Tempat Langit dan Bumi Bertemu Brother Bear, film animasi yang kaya dengan ide-ide besar, miskin dengan visualisasi. |
Brother Bear
Sutradara: Aaron Blaise, Robert Walker
Skenario: Steve Bencich, Ron J. Friedman, Tab Murphy
Pengisi suara: Joaquin Phoenix, Jeremy Suarez, Jason Raize
Produksi: Walt Disney Pictures, 2003
Di timur laut Amerika Serikat, di antara bukit dan pepohonan kayu liar, Kenai memberontak, melawan nasib. Dalam Brother Bear, film animasi mutakhir keluaran Disney Studio, ada Kenai, seorang anak muda Indian, masih bau kencur. Ototnya belum lagi berkembang, di-liputi oleh cokelat kulitnya. Tapi imajinasi serta gairahnya menundukkan liarnya lingkungan meluap-luap, bak air bah.
Di sepanjang film yang berdurasi 86 menit itu, aktor Joaquin Phoenix, si pengisi suara Kenai, melakukan tugasnya tanpa catatan berarti, biasa-biasa saja. Namun Kenai merupakan sosok di titik sentral, dengan karakter yang perlahan bergerak transendental: berangkat dari kepribadian yang penuh cela, dengki, khilaf; berakhir di sebuah titik yang membebaskannya dari karakter-karakter "merusak" itu. Ya, tidak salah lagi, Brother Bear memiliki pesan moral teramat gamblang, dan itu membuatnya menyerupai khotbah ketimbang suatu hiburan kanak-kanak di masa libur semata.
Alkisah, di sebuah komunitas bangsa Indian, tersebutlah tiga bersaudara: si sulung Sitka (diisi suara D.B. Sweeney), si tengah Denahi (Jason Raize), dan si bungsu Kenai. Kehangatan hubungan ketiganya terusik manakala Kenai menolak totem, tanda berbentuk patung mini, simbol identitas diri yang diberikan kepada remaja akil balig yang beranjak jadi pemudapemberian yang tak lepas dari konotasi spiritual. Tapi Kenai tak habis pikir, mengapa ia mendapat totem seekor beruang yang sama sekali jauh dari kesan gagah, padahal Sitka mendapat seekor elang, lambang kepemimpinan, dan Denahi memperoleh serigala, simbol kebijaksanaan.
Dalam tradisi bangsa Indian itu, beruang adalah tanda cinta. Tapi, bagi Kenai yang kecewa, beruang sama saja dengan antitesis dirinya, sosok yang segenap cahayanya harus di- redupkan. Karena itu, darahnya lekas naik ke ubun-ubun ketika ia mengetahui seekor beruang telah mencuri persediaan ikan kaumnya. Hukumannyatentu sajamati. Dan Kenai bergerak menjalani sebuah perburuan, penuh amarah, kesumat, fatal, tapi kemudian terbukti "mencerahkan". Di tanah-tanah hijau dan berbukit dan di ketinggian yang bersalju pekat, ia kehilangan Sitka, tapi berhasil membalas dengan kematian sang beruang di tangannya.
Dendam lunas sudah, tapi penulis skrip Steve Bencich, Ron J. Friedman, dan Tap Murphy cepat menyodorkan solusi mistis. Cerita berlanjut dengan sebuah "karma", sekaligus sebuah terapi untuk menyingkirkan kesumat. "Spirit yang Agung", pelindung orang-orang Indian, melakukan intervensi. Kenai kini telah menjadi seekor beruang: berpikiran manusia, tapi berwujud dan berkata-kata bak beruang. Seumur-umur Kenai tak akan kembali menjadi manusia kecuali jika ia berhasil mencapai sebuah daerah di ketinggian, "tempat bertemunya langit dan bumi." Di pengujung cerita, Kenai berhasil mencapai tempat itu, tapi memilih tetap jadi beruang.
Mengharukan, kontroversial; yang jelas, inilah produk yang kelewat banyak menggunakan abstraksi buat menjelaskan sejumlah fenomena. "Solusi spiritual" yang disodorkan Brother Bear menyerupai teori reinkarnasi Plato ("recollection of the souls")tentang jiwa manusia yang terus-menerus belajar sebelum lahir kembali menjadi manusia atau makhluk lain. Sedangkan ide tiga ber- saudara, hidup dengan totem masing-masing, menyerupai Raja Lear-nya Shakespeare.
Brother Bear film untuk semua umur, tapi agak "diskriminatif" untuk audiens anak-anak. Brother Bear bukan Shrek, produk Pixar Studio, yang menawarkan humor-humor istimewa untuk audiens dewasa, sekaligus gambar-gambar, adegan penuh canda di antara pelintiran-pelintiran kisahnya. Brother Bear bukan pula Finding Nemo, yang bertema tidak istimewa tapi punya daya pukau visual universal: menyihir penonton muda dan tua sekaligus. Brother Bear kaya dengan ide-ide besar lagi abstrak, termasuk mitologi Indian kuno, tapi miskin visualisasi. Sayang, dua-duanya membosankan banyak orang.
Idrus F. Shahab
|