Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXII/29 Desember - 04 Januari 2004
   
Laporan Utama

Takhta untuk Rakyat

Berada di posisi paling buntut dalam prakonvensi Golkar, Oktober lalu, nama Sri Sultan Hamengku Buwono X justru gemilang dalam sejumlah jajak pendapat. Dalam polling yang digelar International Foundation for Election Systems (IFES) beberapa bulan lalu, nama Sultan bertengger di nomor tiga, setelah Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Dia mendapat nilai kumulatif terbaik dalam polling yang dilakukan oleh Soegeng Sarjadi Syndicated.

Lahir dengan nama lengkap Bandoro Raden Mas (B.R.M.) Herdjuno Darpito pada Selasa, 2 April 1946, putra sulung Sultan Hamengku Buwono IX ini kemudian bersalin nama menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (G.K.P.H.) Mangkubumi. Setelah ayahnya wafat pada Oktober 1988, ia dinobatkan menjadi raja. Menjadi Sultan Yogyakarta sejak 7 Maret 1989, Mangkubumi dinobatkan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X. Setelah diangkat menjadi raja, ia lebih banyak berdiam di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Banyak yang menduga, sang Sultan punya alergi dengan dunia politik di sekitarnya. Tapi ia sendiri mengaku justru aktif berdialog dengan sejumlah pihak menyangkut nasib bangsa.

Ketika aksi mahasiswa marak pada April 1998 di Yogyakarta, Sultan memilih berdiam diri melakukan puasa sebulan penuh. Aksi puasa itu dilakukan sejak 19 April hingga 19 Mei 1998. Sehabis puasa itu, bersama Sri Paku Alam VIII dan ribuan mahasiswa, ia menyerukan Maklumat Yogyakarta, yang mendukung reformasi total dan damai. ?Jika pemimpin tak benar, kewajiban saya mengingatkan,? katanya ketika itu. Maju menjadi calon presiden di konvensi Golkar, katanya, juga merupakan kewajiban untuk ikut membenahi bangsa ini, terutama untuk kemakmuran rakyat.

Walau namanya masuk urutan favorit, ia justru tak begitu percaya dengan hasil jajak pendapat itu?karena belum tentu mewakili kemauan masyarakat umum. ?Wong piro (berapa banyak yang ikut polling?Red.) itu, Mas. Nanti kan seluruh rakyat yang milih,? katanya. Dia berjanji menciptakan pemerintahan yang transparan dan bersih jika kelak bisa mencapai pucuk Republik.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data