Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 45/XXXII/05 - 11 Januari 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Yang Kecil Silakan Minggir

Perbankan akan ditata berdasarkan besar-kecilnya aset. Untuk memaksa bank-bank kecil bermerger?

Bingkisan tahun baru biasanya dinanti dengan penuh gairah. Tapi kado tahun baru yang disiapkan Bank Indonesia bagi perbankan nasional justru membuat sejumlah bankir deg-degan.

Jika tak ada aral melintang, awal bulan ini bank sentral bakal mempublikasikan semacam cetak biru penataan perbankan yang diberi nama Arsitektur Perbankan Indonesia (API).

Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengatakan bahwa arsitektur itu bertujuan menciptakan sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien.

Rencananya, cetak biru tersebut diterapkan secara bertahap selama 14 tahun ke depan. Jika berjalan lancar, Burhanuddin berharap, dalam kurun waktu 5-7 tahun mendatang, akan ada bank nasional yang mampu bersaing di kawasan regional.

Sayangnya, ketika bertemu dengan sejumlah wartawan akhir Desember lalu, dia tak bersedia mengungkapkan isinya secara detail. Situs resmi bank sentral pun tak menjelaskan secara gamblang. Di sana hanya disebutkan bank sentral telah menetapkan enam target yang perlu dilaksanakan agar tujuan dalam arsitektur perbankan bisa tercapai.

Targetnya antara lain membenahi struktur perbankan domestik agar sehat, menerapkan good corporate governance untuk memperkuat internal perbankan, dan menciptakan sistem pengawasan bank yang efektif.

Jadi, gambarannya memang belum jelas benar. Tapi Burhanuddin sempat memberikan petunjuk penting soal cetak biru itu. "Bank akan ditata menurut besarnya aset yang dimiliki."

Ukuran aset inilah yang akan me- nentukan apakah suatu bank mampu bersaing di taraf nasional atau regional. Apakah hal ini berarti bank sentral akan meminta bank-bank nasional menaikkan modal? Belum jelas.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk. Sigit Pramono memberikan analisis yang menarik soal ini. Dia menduga bank sentral ingin "memaksa" bank kecil bermerger. "Yang diutamakan besarnya modal, sehingga bank kecil tak punya pilihan selain merger."

Sigit khawatir, bila konsep tersebut diterapkan secara kaku, kelangsungan hidup bank-bank kecil bakal terancam. Padahal, ketika krisis, beberapa bank kecil justru selamat dan tak pernah mem- bebani pemerintah.

Menurut dia, penyusunan arsitektur itu terkesan buru-buru dan tanpa meminta masukan dari praktisi perbankan. Se- orang direktur bank swasta membenarkan apa yang dikatakan Sigit. Bank Indonesia, kata dia, hanya menggunakan McKinsey and Company sebagai konsultan dalam menyusun pemetaan perbankan tersebut.

Jika benar demikian, Sigit menyayangkan sikap bank sentral. Alasannya, kondisi perbankan setiap negara berbeda. Katanya, "Jika BI cuma mencangkok konsep dari luar negeri tanpa melihat kondisi bank domestik, saya khawatir konsep ini bakal bermasalah nantinya."

Masyhud Ali, mantan bankir yang sekarang menjadi pengajar di kampus Perbanas, Jakarta, menyoroti hal senada. Bank sentral, katanya, cenderung menyederhanakan pembagian bank berdasarkan besar-kecilnya modal.

Padahal, selain berdasarkan modal, BI perlu membagi bank berdasarkan fungsinya. Sebab, kehadiran bank-bank kecil yang melayani kepentingan khusus masih dibutuhkan di Indonesia. "Di Amerika mungkin bank khusus petani atau pengusaha kecil sudah tak perlu. Tapi, di sini, bank yang melayani agrobisnis sangat diperlukan."

Masyhud mengingatkan agar BI jangan terlalu mengikuti mekanisme pasar dalam mengatur perbankan domestik. Alasannya, bank-bank kecil dengan fungsi khusus itu bakal tergilas. Dampaknya, petani dan pengusaha kecil akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Padahal seharusnya pemerintah mendukung mereka agar mampu berkembang.

Hal lain yang perlu dicermati, kata Masyhud, tahun ini akan berlangsung pemilihan umum, sehingga suhu politik akan cenderung memanas dan bisa mempengaruhi rencana bank sentral tersebut.

Tapi Burhanuddin tidak sependapat dalam soal itu. Dia yakin pemilu tak akan banyak pengaruhnya pada penerapan arsitektur perbankan yang baru. "Pesta demokrasi malah memberikan kegairahan pada bank untuk meningkatkan fungsi intermediasinya."

Faktor yang paling penting, kata Gubernur Bank Indonesia, "Stabilitas sistem keuangan yang terjaga."

Nah, kalau itu yang harus dijaga, tentunya Bank Indonesia tidak akan membuat gebrakan baru yang membuat deg-degan masyarakat, terutama nasabah bank.

Iwan Setiawan


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data