Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 44/XXXII/29 Desember - 04 Januari 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Kiriman Parsel pun Menakutkan

Apa yang membedakan antara meminjam uang di bank konvensional dan di bank syariah? Jika pertanyaan itu dilontarkan pada Asep Solichin, 35 tahun, dia akan menjawab, "Para petugas bank syariah tak pernah menanyakan fee dari uang yang akan dipinjam."

Jangankan meminta uang pelicin atau suap, "Saya kirimi parsel saat Lebaran saja mereka ragu-ragu menerimanya. Mungkin takut itu termasuk suap yang diharamkan," kata Asep, Direktur Utama PT Sofani Mitra Usaha, yang sejak setahun lalu mendapat pembiayaan untuk bisnis produksi garmen dari Bank Muamalat Cabang Slipi sebesar Rp 300 juta.

Kelebihan bank syariah yang lain adalah kemudahan proses mengurus kredit (dalam sistem syariah, lebih umum disebut pembiayaan atau financing—Red). Ia tak perlu repot menyediakan jaminan yang terlalu besar. "Yang penting, bisnisnya jelas dan berprospek."

Duit Rp 300 juta dari Bank Muamalat itu digunakannya sebagai modal membeli bahan-bahan pembuat sweater yang akan diekspor ke Jerman dan beberapa negara Eropa lain atas pesanan pemilik merek terkenal "Esprit". Jumlahnya rata-rata 12 ribu potong per bulan. "Saya juga memasok potongan-potongan setengah jadi untuk jaket dan sebagainya."

Dari kegiatan produksinya, Asep mengaku mampu mendapat keuntungan rata-rata 20 persen. Nah, angka itulah yang menjadi dasar pembagian hasil dengan bank. "Saya harus membaginya 18 persen untuk bank."

Angka 18 persen itu relatif tak berbeda dengan bunga pinjaman yang dipatok bank konvensional. Yang berbeda, kata Asep, di bank syariah, dirinya tak harus membayar setiap bulan, tapi empat bulan sekali. "Saya baru akan bayar jika hasilnya sudah ada. Dan karena ini ekspor, uang baru kembali dalam empat bulan itu," tutur pengusaha yang berbisnis di Pasar Kemis, Tangerang, itu.

Selain itu, besarnya porsi bagi hasil tidak sama untuk setiap pembiayaan, tergantung jenis usahanya. "Kami bisa negosiasikan. Kalau margin lebih kecil, bagi hasilnya juga bisa dikurangi. Di bank biasa, mana bisa begitu."

Y. Tomi Aryanto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data