Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXII/29 Desember - 04 Januari 2004
   
Kesehatan

Pasien Ngobrol Tumor Dibedol

Prosedur bedah tengkorak dengan pemetaan otak dikembangkan. Saat operasi, pasien masih bisa diajak berkomunikasi.

REZA Triandika Rinaldi telentang di kamar operasi 308 Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, pertengahan Desember lalu. Kain hijau membalut tubuh lajang berusia 17 tahun itu, juga kepala bagian atas. Wajahnya dibiarkan terbuka. Di sekitarnya, seperangkat peranti operasi, termasuk mikroskop raksasa merek Zeiss, yang bisa leluasa bergerak melihat sasaran, disiapkan. Tak ketinggalan, sebuah kamera yang terhubung dengan layar monitor tergantung setengah meter di atas kakinya. Hari itu dokter akan membedah kepala Reza dan mengambil tumor otak di kepalanya. Tapi apa guna sepucuk mikrofon yang biasa dipakai untuk berkaraoke tergantung sekitar setengah meter di atas Reza?

"Saat operasi berlangsung, dengan mikrofon itulah orang bisa bicara dengan Reza di ruang monitor," ujar Setyo Widi, dokter bedah saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RS Hasan Sadikin, sebelum operasi. Ruang yang dimaksud berada 10-an meter di samping kamar operasi dan hanya dipisahkan lorong kecil. Di sini, dua monitor TV siap menayangkan detik demi detik jalannya operasi.

Siang itu, Widi dan timnya, dengan supervisor dr. Mark Bernstein dari RS Toronto, Kanada, tengah menyiapkan prosedur bedah tengkorak dengan pemetaan otak (awake craniotomy with brain mapping). Uniknya, ya itu, saat operasi, pasien dalam kondisi sadar sehingga masih bisa diajak berkomunikasi. Hal ini dapat dilakukan karena pembiusan diberikan dengan dosis tertentu sehingga pasien tak kehilangan kesadaran laiknya pembiusan total. Di Indonesia, prosedur itu terhitung baru. "Rasanya, kami yang pertama kali melakukan," kata Widi.

Saat operasi berlangsung, dialog dengan Reza memang terjadi. Itu terlihat, antara lain, saat dokter melakukan pemetaan fungsi otak dengan stimulator bipolar. Saat alat ditempelkan di bagian otak tertentu, Reza diminta menggerakkan kaki atau tangan. Begitu berulang beberapa kali. Kebetulan, tumor astrositoma yang diidap Reza memang letaknya di daerah pengatur gerak tangan dan kaki. Andai letaknya di pusat bicara, dokter akan minta yang bersangkutan bicara saat pemetaan dilakukan.

Jika dicek kaki dan tangan Reza masih bisa bergerak, itu berarti daerah otak tersebut aman jika harus disayat pisau operasi. Jika kondisi sebaliknya, Reza tak bisa menggerakkan tangan dan kaki, daerah otak itu haram disentuh pisau, apalagi dibedah. Salah sedikit, berabe akibatnya. Reza bisa lumpuh. Itulah manfaat pemetaan otak, kata Widi, "Kita bisa langsung tahu respons pasien saat mencari jalan untuk mengangkat tumor."

Saat dioperasi, Reza sendiri mengaku cuma merasa linu saat tulang tengkoraknya dibor dan dipotong. Saat tumor diambil, ia malah tak merasa sakit. Bungsu pasangan Denny Wachyudie dan Tetty Kriswandiati, warga Kopo, Bandung, ini tak terlihat tegang. Semangatnya untuk sembuh mengalahkan rasa takut dan miris. Malah, ia sempat melempar senyum dan mengacungkan jempol pada keluarganya yang menyaksikan lewat layar monitor.

Ihwal gangguan yang dialami sebelumnya, kepada TEMPO di sela-sela operasi, Reza mengaku sempat pusing berat sejak tiga bulan lalu. Rasa sakit itu hilang sejenak setelah ia minum obat dari warung, tapi lalu kambuh lagi. Lepas Lebaran deritanya bertambah, tangan susah digerakkan dan kaki kiri terpaksa diseret saat berjalan. Belakangan, ia juga mengalami muntah-muntah.

Hasil pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) menunjukkan adanya tumor di otak Reza. Mau tak mau, operasi menjadi jalan terakhir yang harus dijalani. Begitulah. Singkat cerita, operasi tiga jam bertarif sekitar Rp 10 juta itu sukses. Kini semua gangguan yang dialami Reza musnah. Menurut Widi, timnya berhasil mengangkat hampir seratus persen tumor di otak Reza. Massa tumornya lumayan besar, lebih gede sedikit daripada telur ayam negeri.

Bagi pasien, seperti halnya Reza, ada sejumlah keuntungan dari prosedur operasi itu. Selain terhindar dari kemungkinan salah potong, mereka juga lebih sedikit merogoh kantong. Sebab, obat yang dipakai lebih sedikit, dan tak perlu masuk ruang ICU. Bahkan, Widi berharap, nantinya pasien pagi dioperasi, sore sudah bisa pulang. Kalaupun harus minum obat, paling hanya antinyeri yang bisa diminum sendiri.

Meski operasi semacam itu sangat menjanjikan, Widi mengakui, prosedur tersebut punya keterbatasan: hanya bisa diterapkan untuk menangani tumor otak yang letaknya di permukaan, dan waktu operasinya tak lebih dari empat jam. Jika letak tumornya terlalu dalam dan rumit, sehingga operasi memakan waktu lebih dari empat jam, operasi dengan pembiusan total tak bisa dielakkan.

Dwi Wiyana (Bandung)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data