Curious Incident of the Dog in the Night Time, buku fiksi karya Mark Haddon, penulis dan juga dosen penulisan kreatif di Oxford University, London, Inggris. Begitu diterbitkan, pertengahan tahun 2003 ini, buku setebal 226 halaman ini sontak menyedot perhatian para kampiun penulis kelas dunia. Arthur Golden, penulis novel laris Memoir of Geisha, misalnya, menganjurkan agar Anda membeli buku ini dua eksemplar sekaligus. Supaya ada cadangan kalau ada satu buku dipinjam kawan dan tidak kembali. Ian McEwan, yang bukunya Atonement masuk seleksi ketat Booker Prize 2001, memuji Mark Haddon sebagai penulis dengan empati yang jarang dijumpai.

Empati agaknya jurus jitu yang menjadikan The Curious Incident istimewa. Jangankan kutipan diagnosis dokter atau keterangan ilmiah yang rumit, tak ada sepatah pun kata yang berbau autisme di dalam buku ini. Penjelasan bahwa Christopher adalah bocah autistik hanya ada di jaket sampul buku. Biarpun begitu, Haddon sukses menampilkan dunia sepi si bocah autistik melalui bahasa tutur yang langsung tanpa metafora. Haddon nyata menerapkan jurus "show it don't tell it" sehingga The Curious jadi orisinal dan jauh dari klise. Sebuah prestasi yang layak diapresiasi mengingat austime sampai sekarang masih diakui sebagai enigma, teka-teki paling memusingkan bagi dunia kedokteran.

Buku Mark Haddon memang muncul pada saat yang tepat. Dia terbit di tengah tren kian banyaknya penyandang autisme di seluruh dunia. Tiga dekade silam, angka kejadian autisme adalah 1:10 ribu kelahiran hidup. Pada tahun 2002, menurut catatan Pusat Pengendalian Penyakit (Center for Disease Control, CDC), AS, angka kejadian autisme menjadi 1:150 kelahiran.

Lonjakan serupa juga terjadi di Indonesia kendati, seperti biasa, data yang memadai tidak tersedia. Pada tahun 1989, hanya tercatat dua pasien autistik di Poliklinik Jiwa Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Sebelas tahun berikutnya, tahun 2000, tercatat 103 bocah autistik dirawat di unit yang sama. Indikasi serupa juga tampak dari makin menjamurnya sekolah dan pusat terapi khusus anak autistik. Walhasil, wajar bila keingintahuan akan autisme menggelegak di mana-mana.

Autisme, kerap disebut kelainan tumbuh kembang yang merata (pervasive development disorder), pertama kali diidentifikasi pada 1934 oleh Leo Kanner, psikiater John Hopkins University, AS. Istilah autisme merujuk pada anak-anak yang tersedot dalam dunianya sendiri, yang tak sanggup berkomunikasi wajar, yang tampak aneh tetapi kerap memiliki daya intelektual tinggi. Ilmuwan kesohor Albert Einstein, umpamanya, dicurigai autistik lantaran perilakunya yang eksentrik dan antisosial.

Kanner menyatakan bahwa sumber autisme adalah kelainan metabolisme sejak lahir. Selama puluhan tahun kemudian, pengertian autisme dikaburkan oleh penganut Freudian yang memandang autisme tak lain adalah buah dari asuhan ibu yang dingin dan tidak peduli. Barulah pada 1964, pengertian yang lebih tepat dimunculkan oleh Bernard Rimland, yang menilai autisme adalah kelainan perilaku akibat gangguan sistem saraf (neurologis).

Tapi apa sesungguhnya pemicu gangguan saraf itu? Pertanyaan inilah yang hingga kini belum punya jawab dan menyulut kontroversi tak kunjung putus.

Sebagian ahli yakin bahwa dunia yang kian terpolusi adalah biang utama lonjakan kasus autisme. Polusi membuat manusia lebih mudah terpapar aneka logam berat seperti merkuri (raksa, Hg) dan timbel (Pb). Bila paparan ini menimpa ibu yang sedang hamil muda, khususnya pada trimester pertama, perkembangan saraf janin akan terganggu sehingga muncullah autisme.

Belakangan, para ahli menuding vaksinasi campak dan cacar air (mump, measles, rubela, MMR) sebagai si pemicu. Beberapa laporan menyebutkan, bocah-bocah yang tadinya sehat walafiat menampakkan gejala autisme segera setelah disuntik vaksin campak. Memang, vaksin ini mengandung merkuri 0,2 mikrogram per mililiter vaksin. Kandungan logam raksa yang cuma setitik inilah yang dicurigai mengganggu pembentukan jala-jala saraf si bocah.

Hanya, tidak sedikit ahli yang berkukuh bahwa vaksin MMR tak ada urusan dengan autisme. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menilai kandungan merkuri dalam vaksin masih dalam taraf aman, yakni di bawah ambang 4,7 mikrogram per mililiter vaksin. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun merilis pernyataan resmi bahwa vaksinasi campak cukup aman dan tak perlu dirisaukan.

Faktor genetik yang menurun juga tak luput dari tudingan. Para ahli menemukan sedikitnya ada 20 gen yang menimbulkan autisme. Namun teori ini juga punya kelemahan. Pada banyak kasus autisme kembar identik, ternyata hanya salah satu dari si kembar yang menyandang autisme, sedangkan yang satunya lagi sehat sentosa. Jadi, gen bukanlah faktor utama dan satu-satunya. Sebab, "Bukankah kembar identik berbagi gen yang benar-benar sama persis?" kata Melly Budiman, psikiater dan dokter ahli anak yang juga Ketua Yayasan Autisma Indonesia.

Melly yakin, ada begitu banyak faktor pemicu autisme yang belum dipahami sepenuhnya. Faktor genetik mungkin hanya salah satu titik tolak yang membuat anak-anak jauh lebih peka terhadap banyak hal: pemberian obat antibiotik yang berlebihan, infeksi virus, alergi gandum, alergi cokelat, atau gabungan dari berbagai soal yang tumpang tindih. Terlalu dini untuk memastikan faktor A tidak bersalah dan faktor B lebih bertanggung jawab atas autisme. Semua kemungkinan masih terbuka untuk teka-teki ini.

Teka-teki lain yang kalah ruwet adalah perwujudan autisme. Tidak seperti penyakit demam berdarah yang gejalanya terukur, perwujudan autisme berbeda-beda pada setiap individu. Spektrum variasinya begitu luas, dari ringan sampai berat, meliputi alergi beragam makanan, pencernaan yang payah, sering depresi, gampang mengamuk (tantrum), susah konsentrasi, hiperaktif, kecerdasan yang tinggi (savant), tapi tidak sedikit pula yang disertai keterbelakangan mental. Keragaman gejala inilah yang membuat orang tua—bahkan dokter juga—sering telat mendeteksi adanya autisme pada anak-anak mereka.

Keadaan lebih ruwet lagi karena anak-anak autistik sulit berkomunikasi. Mereka tak bisa menyampaikan perasaan, fisik maupun psikologis. Pikiran mereka bertempur tanpa bisa terjelaskan. Label yang menyakitkan pun dengan semena-mena kerap dialamatkan kepada mereka. Mereka sering disebut bocah edan, bodoh, bego, skizofrenik, sampai anak yang tak punya masa depan.

Pada tahap inilah The Curious Incident bakal sangat membantu. Buku ini menyuguhkan dunia bocah autistik dengan bagus. Christopher si bocah autistik dibiarkan bertutur sendiri dengan bahasa aku. Bocah ini selalu berpikir lurus, tak bisa bohong, serta tak bisa mengerti idiom dan metafora. Dia tak pernah paham idiom "bagai melihat apel di mata seseorang" berarti menyukai orang tersebut dengan amat sangat. Toh, tak mungkin ada apel di dalam mata. Metafora baginya tak lebih dari kebohongan.

Christopher menuturkan otaknya bekerja bagai mesin. Daya ingatnya begitu kuat sehingga untuk mengingat sesuatu, dia hanya perlu menekan tombol "rewind" dan "fast forward" dalam otaknya seperti dalam pemutar video. Otak komputernya juga amat mudah mogok (hang) dengan adanya berbagai tugas (multitasking) berpikir berbarengan. Jika kondisi ini muncul, Christopher akan menggeram dan menjerit. Jika ingin menenangkan diri, dia duduk diam memikirkan urutan bilangan prima.

Betul, The Curious Incident bukan satu-satunya buku tentang jagat autistik. A Child Called Noah, misalnya, menceritakan pengalaman Karl Taro Greenfeld, wartawan majalah Time, yang memiliki adik autistik. Sang adik, namanya Noah, tak bisa berkomunikasi dan selalu bergantung pada orang lain untuk mengurus hidupnya. Kini Noah telah 36 tahun dan dia menghuni lembaga perawatan Fairview Developmental Center, di California, sejak umur 18 tahun. Dan yang menyentuh, bagi wartawan Time Karl Taro, tempat di mana adiknya berada adalah "rumah" baginya.

Buku lainnya, Nobody Nowhere (1989), otobiografi Donna Williams, bisa dibilang cukup kuat mewakili perjuangan seorang perempuan yang autistik. Donna, kelahiran Australia tahun 1963, menuangkan pengalamannya dengan cukup mendetail dalam buku yang diterjemahkan dengan judul Dunia di Balik Kaca ini.

Donna menuturkan betapa sering dirinya terserap dan tersesat dalam ribuan dan jutaan titik warna-warni. Seluruh jiwanya tersedot di dalam belantara titik hingga dia tak tahu dan tak peduli ibunya berteriak memanggil namanya. Tiba-tiba, plak…! Ibunya yang senewen menampar pipi Donna. Tamparan yang justru dijawab Donna dengan berputar cepat seperti gasing sambil terus berteriak. Dia marah karena dunia titik-titik yang menenangkan itu dirampas orang lain.

Pergulatan yang dialami Donna amat berat mengingat pada saat itu autisme belum cukup populer dan tak banyak dokter yang tahu. Donna kecil diberi label anak gila yang kacau-balau. Dia juga keluar-masuk kelas khusus yang tak banyak menolong. Pada umur 20-an, Donna mengunjungi ahli pengobatan natural dan mendapati dirinya alergi berbagai macam makanan. Setelah alergi ini diatasi, Donna pelahan-lahan bisa mengendalikan dirinya dengan lebih stabil. Bahkan Donna berhasil meraih gelar sarjana psikologi dan kini menjadi pelukis.

Buku yang juga fenomenal di bidang autisme adalah Rain Man, karya Leonore Fleischer (1989). Novel yang diangkat ke layar lebar ini mengisahkan Charlie Babbit (dimainkan Tom Cruise) yang "terjebak" harus merawat Raymond (diperankan Dustin Hoffman), adiknya yang autistik savant (punya kepintaran menonjol di satu bidang). Mengharukan sekali menyaksikan si ganteng Charlie jatuh sayang pada Raymond, yang awalnya hanya dianggap sebagai beban.

Rain Man kemudian disusul beberapa film lain. Mercury Rising (1998), yang dibintangi Bruce Willis, misalnya, menampilkan sosok Simon, bocah 9 tahun yang autistik savant. Namun, tidak seperti Rain Main, film ini hanya menempatkan si bocah autistik sebagai tempelan dan bukan problem utama.

Tahun lalu muncul Amelie (sutradara Jean Pierre Jeunet), yang dinilai menampilkan kehidupan gadis muda autistik dengan brilian. Seperti juga The Curious Incident, film ini sama sekali tidak menyinggung bahwa Amelie yang eksentrik dan canggung bergaul ini adalah penyandang autisme. Namun cara pengambilan gambar dan gaya tutur Amelie terlihat khas austitik. Sebuah adegan dibangun dari detail demi detail, barulah kemudian gambar tampil dalam kerangka dan konteks yang lebih besar. "Film ini betul-betul muncul dari otak dan kultur autistik," tulis Tim Pylypiuk, pengelola situs Autism Information and Education.

Jean Pierre Jeunet, sang sutradara, tidak berkomentar apa pun terhadap penilaian bahwa Amelie dibangun dari kultur autistik. Yang pasti, bagi Tim Pylypiuk, sutradara Jeunet sukses menyelami dunia sepi dan asing remaja autistik. Seperti juga Mark Haddon berhasil menyelam ke dunia Christopher yang penuh teka-teki.

Mardiyah Chamim


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data