Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004
   
Indonesiana

Negosiasi dengan Perampok

INI unik: para perampok tawar-menawar dengan korbannya soal jumlah duit yang mereka inginkan sebelum perampokan dilakukan, 7 Desember tahun silam. Korbannya adalah Zaini, warga Dusun Sumberpoh Lor, Desa Sumperpoh, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Rumah lelaki 40 tahun ini memang terpencil di tengah persawahan, sejauh 50 meter dari tetangga terdekat.

Malam itu Zaini, istrinya Ruwiyah, dan anak mereka Lailatul Masruroh, 8 tahun, sudah tertidur sekitar pukul 21.00 WIB. Biasanya mereka tidur selepas pukul 23.00. Mereka kelelahan setelah seharian menerima tamu yang menghadiri se- lamatan empat bulan kehamilan Ruwiyah. Sekitar pukul 24.00 WIB, ia terjaga karena mendengar suara mencurigakan di depan rumahnya. Terbangun, Zaini mengintip dan melihat dari balik tirai jendela ruang tamu dua orang bersenjata tajam mondar-mandir di teras rumah.

Zaini, guru Madrasah Ibtidaiyah Raidhotul Jannah II Sumberpoh, lalu beranjak ke kamar mandi. Ruwiyah, yang tetap di ruang tamu, melihat kedua perampok lagi mencungkil kayu ventilasi rumah. Begitu kayu ventilasi lepas, mereka memergoki Ruwiyah sedang sen- dirian. "Mana suamimu?" perampok itu membentak. Yang ditanya menjawab, "Di kamar mandi."

Salah satu perampok, sambil me- ngacungkan celurit, meminta uang pada nyonya rumah. Karena ketakutan, Ruwiyah lari menyusul suaminya. Zaini semula menolak. Tapi, karena istrinya terus mendesak, lelaki itu meloloskan selembar Rp 20 ribu lewat ventilasi. Giliran perampok menampik—mereka meminta Rp 500 ribu. "Saya tak punya uang sebesar itu," ujar Zaini sembari menyodorkan lembaran Rp 10 ribu.

Tak percaya tuan rumah tak beruang—Zaini adalah pemilik toko—perampok yang gusar memecahkan kaca jendela dengan celurit, lalu mendobrak pintu tripleks hingga jebol. Sementara perampok menyerbu masuk, mereka kabur lewat pintu belakang untuk meminta per- tolongan tetangga. Tapi, melihat dua perampok lain berjaga-jaga di depan rumah, Ruwiyah kembali masuk.

Mendengar ribut-ribut, Lailatul keluar ke ruang tamu ketika para perampok sedang mengangkuti TV 14 inci, pemutar VCD, kipas angin, magic jar, dan termos. Dan saat Zaini kembali bersama bala bantuan, para penjahat sudah kabur.

Sudah tiga kali dengan peristiwa ini rumah Zaini disatroni pencuri dan perampok. Sedangkan Kepolisian Sektor Maron hingga Jumat pekan silam belum berhasil menangkap para pelaku. "Kami tak punya ciri-ciri pelaku," kata salah seorang polisi yang ingin namanya disimpan.

Sapto Yunus, Dwi Wiyana (Sumedang), Bibin Bintariadi (Probolinggo)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data