Mengangkat ’Biji Salak’ dari Otak Seorang penderita tumor otak mengalami gangguan hormonal. Tubuhnya kurus-kerdil, susah makan, dan matanya rabun. |
Sepiring nasi, sayur sawi, ikan, plus segelas susu—menu sarapan yang boleh dibilang memenuhi kebutuhan gizi. Tapi bukan itu yang membuat Saiful Razak bungah. ”Saya senang karena tubuh jadi segar,” kata jejaka 14 tahun itu sebelum bergegas ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, untuk menjalani terapi radiasi. Bagi Saiful, tubuh segar terasa istimewa karena sebelumnya, selama lima tahun, ia tak bisa menikmati sedapnya makanan. Sesendok nasi, dengan disuapi sekalipun, belum tentu habis dalam sejam. Bulan lalu operasi pengangkatan tumor di otaknya sukses dan karena itu penderitaannya dalam urusan makan pun berakhir.
Semua keanehan anak pasangan Hasril dan Misnawati, warga Bintaro, Jakarta Selatan, itu mulai muncul saat ia duduk di kelas 5 sekolah dasar. Nafsu makannya berkurang dan terus berkurang. Walhasil, fisiknya nyaris tak mengalami pertumbuhan. Saat masuk SMP, nafsu makannya makin hilang. Bahkan, jika disuruh makan, seperti muncul penolakan dari Saiful. Selain itu, kepalanya sering pusing, perut mual, terkadang diikuti muntah. Enam bulan lalu deritanya bertambah: pandangan mata kirinya kabur dan makin parah.
Berbagai penderitaan itu menciptakan sosok Saiful yang baru. Tubuhnya pucat, kurus, dan terbilang kerdil. Tinggi badannya 128 sentimeter dengan berat badan maksimal 30 kilogram. Normalnya, tinggi badan anak seusia Saiful bisa mencapai 150 sentimeter dengan bobot 45 kilo. Begitu kecilnya Saiful, sampai-sampai ibunya menyebut ”kayak anak mainan, macam si Unyil”. Tak hanya itu, pertumbuhan pubertasnya juga terganggu. Alat kelaminnya, maaf, hanya seukuran jari kelingking orang dewasa.
Semula dokter di Rumah Sakit Cipto menyebut Saiful mengalami kekurangan hormon pertumbuhan dan pubertas (testosteron). Terapi hormon pun dilakukan. Hormon penumbuh disuntikkan enam hari dalam seminggu. Tapi, setelah berlangsung dua tahun—dari empat tahun yang direncanakan—tinggi Saiful hanya bertambah tujuh sentimeter. Hasilnya dianggap tak signifikan. Terapi yang menghabiskan Rp 4 juta per bulan itu dihentikan. Lalu, sejak tiga bulan lalu, terapi hormon pubertas disuntikkan sekali sebulan. Hasilnya belum jelas benar. Padahal, ini urusan penting. Jika penis tak dapat dibesarkan, ”Saiful tak bisa punya keturunan jika berumah tangga,” kata Hasril.
Yang bikin pusing, terapi hormon ternyata tak membuat penderitaan Saiful berkurang. Dokter pun menduga ada tumor di otak Saiful. Pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) dilakukan. Hasilnya positif.
Untuk menghilangkan tumor itu, Saiful dianjurkan menjalani operasi di Singapura atau Australia. Di kepala Hasril, terngiang-ngiang pesan dokter, ”Jika operasi di sini (Indonesia), umumnya pasien tak bangun lagi.” Pegawai Departemen Keuangan di Serang, Banten, itu pusing tujuh keliling. Maklum, biaya operasinya mencapai Rp 300 juta-400 juta.
Untunglah, suatu ketika Hasril bertemu koleganya yang menyebutkan Rumah Sakit Siloam Gleneagles, Tangerang, bisa menangani tumor otak. Guru SMP Al-Hasanah, Ciledug, tempat Saiful sekolah, juga punya murid dengan pengalaman mirip Saiful dan telah dapat ditangani dr.Eka Wahjoe dari Siloam. Setitik harapan muncul. Hasril menemui Eka. Singkat cerita, dengan biaya Rp 43 juta, operasi tumor sebesar biji salak yang lazim disebut craniopharyngioma itu sukses.
Operasi yang berjalan sekitar enam jam itu terbilang rumit. Sebab, tumor itu diapit talamus (pusat sensibilitas) dan hipotalamus (pusat hormon). Untuk menuju lokasi tumor, Eka dan timnya harus membuka tengkorak, lalu menyisihkan otak kanan dan kiri. Cedera sedikit saja, bencana bisa timbul: Saiful bisa mengalami diabetes insipidus yang kencingnya 10 liter sehari, atau mengalami badai hipotalamik (hypothalamic storm) dengan tanda kejang-kejang, bahkan koma. Tapi, kekhawatiran itu tak terjadi. ”Kami berhasil mengangkat 98 persen tumor, sisanya bisa dibabat dengan terapi radiasi,” kata Eka.
Bagi dunia medis, craniopharyngioma memang dikenal banyak menyerang anak usia 5-10 tahun, tak peduli laki-laki atau perempuan—walau ada juga orang dewasa yang terkena. Jenis tumor ini merupakan 5-13 persen tumor otak yang menyerang anak. Saiful adalah salah satu yang terkena. Diduga, tumor itu sudah diidap sejak lahir. Cuma, setelah operasi, penderitaannya amblas. Tak ada lagi mual, muntah, pusing, emoh makan, dan penglihatan kabur. Keluarganya berharap, nantinya ”burung” Saiful juga bisa normal. Kini, selain pipinya agak tembem, ”Tingginya, rasanya, kok tambah juga,” kata Misnawati, sumringah.
Dwi Wiyana
|