Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Media

SIAPA tak kenal Bill Kovach. Ditempa pengalaman 43 tahun sebagai wartawan dan penulis, mantan Kepala Biro New York Times di Washington itu diakui sebagai salah satu "mahaguru" dunia pers. Ia adalahmantan kurator Nieman Fellowship di Harvard University, yang memilikiprogram jurnalistik tertua untuk wartawan paruh karier di dunia. Berbagaipenghargaan telah disabetnya. Salah satunya adalah Pulitzer, penghargaan palingbergengsi bagi wartawan.

Di tahun 2001, Kovach menulis buku The Elements ofJournalism dan memperkenalkan "sembilan elemenjurnalisme" yang mendunia. Dalam rangkapeluncuran bukunya yang diterbitkan Pantau dalam bahasa Indonesia, Kovachberkeliling Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta, dan Bali. Berikut petikanperbincangan dengan kakek enam cucu itu saat ia bertandang ke kantorredaksi TEMPO, Kamis pekan lalu.

Wartawan kerap menemui dilema, misalnya saat memberitakan konflikpengurus di sebuah lembaga hukum yang keberadaannya diperlukan rakyatbanyak. Bagaimana sikap Anda?

Menurut pengalaman saya, kewajiban menyampaikan kebenaran kepadapublik adalah hal terpenting. Saya pernah menulis skandal pemilu yangmelibatkan kawan baik saya—teman sepermainanfootball semasa SMA. Tulisan itumuncul di halaman depan, dan menyebabkan sahabat saya diadili. Pengadilanlalu memberi dia pilihan: dipenjara, atau bergabung kembali dengan dinasmiliter. Ia memilih yang kedua, lalu dikirim ke Vietnam dan terbunuh. Jadi, jikadirunut, tulisan saya mengakibatkan kematian dia. Tapi, itu akan terus sayalakukan karena itulah tugas saya sebagai wartawan.


Tak jarang wartawan menerima informasi penting dari narasumber yangbukan "orang baik".

Buat saya, yang terpenting bukanlah siapa sumbernya, melainkanseberapa solid informasi yang ia berikan.


Sejumlah media menugasi reporternya menyusup ke sebuah kelompok, lalumenuliskannya setelah dikonfirmasi. Itu bisa dibenarkan?

Yang terpenting, laporan itu lalu Anda konfirmasi kembali. Kami pernahmengirim reporter untuk bergabung dengan Ku Klux Klan. Untungnya, mereka takbertanya apakah dia reporter atau bukan. Tidak ada formulir resmi yang harusdiisi mengenai pekerjaannya. Reporter itu bilang dia ingin bergabung—maka,bergabunglah dia. Jadi, tidak ada masalah.


Dilema lain saat meliput konflik sosial yang brutal. Apakah sebaiknya perstak memaparkannya dengan gamblang agar tak menyulut konflik lebih besar?

Bagi saya, kalaupun cerita itu tak diungkap, publik akan tahu juganantinya. Malah mereka akan mendapat gambaran yang lebih mengenaskan dari yangAnda publikasi. Anda harus menampilkan keseimbangan fakta daripadamengandalkan rumor. Rumor akan cepat menyebar, dan orang akan menafsirkannyadengan perspektif masing-masing.


Jadi?

Wartawan harus menceritakan hal-hal yang belum dilaporkan. Kisah yangdisembunyikan akan lebih merusak. Beberapa tahun silam, sejumlah jurnalismuda di Rwanda (negara di Afrika yang dilanda perang etnis)—mereka berasaldari suku Hutu dan Tutsi—mendirikan stasiun radioJambo untuk mengimbangi propaganda pemerintah. Tujuannya:memberi gambaran kepada kedua suku yang bertikai, apa yang sebenarnyaterjadi. Mereka bekerja tak kenal lelah selama 24 jam, demi mencegah desas-desusmenyebar lebih luas. Apa yang mereka lakukan, menurut saya, adalah pekerjaanjurnalistik yang paling berani.


Di buku Anda dikatakan sumber anonim hanya bisa dipakai jikasetidaknya ada dua orang. Penjelasannya?

Menggunakan sumber anonim tunggal sangat berbahaya, karena Andamenggantungkan nasib Anda di satu tangan. Anda tak bisa memverifikasi apa yangdikatakan sumber itu. Soal ini memang mengundang perdebatan hangat.Misalnya pada kasus Lewinsky-Clinton. Kami menganalisis setiap cerita yangditulis surat kabar dan televisi. Hasilnya, di bulan pertama, 60 persen yangdikemukakan bukanlah fakta, melainkan cuma opini dan spekulasi. Ternyata,40 persen dari 60 persen itu berasal dari sumber anonim tunggal.


Bukankah "Deep Throat" dalam liputan Watergate merupakan sumberanonim tunggal?


Ada yang bilang begitu. Tapi ada yang berpendapat itu sebenarnya terdiri dari banyak sumber. Istilah "Deep Throat" mungkin digunakan agar memudahkan penulisan bukunya. Masalahnya, bagaimana jika ternyata informasi dari sumber tunggal itu salah? Kita membutuhkan lebih dari satu sumber anonim, dan mereka harus orang yang diketahui riwayatnya. New York Times punya ketentuan: reporter yang boleh menggunakan sumber anonim tunggal hanyalah mereka yang meliput lembaga yudisial, diplomasi, atau pemerintahan, yang secara hukum terikat untuk tak membocorkan informasi apa pun. Tapi mereka baru bisa menggunakannya setelah disetujui editor. Anda juga harus menjelaskan kepada sumber bahwa Anda akan mengaburkan identitasnya, tapi perlu menggambarkan profilnya, supaya bias yang mungkin timbul dari pernyataannya bisa dipahami.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Jakarta Bakal Diguyur Hujan - 30 Ags 2008 | 05:59 WIB
Ford Naik Lima Peringkat di CSI - 30 Ags 2008 | 01:31 WIB
Tiga Perempuan Peneliti Raih Fellowship For Women in Science 2008 - 30 Ags 2008 | 00:16 WIB
Indonesia “Juara” - 30 Ags 2008 | 00:04 WIB
Presiden Dukung Komisi Amandemen UUD 1945 - 29 Ags 2008 | 23:22 WIB
Direktur Kedaulatan Rakyat Meninggal - 29 Ags 2008 | 22:47 WIB
51 Industri Besar Kurangi Konsumsi Listrik - 29 Ags 2008 | 21:13 WIB
Direc Vision Tidak Bersalah Soal Monopoli Liga Inggris - 29 Ags 2008 | 21:10 WIB
Mengapa Mata Berkantung - 29 Ags 2008 | 20:53 WIB
Teleskop Antariksa Baru Siap Sisir Jagat Raya - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data