Mencari Teater dari 1970-an |
Radhar Panca Dahana
Pengamat budaya
Ketika Richard Schechner pada dini 1990-an menawarkan perubahan nama jurusan seni teater menjadi jurusan seni pertunjukan, banyak ahli dan pengamat teater di Amerika yang bereaksi. Perubahan itu akan memberikan implikasi yang tidak kecil, tidak hanya pada luas wilayah studi itu, tapi juga pada pemahaman dan definisi teater itu sendiri. Dan ternyata memang itulah hasil yang diinginkan Schechner, orang Yahudi yang memilih Hindu sebagai agamanya. Perlahan, perubahan nama jurusan terjadi dan pemahaman orang terhadap teater pun kini berganti.
Pada saat yang bersamaan, di Indonesia terjadi perkembangan yang cukup mengesankan dalam hidup berteater. Beberapa pertunjukan teater muncul, tidak hanya melibatkan secara ketat disiplin seni lainnya di atas panggung, tapi juga menyajikan eksperimentasi yang menghadirkan perangkat dan efek teknologi terbaru, terutama audiovisual. Beberapa unsur yang sebelumnya dianggap "luar" dan "asing" itu kerap hadir secara emansipatoris, sehingga terkadang beberapa lembaga dalam dramaturgi atau literatur klasik seperti sutradara, penata kostum, dan bahkan aktor pun tampak minor atau inferior ketimbang unsur-unsur di atas.
Teater memang tengah mengalami reinterpretasi: dari sebuah panggung tridimensional ala Poetics-nya Aristoteles menuju panggung multidimensi yang bahkan bisa terjadi tanpa kehadiran apa pun atau siapa pun. Sementara sebermula teater adalah selebrasi dan kekhidmatan, bagi pekerja teater masa kini seni ini menjadi sesuatu yang niscaya, bahkan bisa saja hadir untuk sesuatu yang sia-sia. Tanpa pergulatan intelektual dan akademik yang tekun, teater Indonesia pun mengalami pergeseran, sebagian dalam praktek, sebagian dalam produk akhirnya.
Persoalannya kemudian, produk akhir dari eksperimen ini tak cukup dilengkapi oleh perangkat argumentatif yang bisa menjelaskan alasan: untuk apa eksperimen itu dilakukan, dengan tujuan apa, di mana dasarnya, kenapa dipilih bentuk tertentu, atau banyak pertanyaan lainnya. Ini satu persoalan yang pada gilirannya melahirkan bentuk-bentuk pertunjukan dengan elemen yang berserakan tanpa koherensi, simbol yang tumpah-ruah tanpa kejelasan simbolisasi, atau permainan bahasa yang hanya demi kegenitan belaka. Maka wajar jika kegamangan pun terjadi, tidak hanya di kalangan penonton, tapi juga pada wartawan dan pengamat, karena pertunjukan semacam itu menjadi obskur dan sulit dalam pemaknaannya. Perkara inilah yang tampaknya mendesak para pekerja teater belakangan untuk mengenali lebih dalam kenyataan faktual dan artistiknyasebuah perkara yang memberikan urgensi untuk mempertimbangkan kembali secara kritis teater 1970-an.
Mengapa 1970-an? Dasawarsa yang penuh eksperimentasi ini menjadi penting bukan melulu karena karya-karya teatralnya yang di kemudian hari melegenda, tapi juga karena menjadi momentum lahirnya dua kecenderangan utama dalam dunia teater modern kita. Bermula dari Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang didirikan oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani, selama kurang lebih dua dasawarsa setelahnya, kehidupan teater Indonesia dikuasai oleh standar pemahaman yang European. Teori dan praktek teater Stanislavskian atau Boleslavskian menjadi panutan, tidak hanya di Jakarta, tapi juga bahkan hingga pionir-pionir teater di Yogya seperti Umar Kayam, Kirjomulyo, atau B. Soelarto.
Situasi itu mulai berubah ketika Umar Kayam menemukan energi yang lain dalam diri W.S. Rendra, yang ia sutradarai pada 1955 dan diberinya kesempatan menyutradarai pada tahun berikutnya. Teater di Yogya seakan bergairah dengan eksentrisitas dan gaya naif dari teaterwan yang juga penyair itu. Terlebih setelah ia pulang dari Amerika, belajar teater atas nasihat Dr. Henry Kissinger. Hidup teater yang sangat "ATNI" seperti mendapat napas baru. Rendra, yang kerap canggung dengan dramaturgi klasik itu, dan juga telah mengisap gairah pembaruan dan anti-kemapanan Amerika, seperti melahirkan stream baru dengan pertunjukan-pertunjukannya yang kontroversial tapi segar.
Maka 1970-an bukan cuma masa ketika seni "modern" Indonesia mengalami zaman "emas"-nya, melainkan juga sebuah keramaian teater yang diisi oleh tokoh dan pertunjukan dari dua kecenderungan di atas. ATNI, yang berlanjut pada Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), dan kini Institut Kesenian Jakarta (IKJ), menghadirkan Wahyu Sihombing, Teguh Karya, dan Pramana Pmd., dengan realisme dan well made play-nya. Sedangkan kecenderungan "Yogya", selain oleh Rendra, tentu saja diwakili oleh Arifin C. Noer, Putu Wijaya, dan Ikranagara, dengan gaya eksotik, urakan, kritis, dan "eksperimentalis"-nya. Dua kecenderungan utama inilah yang selanjutnya mempengaruhi perjalanan teater dalam bentuk, gaya, metode latihan, hingga pola organisasi dan cara hidupnya.
Secara teoretis dan praktek, dua kecenderungan di atas memang telah ketinggalan "zaman", walau tetap saja selalu ada tempat bagi ekspresi yang telah klasik. Namun, untuk menanggapi perkembangan dunia ide dan dunia materiil mutakhir, dua kecenderungan terasa kurang memadai lagi. Lahirnya teater-teater buruh, feminis, teknologis, atau lingkungan meminta eksplorasi teatral yang lebih jauh, ruang yang lebih terbuka dan variatif, benda yang jadi aktor, tubuh yang terkodifikasi, atau keterlibatan sosial yang lebih dalam.
Teater kini memang sebuah ide yang sangat terbuka. Ia tinggal sebagai ruang kosong, tempat pemaknaan paling purba bisa dimulai. Dengan apa saja. Dari situ, ia bisa menjadi wacana, medium, atau ekspresi siapa saja. Hingga seorang pendidik macam Dr. Arief Rachman dapat mengatakan, sekolah tanpa kegiatan teater adalah lembaga yang "idiot". Dan lebih dari itu, bukankah kita semua memang tengah dan selalu memainkan peran? Bukankah kita adalah insan yang teatrikal dan hidup menjadi panggung yang hanya menunggu curtain down-nya? Schechner, saya tahu, pasti setuju dengan itu.
|