Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004
   
Esei

Orang Tua di Kota Tua Hanoi

Seorang perempuan tua mencatat di bukunya setiap hari. Di Hanoi, di kota yang lebih tua daripada dirinya, perempuan itu mencatat sesuatu setiap kali ada bus kota yang berhenti di depan halte tempat ia duduk. Sesekali ia berbincang dengan kondektur dan menyapa penumpang yang baru turun dari bus. Ia tidak beranjak dari tempat duduknya hingga malam turun karena itulah pekerjaannya sehari-hari: mencatat.

Hanoi telah menjadi saksi perubahan berbagai "isme": dari saat Prancis memperkenalkan arti kolonialisme, hingga ketika para petani mengenal kata komunisme. Dari masa Ho Chi Minh membara, membawa rasa benci yang tak ingin ia tanggalkan pada bentuk penjajahan, hingga akhirnya ketika terjadi perang saudara dan Amerika masuk. Hanoi menjadi saksi yang semakin tua dan lelah oleh sejarah.

Di abad yang baru ini, Vietnam—tentu saja bersama Hanoi—memperlihatkan sebuah semangat baru, terutama pada tahun 1990-an ketika Vietnam menjadi "wanita jelita" bagi para investor. Roda ekonomi mulai berputar dan infrastruktur Vietnam mulai memperlihatkan perkembangan yang dramatik.

Nun di wilayah kota tua yang masih memelihara arsitektur bangunan Prancis, Hanoi masih menyimpan sisa-sisa pojok sejarahnya. Kota dengan sebutan seribu danau ini menjadi semakin unik dengan banyaknya orang jompo yang masih bekerja untuk memenuhi ke- butuhan hidupnya. Menjadi juru parkir, penjual sepatu, tukang cukur, penarik cyclo (becak Vietnam), penjual suvenir, dan penjual bambu adalah pekerjaan sehari-hari yang mereka tekuni. Deru dan debu sepeda motor yang menjadi ciri khas kota itu tidak menjadi penghalang bagi kaum jompo untuk men- jalani aktivitas tersebut.

Semangat untuk mempertahankan hidup terus terpancar dari wajah-wajah tua itu ketika mereka me- lakukan pekerjaannya. Teriakan "Vietnam vo dich" (Vietnam juara) sesekali terlontar dari mulut mereka saat menawarkan pin, kaus, bendera, dan aneka suvenir Vietnam. Di pojok yang lain, seorang nenek tua dengan wajah dingin menghampiri setiap orang lewat untuk menawarkan potongan bambu yang dijual di rumahnya. Dia terus menawarkan dagangannya tanpa peduli wisatawan yang lewat itu mengerti atau tidak. Namun, semangat saja kadang kala tidak cukup; ada pula yang tertidur karena tubuh yang telah digerogoti lelah dan usia.

Teks dan foto: Hariyanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data