Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Laporan Utama

Di kartu nama itu tidak hanya tercantum sebuah nama pemiliknya, tapi juga sebuah foto sang ayah, Sukarno. Mungkin foto itu dianggap sebuah tuah yang masih memiliki aura yang dahsyat. Atau, mungkin itu hanya sebuah kekenesan.

Yang jelas, D.M. Sukmawati Sukarno—satu-satunya anak perempuan Sukarno yang paling jarang muncul di muka publik dibanding Megawati dan Rachmawati—kini memutuskan menceburkan diri ke dunia politik praktis. Dari nama partai yang dipimpinnya, PNI (Partai Nasional Indonesia) Marhaenisme, dan dari kartu nama itu, Sukmawati akan memanfaatkan pengaruh nama besar Sukarno dan Marhaenisme dalam pemilu nanti. "Marhaenisme masih relevan di abad ke-21 ini," tuturnya kepada Jobpie Sugiharto dari TEMPO, Kamis siang silam di kantor partainya. Berikut petikan wawancaranya.

Mengapa Anda mengusung PNI Marhaenisme?

Sejak PNI diberangus dengan fusi menjadi PDI pada zaman Soeharto, para Marhaenis bertekad mendirikan lagi PNI dengan asas Marhaenisme. Setelah reformasi, ada kesempatan muncul partai-partai baru, kami ikut Pemilu 1999 tapi tak mencapai dua persen suara.


Kini tiga anak Sukarno bersaing dalam Pemilu 2004. Komentar Anda?

Sejak awal, Ibu Mega (kakaknya, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri) sudah mengerti. Saya katakan tetap berjuang dengan partai yang didirikan Bung Karno di abad ke-20. Sebelum mendirikan Partai Pelopor, Rachmawati pun sudah saya ajak bergabung, tapi dia ingin mendirikan partai sendiri.


Bukankah sudah disepakati yang mewakili keluarga Bung Karno di politik adalah Mega?

Oh, tidak. Masing-masing pribadi punya hak sepenuhnya untuk berjuang mengikuti keinginannya sendiri.


Kenapa harus mendirikan partai yang berbeda?

PNI Marhaenisme ini memang kelanjutan dari PNI, partainya Bung Karno. Tapi PDIP dan Partai Pelopor bukan.


Mengapa tak bergabung?

Sudah menjadi tren. Kelompok Islam pun terdiri dari beberapa partai.


Nanti pemilih nasionalis bisa bingung.

Begitulah kenyataannya di lapangan, agak mengecewakan. Pada Pemilu 1999, ada empat partai dengan lambang banteng dalam segitiga. Saya sudah berusaha menyatukan, tapi mentok, masing-masing berambisi menjadi pemimpin partai.


Bagaimana nanti kalau dukungan terpecah?

Mungkin memang harus begini prosesnya. Pada Pemilu 2009, bisa lebih sedikit.


Apakah Marhaenisme masih relevan dipakai?

Masih. Marhaenisme tak berbeda dengan Pancasila. Tapi Pancasila ideologi negara, sementara Marhaenisme ideologi partai. Masyarakat adil dan makmur (di Indonesia—Red.) belum tercapai dan nasionalisme terkait dengan identitas dan martabat bangsa.


Jika Anda jadi presiden, bagaimana menjalankan Marhaenisme?

Dalam kombinasi masyarakat agraris dan industri, sudah pasti ada perbedaan. Yang satu bergantung pada alat, dan lainnya bergelut dengan mesin-mesin. Pemberantasan korupsi harus berlanjut. Kita terpuruk karena KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).


Kemakmuran dan antikorupsi juga didengungkan partai lain. Lalu, apa bedanya?

Memang itu masalah yang mencolok di rezim Orba, sehingga partai-partai mengupayakan perbaikan. Tapi kurang-lebih ada dua ideologi: nasionalis sekuler dan Islam. Jelas ada perbedaan di antara keduanya.


Bagaimana kans Partai Pelopor?

Bagus juga. Ibu Rachma dan kawan-kawannya punya universitas. Jadi, ada juga massanya.


PNI akan bekerja sama dengan PDIP?

Saat ini, kami (bekerja) masing-masing. PDIP akan melihat kinerja kami.


Ada rencana berkoalisi dengan PDIP?

Bisa diprediksi demikian dengan mudahnya.


Kalau berkoalisi, lalu siapa calon presidennya?

Sekarang pemilihan presiden langsung, hak rakyat untuk memilih. Saya kan belum bilang akan berkoalisi. Cuma, prediksi untuk berkoalisi sudah dilihat oleh orang luar partai.


Bagaimana hubungan Anda dengan Mega?

Baik-baik saja.


Bagaimana hubungan Mega dengan Rachma?

Memang Ibu Rachma lebih emosional dibanding Ibu Mega. Jadi, ekspresinya begitu.


Apa masalah di antara mereka?

Saya tak mau berkomentar.


Sejak kecil, mereka ada masalah?

Enggak juga.


Mega paling diperhatikan Bung Karno dibanding adik-adiknya?

Tidak, (Bung Karno) adil.


Sejumlah partai mengusung nama Sukarno. Komentar Anda?


Saya kira tak ada masalah jika mereka ingin memeriahkan memori tentang Bung Karno dan mengamalkan Marhaenisme. Masyarakat tak akan bingung.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data