|
Berada di posisi paling buntut dalam prakonvensi Golkar, Oktober lalu, nama Sri Sultan Hamengku Buwono X justru gemilang dalam sejumlah jajak pendapat. Dalam polling yang digelar International Foundation for Election Systems (IFES) beberapa bulan lalu, nama Sultan bertengger di nomor tiga, setelah Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Dia mendapat nilai kumulatif terbaik dalam polling yang dilakukan oleh Soegeng Sarjadi Syndicated.
Lahir dengan nama lengkap Bandoro Raden Mas (B.R.M.) Herdjuno Darpito pada Selasa, 2 April 1946, putra sulung Sultan Hamengku Buwono IX ini kemudian bersalin nama menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (G.K.P.H.) Mangkubumi. Setelah ayahnya wafat pada Oktober 1988, ia dinobatkan menjadi raja. Menjadi Sultan Yogyakarta sejak 7 Maret 1989, Mangkubumi dinobatkan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X. Setelah diangkat menjadi raja, ia lebih banyak berdiam di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Banyak yang menduga, sang Sultan punya alergi dengan dunia politik di sekitarnya. Tapi ia sendiri mengaku justru aktif berdialog dengan sejumlah pihak menyangkut nasib bangsa.
Ketika aksi mahasiswa marak pada April 1998 di Yogyakarta, Sultan memilih berdiam diri melakukan puasa sebulan penuh. Aksi puasa itu dilakukan sejak 19 April hingga 19 Mei 1998. Sehabis puasa itu, bersama Sri Paku Alam VIII dan ribuan mahasiswa, ia menyerukan Maklumat Yogyakarta, yang mendukung reformasi total dan damai. ?Jika pemimpin tak benar, kewajiban saya mengingatkan,? katanya ketika itu. Maju menjadi calon presiden di konvensi Golkar, katanya, juga merupakan kewajiban untuk ikut membenahi bangsa ini, terutama untuk kemakmuran rakyat.
Walau namanya masuk urutan favorit, ia justru tak begitu percaya dengan hasil jajak pendapat itu?karena belum tentu mewakili kemauan masyarakat umum. ?Wong piro (berapa banyak yang ikut polling?Red.) itu, Mas. Nanti kan seluruh rakyat yang milih,? katanya. Dia berjanji menciptakan pemerintahan yang transparan dan bersih jika kelak bisa mencapai pucuk Republik.
|