Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Luar Negeri

Rasa Damai Tak Kunjung Mampir

Dua tahun sudah Taliban jatuh, dan kini saatnya mereka membangun kekuatan lagi. Loya Jirga menjadi arena pertarungan penegakan hukum Islam atau hukum sekuler.

SEORANG pria tepekur, menatapi sebuah tanah lapang yang senyap. "Bagaimana kami bisa memaafkan mereka?" katanya lirih. Haji Amir Mohammad, pria itu, hanya menerawang ke sebuah panorama. Di lapangan itu, anak-anak suka bermain. Dan di Desa Hutala, di pegunungan batu Afganistan itu, Sabtu lalu dua pesawat Amerika melontarkan peluru dan roket. Hasilnya, 10 warga tewas: satu lelaki dewasa yang segera menjadi mempelai dan sembilan anak-anak.

Anak-anak, perempuan hamil, orang tua, atau pesta pernikahan memang bukan sasaran serangan pasukan koalisi Amerika. Tapi bom yang dijatuhkan dari suatu ketinggian tidak mempunyai mata. Bulan lalu, enam warga jadi korban akibat serangan udara Amerika di Gardez, Provinsi Paktia. Tiga minggu sebelumnya, delapan orang, semua bagian dari satu keluarga, tewas gara-gara serangan sejenis. Dan tak kurang dari Presiden Hamid Karzai hingga Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menyatakan prihatin, bahkan protes. Tapi orang seperti Haji Amir Mohammad—apalagi yang lebih muda dan kuat—tak berhenti pada protes.

Sejak 2 Desember, Amerika Serikat mengerahkan 11.500 tentara untuk membersihkan Afganistan dari sisa-sisa Taliban, penguasa Afganistan sampai dua tahun silam. Dan Taliban terbukti bukan musuh yang lembek. Seorang pejabat militer koalisi menyebut, setidaknya pasukan koalisi harus menghadapi rata-rata 130 serangan setiap hari. Korban, termasuk kaum sipil tentunya, berjatuhan di seluruh wilayah Afganistan, dan—apa boleh buat—merangkaklah popularitas Taliban dari keterpurukannya.

Menurut Jason Burke dalam tulisannya di The Observer, ada empat kelompok Taliban baru yang bergerak. Mereka kelompok yang dipimpin mantan pemimpin Taliban yang sekarang berada di Pakistan, kelompok para komandan yang masih di Afganistan, kelompok yang belajar di sekolah-sekolah yang dikelola pendukung Taliban di Afganistan maupun Pakistan. Dan terakhir, mereka yang menyeberang ke Taliban karena tak suka dengan pemerintah pusat.

Afganistan dua tahun setelah perang besar adalah negeri yang terjepit: di antara pemerintah yang gagal menerbitkan rasa damai, dan dorongan untuk kembali ke "masa aman". Seperti diketahui, rezim Taliban opresif, tapi berhasil menegakkan ketertiban sepanjang 1996-2002. Adakah jalan ekstrapuritan ala Taliban itu solusi terbaik bagi Afganistan yang anarkistis? Pekan lalu, sekitar 500 orang mewakili 32 provinsi berkumpul di bawah sebuah tenda raksasa, di stadion Kabul. Itulah Loya Jirga, pertemuan akbar yang biasa dilakukan rakyat untuk menyelesaikan: soal pemilihan pemimpin, faksi yang bertikai, landasan konstitusi, dan masih banyak lagi.

Pada November lalu, mereka mengumumkan sebuah draf konstitusi setebal 50 halaman. Isinya sebuah kompromi antara rakyat Afganistan dan tuntutan negara-negara penakluk Taliban. Di sana disebutkan bahwa posisi presiden akan sangat kuat dan dipilih secara langsung. Lantas akan ada seorang wakil presiden dan kongres dengan sistem dua kamar. Bagi Barat, semua itu terdengar bagus, kecuali ketika para anggota merumuskan posisi agama di negeri itu—sesuatu yang dikhawatirkan bakal mengembalikan era Taliban.

Afganistan tak berubah. Ia negara Islam dengan nama resmi Republik Islam Afganistan. "Di Afganistan tidak ada hukum yang bisa bertentangan dengan agama yang disakralkan, Islam, dan nilai-nilai konstitusi," demikian ditulis dalam draf konstitusi. Dan ide penggunaan hukum Islam cukup populer di antara anggota Loya Jirga. Lembaga tradisional itu berhak mengubah seluruh isi draf konstitusi yang sudah disiapkan lebih dari setahun belakangan ini. "Dalam dokumen ini, tertulis membunuh penjahat tidak diperbolehkan, tetapi kamu perlu kisas untuk menghentikan kejahatan," ujar Nasrullah, 55 tahun, warga Provinsi Ghazni. Pendirian Nasrullah tegas: "Ini bukan hukum Taliban, tetapi hukum Islam."

Tapi pertarungan si konservatif lawan si progresif dalam Loya Jirga berlangsung panas dan alot. Draf konstitusi ini telah menjadi bulan-bulanan kritik dari seluruh penjuru faksi politik. Kelompok pendukung perlindungan hak asasi manusia mengkritik konstitusi ini gagal menjamin perlindungan akan hak-hak perempuan, independensi sistem hukum, serta perlindungan kelompok minoritas. Delegasi dari Provinsi Ghazni dan Parwan menunjuk banyak pasal yang bertentangan dengan Islam.

Loya Jirga banyak diharap, tapi banyak persoalan di luar jangkauannya. Di luar Ibu Kota Kabul, misalnya, para tuan tanah yang berkuasa sering bertindak sewenang-wenang. Mereka punya milisi khusus buat melindungi segenap kepentingannya. Memang, sejak jatuhnya Taliban, Amerika dan koalisi terus menyokong milisi dan tuan tanah untuk memerangi sisa-sisa Taliban. Tapi, sayangnya, pasukan koalisi tidak begitu tegas saat para anggota milisi ini melakukan teror dan intimidasi pada rakyat, persis saat Taliban mengancam rakyat yang tidak taat.

Suasana anarkistis menguntungkan mereka yang kuat. Baru-baru ini Human Right Watch mengirim surat ke Presiden Karzai. Mereka menemukan berbagai intimidasi dan teror dilakukan oleh para penguasa. Di Provinsi Badakshan, seorang kandidat delegasi Loya Jirga menarik diri dari pencalonan setelah ada ancaman mati dari komandan militer Mullah Abdul Rahman. "Jangan mencalonkan diri. Kalau tidak, kami akan membunuhmu dan melemparkan mayatmu ke Sungai Kokcha," ancamnya. Mullah Abdul Rahman dikenal dekat dengan mantan presiden Burhanuddin Rabbani yang begitu berkuasa di Badakshan. Akhirnya, Mullah Abdul Rahman dan Rabbani yang berangkat ke Loya Jirga. Padahal, menurut keputusan presiden yang keluar Juli lalu, tidak boleh ada pejabat militer yang menjadi anggota delegasi Loya Jirga.

Gubernur Herat, Ismail Khan, juga tidak membiarkan siapa pun menentangnya. Maulani Khudada, seorang tokoh agama, ditembak pada awal Oktober lalu karena dia mengkritik Ismail Khan. Sebelumnya, dua orang lainnya yang sering mengkritik Ismail Khan juga tewas dibunuh. Ancaman semacam ini mejadi hal yang begitu biasa di hampir semua provinsi di Afganistan. Taliban memang telah digantikan oleh tiran-tiran lain. Rakyat Afganistan lelah menghadapi semua ini, tapi kekuasaan tidak di tangan mereka. Dari satu rezim ke rezim lain, posisi rakyat tidak berubah: korban.

Kita tahu, rakyat sipil menjadi korban tatkala pasukan koalisi Amerika memburu Mullah Wazir, bekas anggota Taliban yang diduga mengatur dan mengongkosi segenap serangan di Afganistan. Serangan dua pesawat Amerika, Sabtu pagi, ternyata meleset 30 meter dari sasaran. Bangunan tempat kediaman Wazir tegak tak tersentuh, tapi sebaliknya sembilan anak menemui ajalnya. Amerika kemudian minta maaf. Tapi, "Saya tidak bisa menjamin bahwa kami tidak akan melukai orang sipil lagi," ujar Letkol Bryan Hilferty, juru bicara pasukan koalisi.

Purwani Diyah Prabandari (The Washington Post, Reuters, AP, Guardian)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data