Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Olahraga

Emas-Emas Penawar Duka

Sejumlah cabang menuai sukses di tengah paceklik prestasi atlet Indonesia dalam SEA Games 2003.

SENYUM tipis mengembang dari bibir Sayadin di suatu sore yang dingin Kamis pekan silam. Pedayung bertubuh atletis itu mengepalkan tangan ke udara setelah ujung depan perahunya menyentuh garis akhir di West Lake, Hanoi. Sayadin sore itu meraih emas di nomor kayak 500 meter dua pedayung (K2) bersama pasangan sehatinya, Laode Hadi.

Sayadin, 25 tahun, tampak cuek saja ketika mendapat ucapan selamat dan pelukan dari komandan kontingen Indonesia, Djoko Pramono. Ekspresi yang sama ditunjukkan ketika rekan sesama pedayung memberinya ucapan selamat. Tak ada kegembiraan berlebih meski ia baru saja meraih emas ketiganya di arena SEA Games 2003. Sebelumnya, lelaki asal Kendari, Sulawesi Tenggara, itu sudah meraih dua emas dari kayak 1.000 meter K1 (kayak satu pedayung) dan 1.000 meter K2, juga bersama Laode Hadi.

Sukses Sayadin mewarnai kedigdayaan Indonesia di cabang dayung. Dari 28 cabang yang diikuti atlet Indonesia, cabang "basah" inilah yang paling bersinar. Sayadin dkk. sukses mendulang 12 keping emas dari 25 nomor yang sudah dipertandingkan hingga Jumat malam, baik di kayak, rowing, maupun perahu tradisional. Perolehan ini melebihi perkiraan 10 emas yang ditargetkan Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI). Dua tahun sebelumnya, di Malaysia, dayung juga berjaya dengan merebut lima emas dari delapan nomor perlombaan.

Dengan tiga emas di tangan, Sayadin kebanjiran bonus. Ia sudah mengantongi bonus dadakan US$ 3.000 dari Taufiq Kiemas. Suami Presiden Megawati Soekarnoputri itu menyaksikan langsung keberhasilan para pedayung Indonesia di West Lake. Kantong Sayadin bakal makin tebal karena masih ada janji bonus Rp 30 juta dari KONI untuk setiap keping emas yang didapat. Tapi Sayadin merasa belum puas. Uang penting, tapi pekerjaan jauh lebih perlu buatnya. Setahun terakhir ini, ia hanyalah pegawai honorer di Kantor Pariwisata Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. "Yang saya harapkan adalah cepat diangkat sebagai pegawai negeri," kata Sayadin.

Lewat olahraga, ia berharap pengangkatan itu cepat datang. Dan ia berusaha sekuatnya untuk meraih tiga emas itu. Sejak Januari lalu, ia bersama 34 pedayung lainnya menjalani pelatihan keras di Danau Tanjung Bunga, Makassar. Seperti diakui pelatih Budiman Setiawan, persiapan yang panjang menjadi kunci keberhasilan dayung. "Sukses ini tentu bukan hasil pembinaan dadakan," ujar Budiman dengan muka cerah.

Kegembiraan tak cuma milik para pedayung. Pembalap putri Santia Tri Kusuma juga tak henti-henti menebar senyum setelah berhasil menyabet emas nomor 90 kilometer mass-start putri di jalan bebas hambatan Hoa Binh, Selasa pekan silam. Perempuan mungil ini memang pantas bergembira karena itulah emas kedua yang diraihnya di arena SEA Games 2003. Tiga hari sebelumnya, ia merebut emas pertama dari nomor 30,6 kilometer kriterium di pinggir Danau Hoan Kiem, Hanoi.

Siang itu Santia kembali memperlihatkan kematangannya sebagai pembalap jalan raya. Tampil tak diunggulkan, ia justru mengalahkan rekannya, peraih perak Asian Games 2002, Uyun Muzizah, yang lebih dijagokan. Dengan akselerasi lebih cepat, Santia juga meninggalkan pembalap tangguh Thailand, Monrudee Chapookam, serta Nguyen Thi Hoang Oanh dari Vietnam. "Saya puas merebut dua emas," ujar Santia sambil tersenyum.

Balap sepeda memang selalu menjadi andalan Indonesia untuk mendulang emas. Kali ini Santia dkk. merebut empat emas dari 10 nomor perlombaan. Dua emas lainnya direbut Ferinanto di nomor kriterium putra dan Sugianto "Hoho" Setiawan di nomor downhill putra. Sukses itu diraih setelah mereka berlatih keras selama setahun di Yogyakarta dan Subang. Dua tahun lalu, mereka lebih hebat dengan meraih 11 emas dari 20 nomor perlombaan. Tahun ini perolehan medali berkurang karena nomor trek tak diperlombakan.

Pada saat yang sama, di Soc Son Gymnasium, Hanoi, kegembiraan juga menyergap lifter putra Gustar Juniarto. Lifter yang berlatih di Pringsewu, Lampung, itu meraih emas di kelas 62 kilogram. Sukses ini menjadi pengobat kecewa setelah emas yang ia rebut dua tahun lalu di Malaysia dicabut panitia karena ia positif doping. Gustar merebut kembali emasnya dengan membuat angkatan total 290 kilogram (snatch 130 kg dan clean and jerk 160 kg). "Saya senang bisa merebut emas lagi," katanya.

Seperti sebelumnya, cabang angkat besi kembali menjadi lahan perolehan medali Indonesia. Tahun ini, para lifter Indonesia membawa pulang lima medali emas dari 13 nomor yang dipertandingkan—sama seperti dua tahun lalu di Malaysia. Empat emas lainnya juga direbut oleh lifter putra, masing-masing Yudi Suhartono (85 kg), Erwin Abdullah (77 kg), Mesdan Yunip (69 kg), dan Jadi Setiadi (56 kg). Perolehan ini sesuai dengan target semula. Hanya, mereka gagal memenuhi ambisi menyapu bersih di tujuh kelas putra.

Cabang atletik juga mencatat prestasi lumayan meski tak segemilang dayung, balap sepeda, dan angkat besi. Atlet atletik merebut empat emas—satu emas lebih banyak dibandingkan dengan SEA Games 2001. Hanya, perolehan ini tidak signifikan dengan 45 emas yang diperebutkan di induk segala cabang olahraga ini. Emas direbut oleh Ni Putu Desi Margawati (loncat galah putri), Supriati Sutono (lari 5.000 meter putri), Yurita Ariani (lontar martil), dan Erni Ulatningish (maraton putri).

Namun, di tengah paceklik emas itu, ada kesejukan yang ditiupkan Putu Desi. Gadis asal Bima, Nusa Tenggara Barat, itu meraih emas loncat galah sekaligus memecahkan rekor SEA Games dengan loncatan 3,95 meter. Rekor sebelumnya 3,90 meter atas namanya sendiri yang dibuat dalam SEA Games 2001. "Ini hadiah dari Tuhan," kata atlet berdarah Bali itu beberapa menit setelah merebut emas di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Senin pekan silam.

Senyum mereka menjadi penawar duka karena Indonesia kembali gagal menyodok ke peringkat atas perolehan medali. Sukses yang diraih cabang-cabang itu adalah buah dari pembinaan yang berkelanjutan. Mereka tak berhenti berlatih meski kejuaraan sudah berakhir. Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Djoko Pramono, yang juga menjadi komandan kontingen Indonesia, mengakui pola pembinaan seperti itulah yang segera diterapkan oleh KONI. Atlet-atlet muda potensial hasil SEA Games 2003 ini akan dilatih secara berkelanjutan, dengan harapan mereka bisa berprestasi dalam SEA Games 2005 di Manila.

Sapto Yunus (Jakarta), Yon Moeis, Yudono (Hanoi), Nurdin, Raju Febrian (Ho Chi Minh City)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data