Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Olahraga

Berkah Bola Berbulu

Untuk pertama kalinya sepak bulu dipertandingkan dalam SEA Games. Semua medali emasnya disapu tuan rumah.

NGUYEN Thi Thanh Nga menimang sebuah benda berwarna jingga mirip kok bulu tangkis, tapi sedikit lebih besar. Setelah melakukan ancang-ancang, atlet putri Vietnam ini menyepak bola berbulu itu. Bola melambung melewati net dan disambut dengan dada oleh pemain Kamboja di seberang net, lalu ditendang lagi ke arah Nguyen. Beberapa kali kedua pemain sempat saling menyerang lewat sepakan yang memukau. Tapi Nguyen segera mengakhirinya dengan tendangan maut. Bola meluncur ke daerah lawan tanpa bisa dikembalikan lagi. Ratusan penonton yang memadati stadion tertutup Vinh Phuc, Hanoi, pun bersorak kegirangan.

Kedua pemain tidak sedang bermain sepak takraw. Selasa pekan lalu, mereka bermain shuttlecock pada babak semifinal SEA Games 2003. Dalam pertandingan itu, Nguyen menang 21-14 dan 21-0 atas Chea dari Kamboja. Akhirnya, di partai final, dia meraih medali emas dengan mengalahkan rekan senegaranya.

Permainan shuttlecock alias sepak bulu, yang berasal dari Cina, memang sangat populer di Vietnam. Menurut Truong Quang Trung, direktur departemen olahraga massal Vietnam, warga di negerinya sudah memainkannya sejak ratusan tahun silam. Hanya, mereka baru mempertandingkannya secara nasional pada 1986. Di tingkat internasional, prestasi mereka pun luar biasa. Dalam kejuaraan dunia 2002 di Hagen, Jerman, atlet-atlet Vietnam menjuarai empat dari tujuh nomor pertandingan. Tiga gelar lainnya disabet Cina.

Jangan heran jika Vietnam menyapu bersih tujuh gelar dalam SEA Games 2003, yaitu beregu putra-putri, tunggal putra-putri, ganda putra-putri, dan ganda campuran. "Kami punya sekitar 100 pemain di seluruh Vietnam," kata Truong.

Di negara asalnya, Cina, shuttlecock sudah dikenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Permainan ini mula-mula digunakan untuk melatih kekuatan fisik serdadu kerajaan. Dengan berdiri melingkar, para serdadu bergantian menendang kok. Sepak bulu kian berkembang setelah pada 1975 pemerintah Cina memasukkannya ke kurikulum sekolah dasar. Dunia pun lama-lama mengakui keberadaan olahraga ini seiring dengan berdirinya Federasi Shuttlecock Internasional pada 1999. Setahun kemudian, kejuaraan dunia digelar untuk pertama kalinya di Ujszasz, Hungaria. Sejak saat itu, kejuaraan dunia menjadi kegiatan rutin tahunan.

Sepintas, permainan sepak bulu tak ubahnya seperti sepak takraw, permainan khas Melayu, yang sudah lebih dulu dipertandingkan di SEA Games. Bola tidak boleh disentuh tangan, tapi harus dipantulkan dengan kaki atau anggota badan lainnya. Untuk nomor beregu, setiap tim bisa diperkuat enam pemain, tapi hanya tiga yang turun bermain. Sisanya menjadi pemain pengganti. Dalam partai beregu, setiap pemain boleh menyentuh kok dua kali sebelum mengumpan kepada teman atau mengirim langsung ke daerah lawan. Di nomor tunggal dan ganda? Sedikit berbeda. Pemain boleh menyentuh bola sampai tiga kali.

Penghitungan angkanya secara rally point, mirip bola voli. Pemain atau tim akan mendapat satu poin jika sepakan atau sundulannya masuk. Jika pemain gagal menyeberangkan kok atau membuat kesalahan, lawan mendapat tambahan satu poin. Setiap set terdiri atas 21 poin. Pemain atau tim yang menang berturut-turut dalam dua set akan keluar sebagai pemenang.

Bola yang dipakai dalam sepak bulu berbentuk lingkaran terbuat dari karet berdiameter 3,84-4 sentimeter dengan berat 30 gram. Empat bulu angsa sepanjang 13-15 sentimeter ditancapkan di atasnya. Lapangan yang digunakan juga mirip dengan bulu tangkis atau sepak takraw, dengan panjang 11,88 meter dan lebar 6,10 meter. Tinggi net untuk putra 160 sentimeter dan untuk putri 150 sentimeter.

Vietnam mempertandingkan cabang ini dalam SEA Games 2003 karena tuan rumah diberi kebebasan memasukkan delapan cabang yang tidak dipertandingkan dalam Olimpiade. Selain tuan rumah, negara yang ikut pertandingan shuttlecock adalah Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand. Kelonggaran ini membawa berkah karena sepak bulu menyumbangkan banyak medali emas bagi Vietnam.

Truong Quang berharap cabang ini tetap dipertandingkan dalam SEA Games. Alasannya, sepak bulu sangat cocok bagi semua orang karena mirip dengan sepak bola. "Indonesia bisa mengembangkan permainan shuttlecock dengan baik karena masyarakatnya suka sepak bola," katanya.

Sapto Yunus, Yudono Yanuwar (Hanoi)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data