Jangan Mimpi Jadi Presiden Daripada mengelus jago untuk calon presiden, partai-partai kecil lebih terfokus membangun jaringan di daerah. |
"DAI Sejuta Umat" kini makin jarang pulang ke rumah. Tapi penceramahagama kondang bernama lengkap K.H. Zainuddin Muhammad Zein initidak lagi sibuk berdakwah. Lahir di Betawi 52 tahun silam, Pak Kiai rupanyatengah getol menggalang kekuatan dan lobi-lobi politik.
Partai Bintang Reformasi (PBR) yang belum lama didirikannya?setelahmenyempal dari Partai Persatuan Pembangunan?termasuk yang dipastikanlolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan berhak ikut Pemilu2004. Nah, ibarat kepala rumah tangga baru yang belum lama disahkanpenghulu, ia tentunya perlu beres-beres.
Saking getolnya berlobi politik, saat menikahkan putra pertamanya,Fikri Haikal M.Z., Zainuddin mengundang pentolan politik nasional. Acarapernikahan di Masjid At-Tin Jakarta, pada Ahad 21 Desember pekan silam,lebih mirip "pesta politik" tingkat tinggi.Tak tanggung-tanggung, Zainuddin meminta Hamzah Haz (Ketua PPP) danAmien Rais (Ketua Partai Amanat Nasional) menjadi saksi akad nikah calonmempelai. Sedangkan Nurcholish Madjid, yang disebut-sebut sebagaikandidat calon presiden alternatif, didapuk memberikan nasihat perkawinan."Saya ingin acara ini bisa menjadi silaturahmi," ujar pemilik hajat.
Zainuddin tampaknya tak ingin melempar taruhan gede-gedean dulu.Sebagai pendatang baru di jagat politik nasional, PBR memang "belumapa-apa". Tak mengherankan, hingga kini partai kelahiran 9 April 2003 inibelum memiliki calon presiden definitif. Kepada TEMPO, Ketua Umum PBRitu mengaku belum berani menyebut nama calon presiden dari partainyakarena pelbagai pertimbangan. Apalagi, sebagai partai anyar, PBR lagi berkutatdiri membangun jaringan di daerah-daerah. "Belum ada nama calon presiden.Kami ingin berjalan di bumi, bukan di atas awan," ia berkata di bawah-bawah.
Senada dengan Zainuddin, Eros Djarot, 53 tahun, pun bersikap sama.Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) ini juga belumpunya nama calon presiden yang pasti. Menurut Pemimpin RedaksiTabloid Detik (almarhum) ini, PNBK masih harusmelakukan konsolidasi internal. Maklum. Baru berdiri pada 27 Juli 2002(bertepatan dengan peringatan penyerbuan kantor DPP PDI pada "Sabtu Kelabu" 27Juli 1996), PNBK tengah memperkuat basis massa di daerah-daerah. Soal namacalon presiden dari partainya, ujar Eros, "Masih terlalu pagi untuk dibicarakan."
Untuk memperkuat PNBK, Eros melirik partai-partai yang tak lolosverifikasi oleh KPU. (Bekas) sutradara film ini menempuh strategi tadimengingat banyak dari partai yang terhenti langkah itu sebenarnya memiliki SDMyang lumayan. Partai Indonesia Tanah Air Kita (PITA), misalnya, saat ini telahmemiliki jaringan di 32 provinsi dan 370 kabupaten. Apalagi PITA didirikandan dipimpin oleh Prof. Dimyati Hartono?bekas kolega Eros di PDIP, dulu.
Eros juga tengah mengincar kader Partai Pembela Demokrasi KasihBangsa (PDKB). Ia menilai PDKB, yang juga tak lolos verifikasi KPU, memiliki platform yang sama. "Kami sedang membicarakan kemungkinan aliansistrategis dengan PITA dan PDKB," ujarbekas "orang dekat" Megawati ini kepada Multazam dariTempo News Room.
Dimyati Hartono tak menyanggah adanya sinyal hijau dari Eros itu.Sang mantan petinggi PDIP memastikan pihaknya telah "dipinang" PNBK.Namun, ia mengajukan tiga sarat yang cukup berat. Selain harus menampungcalon anggota legislatif dari PITA, Dimyati ingin aliansi dilakukan tanpapeleburan (fusi) antarpartai. Dengan kata lain, PITA sebagai politik tetapeksis. Syarat lainnya?ini cukup mengganjal ?soal calon presiden dalamPemilu 2004. "Mereka harus mengupayakan Ketua Umum PITA sebagai calonpresiden," ujar Dimyati. Wah.
Sambutan positif juga datang dari PDKB. Ketua umumnya, GregoriusSeto Haryanto, mengaku telah berbicara dengan Eros Djarot. Hasilnya puncukup menggembirakan. Dalam pandangan Seto, PNBK adalah partai yang visinyasebangun dan sama simetris dengan PDKB. Hanya, seperti sebuah transaksidagang, pihak Seto "mematok harga" cukuptinggi sebagai pembuka tawaran aliansi. Bila jadi bergabung, ujarnya, "Kami takingin hanya menjadi keset (penyapu kaki)."
Yang pasti, PNBK telah mendapat beberapa "alumni" PDIP. Duaanggota DPR dari Banteng Gemuk, Haryanto Taslam dan Meilono Soewondo,dipastikan memperkuat jajaran pengurus inti PNBK. Haryanto Taslam, yangpada 1998 menjadi korban penculikan, dipercaya sebagai Ketua DepartemenPemenangan Pemilu. Sedangkan Meilono Soewondo, anggota DPR yang kerapbersuara miring terhadap pemerintahan Megawati, didapuk menjadi Bendahara.
Partai lain yang masih cukup "tahu diri" adalah Partai Keadilan (PK)Sejahtera. Partai berideologi Islam yang ingin mengegolkan syariat Islam inimemastikan pihaknya belum memiliki nama calon presiden. Maklumlah,metamorfosis dari Partai Keadilan (PK) ini sadar dengan kekuatan dirinya.Becermin pada hasil Pemilu 1999, PK bahkan tak loloselectoral threshold 3 persen suara. Tak aneh bila hingga kinibelum ada nama yang muncul untuk digadang-gadang menjadi Presiden RIlewat Pemilu 2004. PK Sejahtera hanya membuat delapan kriteria calonpresiden?antara lain: beriman dan bertakwa, berpendidikan minimalsarjana (S1), dan tidak berstatus terdakwa. Meski sudah mulai menjaringkandidat, "Belum ada yang pasti," ujarHidayat Nurwahid, Presiden PK Sejahtera.
Meski berat, partai-partai pendatang baru tampak yakin menghadapiPemilu 2004. Tanpa agenda khusus untuk mengegolkan calon presiden, merekamulai memasang kuda-kuda untuk mendapat kursi legislatif. Presiden PKSejahtera sendiri, misalnya, mengaku partainya telah siap mengikuti pemilu. Walaupuntak terlalu tinggi memasang target, Hidayat merasa partainya memiliki basiskonstituen yang jelas. "Basis inti PK Sejahtera ada di kampus dan pengajian,"ujarnya. Tapi, sebagai partai politik, partai ini mencoba meraih pendukungakar rumput yang lebih luas. Ia mengklaim telah memperlebar jaringanpendukung partainya. Hidayat menyebut 90 ribu petani di Jawa Tengah, 14 ribupemulung di Jawa Timur, dan paguyuban pengojek di Tanah Abang, Jakarta, sebagaicontoh konstituen grass root PK Sejahtera.
Membujuk masuk parpol yang tak lolos saringan KPU juga dipakai PKSejahtera untuk memperkuat jajarannya. Hidayat memastikan pengurus dananggota Partai Al-Islam Sejahtera dan Partai Syarikat Islam Indonesia akanbergabung. Agar lebih mantap, kedua partai ini benar-benar meleburkan dirike PK Sejahtera. Bendera partai dan badan hukumnya sudah benar-benarterlikuidasi.
Soal dana operasional partai? Meski tak menyebutkan nilainya, iamemastikan PK Sejahtera tak terlalu kerepotan dibuatnya. "Ada yang bilang PKSitu 'partai kantong sendiri'," ujar Hidayat, setengah berseloroh.
K.H. Zainuddin M.Z. juga memastikan telah mempersiapkankader-kadernya untuk meraih suara. Sebagai partai berbasis Islam, PBR memangmasih mengandalkan jaringan pesantren dan massa pengajian Zainuddin dulu.Langkah ini memang paling masuk akal. Soalnya, nama K.H. ZainuddinM.Z. pernah meroket, dan julukan "Kiai Sejuta Umat" masih melekatidirinya. Tiap pengajian yang menampilkan lulusan IAIN Syarif Hidayatullah iniselalu dijejali umat. Stasiun televisi dan radio swasta berlomba menyiarkandakwah Zainuddin, yang terkenal dengan joke yang segar. Belakangan, sejakZainuddin bergelut di dunia poltik, pamor kiai kelahiran Betawi ini agak menurun.Posisinya saat ini mulai diambil alih pendakwah lebih muda sepertiAbdullah Gymnastiar dan Arifin Ilham.
Untuk memperkuat jaringan, PBR juga mencoba menarik partai-partaiIslam yang tersangkut di jaring verifikasi KPU. Zainuddin menyebut PartaiPengamat Tarekat dan Partai Mukminin Muslimin sebagai partai yang akanmemberikan "dukungan" ke PBR. PBR melirikpula beberapa pemimpin pondok pesantren yang telah dikenal publik. K.H.Noor Muhammad Iskandar Sq., misalnya, disebut-sebut telah "dilamar"Zainuddin M.Z. Pemimpin Pondok Pesantren As-Shidiqiyyah Jakarta ini ditawarimenjadi calon legislatif nomor satu PBR untuk wilayah pemilihan JawaTimur. Padahal Noor Iskandar saat ini masih tercatat sebagai anggota DPR dariFraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Kepada TEMPO, kiai penunggang mobilPajero ini mengaku cocok dengan PBR. "Saya senang PBR mengusung ideologiIslam moderat," ujar Noor Iskandar.
Di mata pengamat politik Arbi Sanit, partai politik baru memang "belum pantas" berbicara tentang nama calon presiden. Sebagai pendatang baru, parpol-parpol itu justru harus lebih mementingkan eksistensi partainya dengan meraih suara sebanyak-banyaknya. Soalnya, mereka harus berjuang lolos electoral threshold 3 persen melawan partai besar seperti PDIP, Partai Golkar, dan PPP. "Partai kecil jangan mimpi tentang presiden," ujar Arbi Sanit.
|