Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Luar Negeri

Lintas Internasional

Taiwan

Teguran Bush terhadap Taiwan


Di Gedung Putih, dengan Perdana Menteri Cina Wen Jiabao di sisinya, Presiden George W. Bush memberikan peringatan kepada Taiwan, Rabu pekan lalu. Ia berpesan agar Taiwan tak mengambil langkah yang akan memerdekakannya. Atau, menurut istilah Bush, "Langkah yang bisa menimbulkan ketegangan baru dengan Beijing."

Wen sengaja berkunjung ke Washington untuk mendapatkan penegasan sikap AS dalam masalah Taiwan. Dan Bush memastikan sikap negaranya. "Kami menentang keputusan unilateral apa pun, baik dari Cina maupun Taiwan, untuk mengubah status quo," katanya.

Perdana Menteri Wen Jiabao mengecam usaha Presiden Taiwan, Chen Shui-bian, untuk merevisi UU Referendum. Referendum yang memungkinkan rakyat memilih kemerdekaan dalam keadaan tertentu. Cina melihat perkembangan yang tak diinginkan ini dengan geram. Cina memandang Taiwan sebagai provinsinya yang memberontak, dan pernyataan kemerdekaan sebagai pemberontakan kaum separatis yang pantas ditumpas.

Di Amerika Serikat, Perdana Menteri Cina kembali melontarkan tawarannya kepada Taiwan untuk bergabung. "Kita bisa menerapkan satu negara dengan dua sistem, seperti yang berlaku di Hong Kong dan Makau," kata Wen Jiabao.

Rusia

Pemilu Berdarah-darah


Sebuah aksi bom bunuh diri disiapkan untuk menggempur gedung parlemen Rusia di Moskow, Selasa lalu. Tapi bom keburu meledak di tembok Kremlin, daerah yang bertetangga dengan gedung sasarannya. Aksi yang diperkirakan dibawakan oleh seorang wanita ini terjadi dua hari setelah kemenangan kubu Presiden Vladimir Putin dalam pemilu legislatif.

Menurut aparat keamanan, aksi itu menyebabkan sedikitnya 14 orang terluka, 5 di antaranya menderita luka yang sangat serius. Beberapa di antaranya mahasiswa Universitas Moskow. Sempat tersiar kabar bahwa wanita pembawa bom bunuh diri itu mengenakan bom yang terikat di tubuhnya. Dugaan ini dikaitkan dengan ditemukannya kepala korban di trotoar Jalan Mokhovaya, Moskow.

Sejauh ini pemerintah Rusia mengaku mendapat info bahwa pemimpin Chechen telah berencana mengganggu pemilihan. Namun belum ada birokrat Rusia yang menuduh pejuang Chechnya pelakunya. Begitu juga pihak yang mengklaim bertanggung jawab.

Inggris

Penyusup di Buckingham


Seorang pria tak dikenal telah menyusup ke halaman Istana Buckingham, Inggris. Aparat keamanan berhasil menangkapnya, Rabu pekan lalu. Ia menerobos pagar halaman istana Ratu Elizabeth II saat Sri Ratu sedang berada di dalamnya. Saat itu, Ratu dijadwalkan akan memberikan gelar Member of the British Empire kepada atlet rugby Jonny Wilkinson.

Sang penyusup langsung digelandang aparat keamanan ke markas kepolisian Belgravia, tak jauh dari lokasi Istana. Ini peristiwa yang terjadi tahun ini tentang adanya penyusup yang berhasil menembus lapisan pengamanan yang menjaga Ratu Elizabeth dan anggota-anggota lain keluarga Kerajaan Inggris. Polisi menolak isyarat kejadian tersebut berkaitan dengan aksi teroris.

Pengamanan keluarga kerajaan sempat ramai dibicarakan beberapa bulan silam, saat pelawak Aaron Barshack yang berbusana nyentrik berhasil masuk tanpa diundang ke pintu gerbang tempat pesta kostum HUT ke-21 Pangeran William di Kastil Windsor. Menurut penyelidikan aparat keamanan, Barshack berhasil melewati tak kurang dari enam tanda bahaya tanpa diketahui.

Zimbabwe

Mundur dari Persemakmuran


Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, memutuskan keluar dari keanggotaan Negara Persemakmuran (Commonwealth), pekan silam. Keputusan negara bekas koloni Inggris itu diduga berpangkal pada kekecewaan Mugabe atas hasil pertemuan puncak Persemakmuran di Abuja, Nigeria. Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa skorsing atas Zimbabwe diperpanjang sampai batas waktu yang belum ditentukan.

Skorsing itu dijatuhkan tahun silam. Saat itu Mugabe dituduh melakukan serangkaian pelanggaran hak asasi manusia dan kecurangan dalam pemilu, sehingga dirinya kembali terpilih menjadi presiden. Sejauh ini keputusan Zimbabwe itu membuat Persemakmuran pecah. Tiga negara Afrika, Namibia, Mozambik, dan Zambia, tidak setuju perpanjangan skorsing. Tapi juru bicara Persemakmuran, Joel Kabazo, mengingatkan, "Kami masih membuka pintu lebar-lebar jika Zimbabwe mau kembali lagi."

Telni Rusmitantri (AP, AFP, BBC)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data