Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Laporan Utama

LAHIR dari rahim yang sama, tapi untuk urusan politik, tiga putri Sukarno memilih jalan sendiri-sendiri. Rachmawati mendirikan Partai Pelopor, Sukmawati maju dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme, sedangkan Megawati sudah jalan lebih dulu dengan PDI Perjuangan. Ketiganya siap bertarung dalam Pemilihan Umum 2004 nanti.

Massa yang direbut ketiga partai itu kurang-lebih sama: nasionalis, juga orang-orang yang masih setia kepada semangat dan ajaran Bung Karno. Di beberapa daerah, sejumlah tokoh "Partai Banteng Gemuk" sudah loncat ke kandang dua partai baru itu. Sejumlah analis politik lalu menghitung bahwa kehadiran dua partai itu akan menggerus suara partai Megawati dalam pemilu nanti.

Meski mengakui adanya pengaruh itu, Sutjipto, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, hakulyakin partainya masih berjaya dalam pemilu nanti. Segenap pengurus partai, kata Sutjipto, sudah melakukan evaluasi dan membuat peta kekuatan hingga ke kampung-kampung. Berikut ini petikan wawancara Sutjipto dengan Wenseslaus Manggut dari TEMPO, di ruang kerjanya di kantor DPP PDI Perjuangan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu pekan lalu.

Dua anak Sukarno bikin partai, yang bisa saja mengeruk suara partai Anda. Ada kiat khusus menghadapinya?

Kami tidak cemas karena secara ideologi pada dasarnya kami sama. Kalau ada yang pindah ke dua partai itu, saya kira tidak signifikan. Paling jumlahnya beberapa orang saja. Harus diingat bahwa yang pindah itu juga cuma orangnya. Belum tentu massanya ikut. Kami sudah melakukan evaluasi dan membuat peta kekuatan.

Bagaimana hasil evaluasinya?

Evaluasi kami sangat detail dan lengkap, bahkan sampai ke orang per orang. Misalnya, apakah kader kami di sebuah kecamatan akan pindah ke partai lain. Kalau pindah, kira-kira membawa berapa massa. Dan massa itu berapa persen dari kekuatan kami di kecamatan itu. Yang melakukan evaluasi adalah mereka yang berada di tingkat basis. Jadi cukup detail. Kesimpulannya, secara umum tidak ada pengaruh signifikan. Kami masih sangat optimistis.

Bisa Anda sebutkan beberapa wilayah yang masuk evaluasi itu?

Misalnya Jawa Timur, karena orang bilang massa kami di sana bisa berkurang. Tapi, dari evaluasi pengurus di tingkat basis, hasilnya biasa-biasa saja. Kami masih memasang target menang di Jawa Timur.

Tapi kader partai Anda di beberapa daerah, misalnya, pindah ke partai lain, terutama ke Partai Pelopor dan PNI Marhaenisme.

Tentu saja ada yang pindah ke partai lain. Umumnya karena sakit hati, tidak terpilih sebagai pengurus partai, dan tidak terpilih sebagai calon legislatif pada Pemilu 2004. Tapi jumlahnya tidak seberapalah.

Kira-kira berapa persen yang bakal pindah ke dua partai itu?

Saya tidak bisa menghitung, tapi kecil sekali. Kami justru tidak mencemaskan partai Ibu Rachma dan Ibu Sukmawati, tapi menghitung kekuatan partai lain yang infrastrukturnya sama kuat dengan kami.

Tapi tokoh berpengaruh seperti Meilono Suwondo dan Haryanto Taslam, bekas pengurus pusat, pindah ke Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK), dan Tarmidi, bekas Ketua PDI Perjuangan DKI Jakarta, pindah ke Partai Pelopor.

Memang betul, tapi kami tetap yakin pengaruhnya tidak besar ke tingkat massa. Massa kami adalah massa yang merasa memiliki partai ini, bukan memiliki tokoh.

Pernah membahas secara serius soal kehadiran dua partai itu dengan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri?

Belum. Memang ada pengurus yang pernah menyinggungnya, tapi Ibu Mega bilang, "Sejak kapan kalian takut?" Kami sudah teruji dengan segala kemungkinan, termasuk risiko yang paling berat sekalipun. Jadi, buat apa cemas?

Pernah bertanya kepada Megawati mengapa dua adiknya itu tidak bergabung saja di PDIP?

Tidak pernah. Mendirikan partai kan hak semua orang. Menurut saya, Ibu Mega tidak mempersoalkannya.

Menurut Anda, faktor Sukarno masih kuat untuk mempengaruhi massa?


Sukarno masih mendapat tempat di hati rakyat. Pengaruhnya masih ada. Pengaruh itu didukung oleh persiapan partai kami yang sangat matang.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data