Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 43/XXXII/22 - 28 Desember 2003
   
Gaya Hidup

Mengangkat Simbol Status

Belakangan banyak orang kaya mengoleksi gamelan. Biasanya mereka hanya ingin bernostalgia. Tapi ada juga yang tertarik karena bentuk, sejarah, dan kekompletannya. Rahayu Supanggah, pakar gamelan dari STSI Solo, mengatakan bahwa hingga kini gamelan masih menjadi simbol status seseorang. Selain dipandang sebagai orang berada, biasanya pemilik gamelan juga dianggap memiliki kepedulian terhadap kebudayaan dan kesenian. ”Memiliki barang langka bisa juga menjadi kebanggaan, lo,” katanya.

Kelangkaan gamelan, menurut Supanggah, karena banyak gamelan kuno buatan abad ke-16 hingga abad ke-18 yang ”memiliki sayap”. Gamelan-gamelan itu terbang ke luar negeri dan ditempatkan di gedung megah Boston Art Museum, Museum Raffles, juga museum di Paris. ”Memang ada gamelan kuno yang saya temui di luar negeri. Itu gamelan lama yang kualitasnya luar biasa. Saya tahu sendiri itu,” ujarnya.

Perginya gamelan ke luar negeri terjadi sejak zaman dulu, ketika misi kesenian kerajaan melawat ke luar negeri. ”Mereka membawa sendiri gamelan itu. Daripada dibawa pulang merepotkan, gamelan itu dihadiahkan kepada pemerintah setempat,” kata Supanggah. Contohnya, seusai pembukaan Expo di Menara Eiffel, Paris, gamelannya ditinggal. Saat ini, Supanggah memperkirakan, hanya 20-an set gamelan yang berada di luar negeri. Itu pun keluaran sebelum abad ke-18. ”Saya tahu persis karena hampir semua tempat di dunia yang memiliki gamelan pernah saya kunjungi,” ujarnya.

Dulu banyak gamelan bagus yang dimiliki orang Cina, tapi sudah dijual oleh anak turunnya. Meski demikian, Supanggah memperkirakan, gamelan-gamelan kuno itu masih disimpan orang-orang Cina kaya, juga pejabat setingkat menteri. Seperti halnya kolektor keris, biasanya mereka tidak mau begitu saja ditemui.

Sebagai seorang ahli, Supanggah sesekali pernah dimintai tolong memeriksa gamelan. Namun ia tidak sembarang mau karena ada syaratnya, yaitu punya komitmen terhadap gamelan, bukan sekadar untuk simbol prestisius. Orang yang pernah minta tolong itu di antaranya Aryo Sunaryo dari Surabaya, yang kini menyimpan satu set gamelan bagus dan sering dipinjamkan kepada para dalang.

Untuk menilai gamelan itu bagus atau tidak, kata Supanggah, antara lain bisa dilihat bentuk, suara, sejarah, atau keantikannya. ”Jadi, sangat tergantung siapa yang membeli atau menilai. Kalau seniman, ya, pasti dari suaranya, atau karena ada nilai-nilai tertentu,” katanya.

Gamelan kuno memang banyak dicari orang, karena pembuatannya tidak jauh berbeda dengan keris. Dibuat oleh orang pilihan yang biasa disebut empu, dan membuatnya pun tidak sembarangan. Saat membuat gong, sang empu harus bertapa serta menjalani upacara adat dan sesaji. Bahannya juga terbuat dari perunggu asli, sehingga bentuk dan suaranya lebih bagus. Itulah sebabnya, gamelan kuno mahal karena memiliki kualitas craft, sejarah, dan nilai budaya yang tinggi.

L.N. Idayanie, Imron Rosyid


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data