Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Indikator

Ragu Komisi Antikorupsi

Menurut Anda, apakah kinerja Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah maksimal?
(05 - 12 Desember 2003)
Ya
4.8%24
Tidak
83.39%236
Tidak tahu
8.13%23
Total100%283


Akhirnya ada 10 nama yang ditetapkan sebagai calon pemimpin Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Nama-nama itu, yang diperoleh setelah panitia seleksi melakukan seleksi pada 30 Oktober, oleh Presiden sudah diserahkan ke DPR untuk diuji kembali sebelum dipilih separuhnya untuk duduk di Komisi.

Banyak kritik yang berkaitan dengan komisi itu. Ada yang ditujukan ke panitia seleksi, berkaitan dengan nama-nama calon yang akhirnya masuk. Selain lolosnya beberapa nama yang dinilai kapabel, ada juga soal masuknya mantan jaksa, polisi, dan bekas pejabat negara dalam tim pemberantas korupsi itu. Responden meragukan orang-orang itu bisa menjadi ”sapu yang bersih” untuk membereskan kotoran korupsi di negara ini.

Seorang responden jajak pendapat Tempo Interaktif dari Bogor mengingatkan soal sanksi yang membuat jera. Dia menilai, selama ini hukuman buat para koruptor sangat ringan sehingga tak membuat takut orang. Dia mengusulkan agar para koruptor, kalau perlu, diberi hukuman gantung. ”Seperti di Cina,” ujarnya.

Kritik dan pesimisme itu memang tak lantas mengurangi arti penting Komisi. Semua pandangan minor adalah refleksi dari menggumpalnya kedongkolan masyarakat terhadap korupsi di negara ini, di semua tingkatan. Akibatnya, lembaga apa pun yang lahir dipertanyakan efektivitasnya.

Kini, bola ada di tangan DPR. Apakah Dewan akan mendengar aspirasi itu, atau justru mengabaikannya?





Indikator Pekan Ini:

Minggu ini perbincangan warga Jakarta memusat pada masalah lalu-lintas, khususnya mengenai rencana dijalankannya busway dan perpanjangan waktu pemberlakuan three-in-one di jalan utama. Perbincangan itu muncul setelah tim proyek busway menyampaikan perkembangan pekerjaannya kepada publik. Tim juga membuka adanya rencana untuk membatasi kendaraan pribadi di jalan utama berdasarkan nomor belakang tertentu secara bergiliran.

Hal itu menimbulkan reaksi beragam dari warga masyarakat. Ada yang memprotes, tapi ada juga yang mendukungnya. Apakah busway merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah lalu-lintas di Jakarta? Kami mengundang Anda untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi ini dengan mengikuti jajak minggu depan di www.tempo.co.id.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Portugal Optimistis Kalahkan Denmark - 07 Sep 2008 | 09:11 WIB
Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac - 07 Sep 2008 | 08:52 WIB
Capello Belum Puas dengan Cole - 07 Sep 2008 | 08:42 WIB
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok - 07 Sep 2008 | 08:30 WIB
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas - 07 Sep 2008 | 08:07 WIB
Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku   - 07 Sep 2008 | 08:05 WIB
Dua Aksi Massa Berpotensi Macetkan Jalan - 07 Sep 2008 | 07:50 WIB
Spanyol Banyak Buang Peluang - 07 Sep 2008 | 07:37 WIB
Arus Lalu Lintas Ibukota Pagi Ini Lancar - 07 Sep 2008 | 07:30 WIB
Jakarta dan Sekitarnya Berawan   - 07 Sep 2008 | 07:19 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data