Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXII/29 Desember - 04 Januari 2004
   
Surat Dari Redaksi

Tahun 2004, Tahun Pemilihan Presiden

Kita sering tak percaya pada bulan Desember. Sehelai kalender. Agenda menipis. Sayup-sayup denting lonceng Natal sudah terdengar. Kita tak percaya karena ternyata begitu banyak ?utang? pekerjaan yang harus ditunaikan (pertemuan, penyuntingan, rapat ini dan itu, wawancara ini dan itu) serta ?utang janji? kepada keluarga: liburan bersama, membeli buku, dan seterusnya. Tapi waktu tak punya utang. Jarum jam berjalan terus tanpa macet; dan kami di majalah ini segera tahu bahwa Edisi Akhir Tahun sudah harus segera ditunaikan.

Kali ini, tentu saja kami tak ingin hanya bersusah derita dan bersumpah serapah dalam kaleidoskop yang hampir selalu berisi bencana, kematian, teror, korupsi, dan ketidakadilan. Ada satu harapan (atau ?bencana? politik?): tahun depan, kita akan memilih presiden secara langsung.

Karena itu, kali ini kami meminta mereka yang memang sudah berkecimpung di rubrik Nasional secara intens untuk menjadi pemimpin proyek, yaitu Wahyu Muryadi, Gendur Sudarsono, Taufiqurohman, Wenseslaus Manggut, dan Mardiyah Chamim. Tahun 2004 akan menjadi tahun yang penting bagi negeri ini, karena untuk pertama kalinya rakyat akan memilih pemimpinnya secara langsung. Paling tidak sekarang, sudah begitu banyak tokoh yang berpatut diri di muka cermin dan rajin ?memperkenalkan diri? kepada rakyat. Dan sesungguhnya, bagi kehidupan berdemokrasi, ini menggairahkan. Meski agak mencemaskan.

Menggairahkan, karena kita tahu betul, calon presiden tidak lagi hanya satu (dan orangnya masih sangat teka-teki). Mencemaskan, karena kita juga ingin punya kepastian agar pemimpin kita nanti adalah orang yang kompeten dalam pemerintahan, berintegritas tinggi, memiliki moral politik, dan yang penting mampu memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang menjadi penyakit terbesar negeri ini. Adakah kita sosok yang memiliki itu semua? Silakan Anda nikmati sosok-sosok yang kami wawancarai dan kami rekam kesehariannya. Untuk rekaman kegiatan itu, kami meminta fotografer Poriaman Sitanggang, juga Rully Kesuma, Santirta, Hendra Suhara, dan Fernandez Hutagalung untuk betul-betul mengikuti para tokoh yang mencalonkan diri ini bukan hanya di atas panggung, tapi juga di balik layar. Hasilnya luar biasa!

Berbeda dengan para politikus yang gemar memberi janji, di akhir tahun ini kami akan menggoretkan resolusi: tahun 2004, kami akan mencoba lebih baik lagi. Selamat Hari Natal bagi yang merayakannya, dan Selamat Tahun Baru.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data