|
DENGAN wajah tegang Utut Adianto menatap tajam papan catur di depannya. Tangannya terlipat di meja. Setiap kali memindahkan buah catur, ia bergegas menekan jam di sebelah kanannya. Memegang buah hitam, Utut sedang berpikir keras untuk menyelamatkan rajanya yang terkepung oleh pasukan Jason Goh Koon-jong dari Singapura. Utut akhirnya hanya bisa menggelengkan kepala ketika rajanya tak berkutik. Grand master andalan Indonesia itu akhirnya menyerah. Dengan senyum masam ia bergegas meninggalkan meja pertandingan di Van Don Sport Center, Kota Ho Chi Minh. "Berat sekali karena harus bertanding dua kali sehari," kata Utut tentang kekalahannya.
Kekalahan Utut di babak perempat final catur cepat perorangan putra SEA Games 2003 pada 5 Desember silam itu terasa menyakitkan. Betapa tidak. Utut, yang punya elo rating 2581, menyerah kepada seorang master FIDE yang hanya memiliki elo rating 2314. Kekalahan itu mewakili kegagalan cabang catur yang belum meraih emas hingga Jumat malam pekan silam.
Catur bukanlah satu-satunya cabang yang gagal. Sejumlah cabang lain juga gagal memenuhi target medali. Sepak bola menjadi cabang yang paling gagal. Tim putra-putri rontok di babak penyisihan. Keduanya menderita kekalahan yang sangat memalukan. Tim putra digulung Thailand 0-6, sedangkan tim putri disikat Vietnam dengan skor sama.
Sehari menjelang penutupan, Indonesia masih berada di peringkat ketiga perolehan medali dengan 53 emas, 64 perak, dan 95 perunggu. Hanya 17 cabang olahraga yang menyumbang emas dari 28 cabang yang diikuti Indonesia. Di antara cabang itu ada yang menuai prestasi lumayan, seperti karate dan pencak silat, dengan masing-masing empat emas. Sedangkan cabang judo, tenis, dan bulu tangkis menyumbang masing-masing tiga emas.
Sampai Jumat pekan lalu, Vietnam berada di puncak dengan 150 emas, 90 perak, dan 84 perunggu, diikuti Thailand 87 emas, 91 perak, dan 95 perunggu. Filipina dan Malaysia di urutan keempat dan kelima dengan masing-masing 43 emas.
Indonesia tampaknya sulit menyamai prestasi pada SEA Games 2001 di Malaysia, ketika merebut 72 emas, 74 perak, dan 80 perunggu. Saat itu tim Merah Putih juga menempati peringkat ketiga. Kali ini target tiga besar tampaknya bakal terpenuhi meski jumlah emas tak seperti yang ditargetkan sebelumnya, yakni 70 emas. Komandan kontingen Indonesia, Djoko Pramono, mengatakan bahwa target 70 emas itu didasarkan pada perkembangan cabang olahraga selama pemusatan latihan. Menurut Djoko, tidak terjadi salah perhitungan. Persoalannya, "Kita tidak mendapatkan semua informasi tentang peta kekuatan lawan. Bahkan ada yang sama sekali buta kekuatan lawan," kata mantan komandan marinir itu.
Meski begitu, Djoko mengaku gembira karena ada sejumlah atlet muda sudah mulai berbicara. Bahkan beberapa di antaranya bisa menyabet emas, seperti Rina Dewi Puspitasari (panahan perorangan putri), Simon Santoso (bulu tangkis beregu putra), dan Donny Utomo (renang 200 meter kupu-kupu). "Memang diperlukan keberanian untuk menurunkan atlet muda," katanya.
Usai SEA Games 2003, ada rencana besar yang akan dijalankan oleh KONI untuk merebut kembali gelar juara umum yang lepas sejak SEA Games 1999. KONI mencanangkan program Indonesia Bangkit. Djoko yakin, jika dijalani dengan serius, dalam tiga tahun ke depan olahraga Indonesia akan kembali berjaya. Tak cuma di tingkat Asia Tenggara, tetapi juga Asia.
Sapto Yunus, Yudono (Hanoi), Raju Febrian (Kota Ho Chi Minh)
|