Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Wawancara

Beberapa Generasi Lagi, Manusia Tinggal di Angkasa Luar

Ketika buku Future Shock terbit pada tahun 1970, dunia kaget karena ramalan dalam buku itu sangat revolusioner. Menurut Alvin Toffler, sang penulis, berbagai cara hidup baru akan mengubahmanusia: komputer akan mendominasi pekerjaan manusia, komputer pribadi (PC) akandiciptakan, juga jaringan elektronik dan realitas virtual. Toffler jugamemperkenalkan istilah kaset video rekaman (VCR) sebelum barang itu diciptakan.

Satu dekade kemudian ia menulis ThirdWave, yang kian mengukuhkan namanya sebagai futuris—peramal trenmasa depan. Alvin mengatakan gelombang ketiga adalah revolusi informasisebagai kelanjutan revolusi industri 400 tahun lalu. Masyarakat informasi yanglebih efisien akan terbentuk. Internet, televisi kabel, dan kecenderungan orangbekerja dari rumah juga termasuk dalam ramalannya. Ia juga memakai istilahPC clone untuk meramalkan kemampuan manusia menduplikasi dirinya. Semuanya hariini terbukti. Di Cina, Third Wave pernah dilarang beredar. Tapi belakangan bukuitu malah dipakai sebagai panduan para manajer dan pemimpin di sana.

Alvin Toffler, 75 tahun, adalah futuris kelahiran Brooklyn, New York,dari orang tua Yahudi-Polandia. Ia menamatkan studinya di Universitas NewYork, AS. Sebelum menjadi wartawan, ia sempat bekerja sebagai tukang las danarsitek pabrik. Toffler menikahi Heidi Adelaide tahun 1950, mendapat seorangputri tunggal yang tiga tahun lalu meninggal dunia. Pasangan Toffler-Heidi kinibermukim di Los Angeles, AS.

Sebagai peramal masa depan tersohor, selama 3-4 bulan dalam setahunToffler dan istri berada di luar negeri untuk menjadi narasumber berbagai seminar. Iamemang mendunia. Selain menjadi profesor tamu di Universitas Cornell, AS, iapernah dipercaya menjadi penasihat Perdana Menteri Malaysia (ketika itu)Mahathir Mohamad untuk proyek Malaysia MultimediaSuper-Corridor—sebuah proyek teknologi masa depan dinegeri jiran tersebut.

Toffler mengaku terkesan dengan Mahathir, yang dianggapnyamampu menyatukan berbagai etnis dan sukses membangun Malaysia yang memilikivisi yang jelas tentang masa depan. Tapi, ketika rezim itu memenjarakanbekas Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada 1998, kekaguman itumemudar. Toffler lalu menyatakan berhenti menjadi penasihat Mahathir Mohamad.

Jika sedang tak ke luar negeri, Toffler mengisi hari-harinya di rumah.Usai mandi pagi, sekitar tiga jam ia membaca buku, lalu pergi makan siang tanpaditemani siapa pun sampai pukul 2-3 sore. Sambil makan siang, ia mengedithampir semua tulisannya. Ia memang sedang merampungkan bukunya yang baru,yang akan diluncurkan setelah pemilihan Presiden AS tahun depan. "Periodepemilihan umum tak bagus untuk pemasaran buku," katanya.

Sore hari, jika masih ada waktu, ia menonton film. Toffler mengakumenyukai film-film asing karena ia getol belajar kebudayaan. "Saya sering datang kepemutaran film yang digelar masyarakat Iran di Los Angeles," ujarnya.

Pekan lalu, Toffler berbicara tentang masa depan terorisme dalam forum"United in Diversity" di Nusadua, Bali.Wartawan TEMPO, I G.G. Maha Adi, menemuinya untuk sebuah wawancarakhusus. Berikut petikan wawancara itu.



Anda banyak meramalkan dunia di masa depan. Masih adakah peristiwahari ini yang membuat Anda terkejut?

Ada. Saya kaget dengan perkembangan terorisme. Dunia memang sudahbicara tentang teroris sejak dulu, dan saya menulisnya 30 tahun lalu. Tetapi,selama 10 tahun terakhir, terjadi perkembangan dahsyat, yakni kelompok terorisyang mengatasnamakan agama, terutamaIslam, dengan cara mengadopsi taktikterorisme di masa lalu. Yang mengejutkan, seperti yang dilakukan Usamah binLadin, mereka mengibarkan bendera melawan Kristen dan Barat.


Bukankah ini bukan sesuatu yang baru? Samuel Huntington sudahmenyatakan akan ada pertarungan antar-peradaban.

Memang benar Huntington menulisnya. Tapi dia menyamakanperadaban dengan agama. Menurut dia, yang berhadapan adalah Islam melawan Barat.Dalam buku War and Anti War, saya mengatakan ada pertarunganantar-peradaban, tapi bukan antar-agama. Itu perangantara cara hidup lama dan yang baru. Peradaban bisa terdiri dari agama,institusi, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Nah, ada kecenderungan untukmengalihkan isu teroris ini menjadi pertarungan antara Islam dan Barat. Ini sangatberbahaya untuk kita semua.


Usamah bin Ladin membenarkan Huntington?

Sayangnya, memang demikian.


Presiden George W. Bush mengaitkan pengeboman WTC tahun 2001dengan Perang Salib?

Ha-ha-ha..., saya kira dia tidak tahu apa pun dan tidak terlalu pedulidengan sejarah. Penulis naskah pidatonya semestinya tahu benar tentang hal ini.Saya sendiri kadang-kadang suka, kadang-kadang tidak terhadapnya. Ketikaberpidato baru-baru ini di London, ia mengutip dengan sembarangan sejarahInggris Raya dan karya Shakespeare. Saya kira ada orang yang meriset buat dia,dan Bush hanya membacanya tanpa tahu siapa nama-nama yang disebutkannyaitu, ha-ha-ha....


Menurut Anda, apa akar terorisme: nilai agama atau semata-mata soalekonomi dan politik?

Jika ada argumentasi yang mengatakan bahwa terorisme berkaitandengan ajaran agama, saya sungguh tidak tahu. Tapi soal ketimpangan ekonomi,saya bisa menganalisisnya. Setelah berdiskusi puluhan tahun dengan banyakcendekiawan muslim di dunia, saya berkesimpulan bahwa sebagian umat Islamcenderung pasrah. Akibatnya, sebagian besar dari mereka juga sangat fanatik,nrimo, misalnya terhadap sistem negara yang sebenarnya tidak adil bagimereka. Ketika saya masih muda dan pertama kali datang ke Indonesia, sayabertemu Nurcholish Madjid dan ia bertanya kenapa negara Islam tertinggal secaraekonomi dibanding Eropa dan Amerika. Saya katakan bahwa harus dicari didalam agama Islam apakah ada ajaran yang anti-inovasi. Dan saya terus terangbelum tahu jawabannya. Sikap nrimo bisa menyebabkan sikap anti-inovasi. Itulahsebabnya kenapa ada bagian dunia yang masih tertinggal.


Toh, sekarang Timur Tengah secara ekonomi bisa menyamai Eropa?

Itu datangnya terlambat. Perkembangan ekonomi membutuhkan berbagaiide baru dan inovasi, dan bukan hanya keuntungan dari perdagangan minyakbumi. Begitu masuk ke satu pasar, segera para pesaing akan berusahamelakukan yang lebih baik dengan metode pemasaran dan inovasi produk baru. Jadi,dunia ini berubah dengan sangat cepat. Kita membutuhkan orang-orang yang kreatif.


Banyak teroris memakai klaim ketidakadilan ekonomi atau politiksebagai argumen gerakan?

Isu kemiskinan, penyakit, lingkungan hidup, berbeda dengan terorisme.Tidak ada agama mana pun yang memberi legitimasi untuk membunuh wanitadan anak-anak tak berdosa. Bagi saya, musuh utama kita adalah fanatisme.Fanatik artinya keyakinan beragama seseorang begitu lemah sehingga ia tidakmampu mendengarkan pendapat orang lain.


Dari mana datangnya sikap fanatik?

Saya tidak tahu. Barangkali 5,8 persen manusia di dunia ini punyakecenderungan emosi yang sangat ekstrem. Lalu sebagian menjadi teroris.


Ketidakadilan yang dilakukan Amerika di Palestina, Irak, danAfganistan, bukankah bisa juga menumbuhkan terorisme?

Tapi para teroris malah mengebom Bali, yang tak ada hubungannyadengan masalah itu. Ketidakadilan itu menurut saya hanya dalih mereka.


Menurut Anda, terorisme tetap punya masa depan?

Sayangnya, jawaban saya ya. Seorang teroris bisa memakai alasan apa sajauntuk membenarkan tindakannya. Mungkin agama, ekonomi, politik,kebudayaan, dan sebagainya. Ia bisa memakai bendera agama, tetapi sebenarnyabermotif politik. Misalnya, ingin mengambil alih sumber daya alam dan kekuasaan.Teroris terlalu sering memakai alasan palsu untuk tindakan mereka. Tak adainvestor yang mau menanam modal di negara yang penuh teror.


Dalam buku Anda disebutkan bahwa, agar sebuah negara sukses melewatigelombang ketiga, dibutuhkan demokrasi. Apakah itu berarti demokrasi ala Barat?

Saya sangat menyayangkan apa yang dilakukanBarat dengan demokrasinya di seluruh dunia. Media massatelah mencekoki rakyat Amerika dengan menyatakan,jika pemilihan umum suatu negara diikuti banyak partai, ituartinya demokratis. Itu tidak benar. Ada negara yangmemiliki sepuluh partai, tetapi mendiskriminasi perempuan atautidak memiliki pengadilan yang adil. Itu semua tentubelum demokratis. Jadi, kita membutuhkan jenis demokrasiyang berbeda untuk kebudayaan yang berbeda. Hal lainyang saya tidak percaya adalah pendapat bahwaglobalisasi akan menghasilkan demokrasi.


Tapi, hal itulah yang dipercaya pemerintah AS.

Konsensus yang diyakini oleh Washington adalahbahwa globalisasi dan liberalisasi akan menghasilkandemokrasi. Saya mendiskusikannya dengan Bill Clinton dan saya tidakpercaya formula itu. Yang saya percaya adalah, pertama, liberalisasi belum tentupas untuk semua bangsa. Di sebuah negara, liberalisasi mungkin baru bisaditerapkan sepuluh tahun lagi. Dan harus diingat bahwa semua itu tidakotomatis menghasilkan demokrasi. Kedua, tidak mungkin membuat satu standardemokrasi yang sama. Seperti program IMF yang dilakukan di semua negaradengan resep yang sama. Itu namanya membuat standar demokrasi mekanistis.


Indonesia punya elemen gelombang ketiga yang Anda sebut—agraria,industri, dan sekarang sampai pada revolusi informasi. Buat Indonesia, apakah halini menguntungkan?

Fakta ini bisa menjadi keunggulan, tapi bisa juga menjadi pemicukonflik. Soalnya, cara hidup dan budaya yang berbeda membutuhkan sesuatuyang berbeda. Ketika industrialisasi datang ke Benua Eropa, terjadi konflik antaratuan tanah dan para industrialis. Inggris butuh waktu 50 tahun untukmenghentikan konflik ini. Di Prancis, pada abadke-18 dan ke-19 dibutuhkan usaha yang sangat besar untuk memisahkankepemilikan tanah dengan Gereja Katolik.


Lalu?

Saat itu Gereja Katolik merupakan penyumbang tanah terbesar untuksekolah. Mereka tidak menyukai sekularisasi, mereka tidak menyukai modernisme,dan tidak ingin tanah dipisahkan dari mereka. Begitu juga yang terjadi diAmerika ketika para tuan tanah di Selatan mempertahankan budaya perbudakanuntuk mendukung pertanian. Mereka menentang kaum yang lebih modern diUtara. Apa yang dibayangkan Lenin tentang komunisme Soviet setelah revolusitahun 1917 adalah demokrasi ala Soviet plus listrik. Listrik adalah simbolmodernisme.


Benarkah pergantian antar-gelombang selalu diikuti konflik?

Memang begitulah kenyataannya. Cina mengalami ketika akan menujugelombang ketiga. Mereka melewati gelombang kedua dengan sukses, lalu segeramasuk dengan sangat cepat ke gelombang informasi. Tetapi, akibatnya, orang Cinameninggalkan desa untuk berkumpul di perkotaan. Mereka tak mau bekerjasebagai petani karena berpendapat bahwa seorang petani adalah pekerja kasardan mengerjakan hal-hal kurang bagus.


Jadi, sistem politik—sosialis atau kapitalis—bukan menjadi penentukeberhasilan sebuah negara menghadapi masa depan?

Saya tidak bicara tentang sistem politik. Yang terpenting adalahstabilitas. Orang Amerika adalah orang yang paling tidak sabar mengikuti prosesyang terjadi di Cina, karena mereka menginginkan demokrasi hari ini juga.Akibatnya, mereka menekan Cina dengan segala cara. Tetapi, buatorang Cina, mereka hidup dengan ingatan bahwa revolusikebudayaan telah memakan 20 juta-30 juta korbanjiwa, sehingga kestabilan politik merupakan halterpenting. Ingat apa yang dilakukan pemerintah Cinaterhadap Falun Gong.


Maksud Anda, represi pemerintah Cina terhadapkelompok meditasi Falun Gong?

Falun Gong adalah satu-satunya gerakan di Cina yang berskala nasional. PemerintahCina merasa mampu mengelola sebuah konflik yang sifatnya lokal, tetapi takutbila konflik itu berskala nasional. Saya pikir, segala bentuk gerakan politik yangmembuat khawatir elite di tingkat nasional akan diberantas.


Ada ramalan, Cina akan mencapai sukses ekonomi tahun 2020. Apa yangakan terjadi dengan negara Asia lainnya?

Saya tidak tahu banyak tentang negara-negara Asia seperti Indonesia.Kenyataannya, banyak negara yang khawatir mereka akan kehilangan sumberpendapatan karena Cina. Contohnya Meksiko, yang sudah mengalamipengangguran massal karena pindahnya pabrik mereka ke Cina. Dalam pertemuan denganpara menteri ilmu dan teknologi se-ASEAN, saya ditanya bagaimana merekabisa memperkirakan kebutuhan Cina terhadap teknologi di masa depan.Inti pertanyaannya adalah bagaimana cara mengidentifikasi kebutuhanindustri pendukung dari industri di Cina secepat mungkin.


Begitu?

Negara ASEAN ingin memanfaatkan ceruk pasar teknologi Cina. Tetapiada hambatan besar karena Cina sensitif terhadap kegiatan mata-mata, sehingganegara lain sulit memasuki pasar Cina, khususnya di bidang teknologi. Masalahyang kedua, di masa depan tidak ada negara Asia yang dapat dibandingkansecara ekonomi dengan Cina. Mereka terlalu kecil atau tidak sekompetitif Cina.Tapi, saya pikir negara Asia lain masih bisa bermain di ceruk seperti produkpertanian.


Banyak orang menunggu, apa sih yang bakal terjadi dalam gelombang keempat?

Mulanya kami mengira Internet dan bioteknologi. Kami melakukandiskusi banyak sekali mengenai revolusi yang akan datang. Lompatan terbesarumat manusia pada gelombang keempat adalah era luar angkasa.


Maksud Anda?

Kali ini manusia ingin bermukim di berbagai planetseperti Mars atau di bulan dan planet lain. Inibenar-benar revolusi mahabesar. Ini bagian dari keyakinan saya.


Kapan akan terjadi?

Mungkin beberapa generasi lagi. Tapi gelombang keempat itu akandatang, dan saya pikir tidak terlalu lama. Pada saat itu,tercapailah kita menjadi organisme yang secarabiologis berbeda dengan hari ini. Mungkin 50 tahun lagikita tidak lagi memusingkan penyakit, karena sudahbisa mengubah semua bentuk kehidupan kita. Saya pikir akan selalu terjadikonflik moral dan agama terhadap perubahan-perubahan besar yang terjadi di duniaini. Tetapi, setelah mempelajari sejarah, saya berkesimpulan saya bukanpengagum masa lalu. n





Alvin Toffler

Tempat/tanggal lahir: Brooklyn, New York, 4 Oktober 1928

Pendidikan: Sarjana (BA) dari New York University (1949)

Pekerjaan:

  • Wartawan di berbagai surat kabardan majalah (1950-an)
  • Editor tamu majalahFortune
  • Profesor tamu di Cornell University
  • Konsultan ahli di Russel Sage Foundation

Karya: Future Shock (1970), Third Wave(1980), Powershift (1990), War and AntiWar (1993)

Organisasi:

  • Anggota New School SocialResearch (1965-1967)
  • Anggota Committee forUS-China Relations

Penghargaan:


  • Prix du Meilleur Livre Etranger (Prancis)
  • McKinsey Book Award (Amerika Serikat)
  • Centennial Award of the IEEI (AS)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Layanan Kesehatan Gratis Di Kebumen - 05 Sep 2008 | 15:26 WIB
Giliran Pendukung Syahrial-Helmy Rayakan Kemenangan - 05 Sep 2008 | 15:15 WIB
PDAM Protes ExxonMobil Yang Akan Menyedot Sumber Air di Dander - 05 Sep 2008 | 15:10 WIB
Hatta Minta Kegagalan Super Toy Tidak Dipolitisir - 05 Sep 2008 | 15:05 WIB
Pemerintah Harus Libatkan Organisasi Guru dalam Sertifikasi Guru - 05 Sep 2008 | 15:01 WIB
Lima Hari, Lima Jenazah Bayi - 05 Sep 2008 | 14:59 WIB
Klub Raksasa Inggris Bertambah Satu - 05 Sep 2008 | 14:58 WIB
Lima Hari, Lima Mayat Bayi - 05 Sep 2008 | 14:56 WIB
Pemerintah Diminta Segera Terbitkan PP Pendidikan - 05 Sep 2008 | 14:52 WIB
Minyak Tanah Non Subsidi Dijual Untuk Umum - 05 Sep 2008 | 14:50 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data