Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Olahraga

Bangkitnya Negeri Paman Ho

SUASANA meriah mewarnai Kota Hai Phong malam itu. Ribuan orang—dengan atribut serba merah—tumpah ke jalan-jalan kota kecil 105 kilometer di sebelah timur Hanoi itu. Udara dingin tak menghalangi mereka berpawai gempita ke pusat kota. Deru sepeda motor dan kendaraan roda empat bersahut-sahutan dengan lengking trompet. Sembari mengibarkan bendera Vietnam, mereka tak henti-henti meneriakkan, "Vietnam vo dich" (Vietnam juara). Kemenangan prajurit Vietcong atas serdadu Amerika? Tentu saja bukan.

Yang dirayakan warga Hai Phong Kamis malam pekan lalu itu adalah keberhasilan tim sepak bola putri Vietnam. Mereka meraih emas dengan mengalahkan Myanmar 2-1 dalam babak final SEA Games 2003 di Stadion Lach Tray, Hai Phong.

Euforia kemenangan memang sedang melanda Vietnam—dan bukan dari cabang sepak bola putri saja. Stadion dan lapangan tempat berlangsungnya pertandingan SEA Games 2003 selalu sesak dengan penonton lokal. Mereka datang memberikan dukungan kepada olahragawan andalannya. Tak aneh bila atlet Vietnam tampil perkasa di sejumlah besar cabang olahraga.

Sejak pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara itu dibuka pada 5 Desember lalu, Vietnam tak terbendung. Dalam perolehan medali, mereka meninggalkan Thailand dan Malaysia, yang merajai dua perhelatan terakhir, di Brunei Darussalam pada 1999 dan di Malaysia pada 2001. Hingga Jumat malam atau sehari menjelang penutupan, Vietnam melejit di urutan teratas klasemen perolehan medali dengan 150 emas. Thailand, yang berada di posisi kedua dengan 87 emas, tampaknya bakal sulit mengejar. Apalagi Indonesia, yang tercecer amat jauh.

Keberhasilan itu tak diraih secara instan. Wakil Ketua Komite Olimpiade Vietnam, Dang Lam Son, 59 tahun, membeberkan resep keberhasilan mereka. Menurut dia, tak ada yang istimewa dalam persiapan Vietnam. Sukses diraih melalui pembinaan atlet-atlet muda berbakat sejak 12 tahun silam, tepatnya sejak SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Pembinaan olahraga sudah dimulai pada 1950-an, ketika Ho Chi Minh berkuasa. Pemimpin yang akrab disapa Paman Ho itu serius mendorong kemajuan olahraga negerinya. "Kami menginvestasikan banyak dana untuk atlet," kata Dang.

Vietnam telah menghabiskan dana tak kurang dari 5.000 miliar dong atau sekitar Rp 2,7 triliun untuk membangun sarana olahraga di sejumlah provinsi. Untuk menggelar SEA Games 2003, pemerintah Vietnam sudah merogoh kocek sekitar 500 miliar dong atau kurang-lebih Rp 274 miliar. Dana yang mereka habiskan jauh lebih besar dari yang dikucurkan Komite Olahraga Nasional Indonesia, yang "hanya" Rp 81,3 miliar, untuk persiapan atletnya.

Dengan dana besar itu, Vietnam mendorong pengembangan olahraga di seluruh pelosok negeri. Di setiap provinsi, mereka punya pusat pelatihan. Saat ini mereka punya sekitar 16 ribu atlet di seluruh negeri—1.600 di antaranya atlet nasional.

Dengan kesungguhan seperti itu, Vietnam sudah memetik buah manis berupa prestasi mencengangkan. Mereka berhasil menggusur Thailand dan Malaysia. Seperti diakui oleh Ketua Komite Olahraga Thailand, Pinyo Naroj, kali ini negaranya tak membidik gelar juara umum karena sadar Vietnam sulit dikalahkan. Nomor dua saja sudah cukup. "Kali ini kita harus mengakui persiapan Vietnam lebih matang," katanya.

Naroj menilai, Vietnam sebagai tuan rumah juga sangat diuntungkan. Selain mendapat dukungan moril dari penonton fanatiknya, Negeri Paman Ho meraup keuntungan dari cabang olahraga tradisional seperti shuttlecock. Penilaian Naroj tak keliru. Vietnam menyapu bersih semua (tujuh) medali emas yang diperebutkan di shuttlecock. Vietnam juga sempat dituding "main sabun" ketika merebut 12 emas dari karate.

Tapi Vietnam tak semata mengambil keuntungan dari cabang-cabang tak terukur itu. Mereka juga berjaya di cabang-cabang terukur. Tengok saja prestasi para atletnya di cabang menembak. Hingga Jumat malam, cabang yang baru mereka tekuni enam tahun terakhir itu menghasilkan 25 keping emas dari 42 nomor yang dipertandingkan. Padahal, pada 1997, para petembak Vietnam masih berguru kepada Indonesia. Ironisnya, kali ini sang guru tak kebagian emas.

Di cabang terukur lainnya, dayung, Vietnam sudah merebut tujuh emas, di atletik delapan emas, dan tim gulatnya memborong 14 emas. "Vietnam luar biasa. Mereka memang berhak mendapat kemenangan karena menyiapkan atletnya dengan sangat baik," kata komandan kontingen Indonesia, Djoko Pramono.

Kiprah Vietnam di arena SEA Games memang luar biasa. Setelah sempat absen 10 tahun, mereka tampil kembali dalam SEA Games 1989 di Kuala Lumpur. Dua tahun kemudian, di Manila, Vietnam memperlihatkan perkembangan luar biasa. Negara bekas jajahan Prancis itu menyodok ke peringkat keenam dari delapan peserta.

Perlahan tapi pasti, Vietnam muncul sebagai ancaman bagi negara lain, termasuk Indonesia. Dua tahun lalu, di Kuala Lumpur, mereka menempati urutan keempat dengan mendulang 33 keping emas. Ini prestasi luar biasa di tengah persaingan yang makin ketat.

Pemimpin kontingen Malaysia di Ho Chi Minh City, Dato Ho Koh Chye, mengakui Vietnam memang mengejutkan. Menurut dia, negeri itu telah menggalang bantuan dari pihak asing, terutama Cina, untuk memajukan olahraganya. Mereka mengirim atlet berlatih ke Cina, sedangkan Cina mengirim pelatih ke Vietnam. Dato Ho memperkirakan Vietnam tak hanya berjaya saat menjadi tuan rumah. "Saya perkirakan dalam 4-5 tahun ke depan mereka akan mampu berbicara di tingkat Asia, bersaing dengan Cina, Jepang, dan Korea," katanya.

Dato Ho tampaknya tak keliru. Kini Vietnam menyiapkan atlet-atlet cilik untuk Olimpiade di masa datang. Atlet yang rata-rata masih berusia tujuh tahun itu kini tinggal di sekolah berasrama didampingi pelatih-pelatih terbaik. Vietnam membidik prestasi lebih tinggi dalam Asian Games 2006 di Qatar. Bahkan mereka berbenah diri untuk mengincar posisi sebagai tuan rumah Asian Games 2010. "Kami juga ingin menjadi tuan rumah Olimpiade," ujar Dang.

Sapto Yunus, Yudono (Hanoi), Nurdin, Raju Febrian (Ho Chi Minh City)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data