Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Burung Besi Masa Depan

Seabad silam, pesawat Wright bersaudara mengudara sejauh 37 meter selama 12 detik. Kini, pesawat mampu terbang ke ruang angkasa lebih cepat dari suara, atau mengangkut sekaligus 500 penumpang.

Inovasi bermula dari inspirasi. Ketika Wilbur Wright merancang pesawat terbang praktis pertama pada Agustus 1900, ia terinspirasi Otto Lilienthal (1848-1896), insinyur Jerman yang merancang pesawat terbang layang (glider). Wilbur lalu memodifikasi dan menemukan bahwa pada pesawat harus ada tiga unsur utama, yakni sayap untuk daya angkat, mesin sebagai tenaga pendorong, dan sistem kendali.

Jadilah Flyer, pesawat terbang dengan rentang sayap 6,7 meter, bermesin empat silinder 12 tenaga kuda, dan berpenumpang sekaligus pilot yang mengendalikannya. Pada 17 Desember 1903, Orville Wright mampu menerbangkannya selama 12 detik sejauh 37 meter dari titik lepas landas.

Dapat dikatakan, semua pesawat yang datang kemudian terinspirasi oleh Flyer, yang kini tergantung di North Hall Gedung Seni dan Industri Smithsonian Institute di Washington, DC, Amerika Serikat. Tapi, selama seabad ini, para insinyur penerbangan melakukan beragam penyempurnaan sehingga pesawat terbang modern saat ini dapat terbang lebih cepat, lebih jauh daya jangkaunya, dan lebih kuat membawa beban.

Penyempurnaan itu antara lain berlaku pada bentuk aerodinamikanya, teknologi mesin jetnya, dan bahan bakar yang digunakan. Sementara dulu ada pesawat supersonik Concorde, kini beberapa prototipe pesawat tempur dan pesawat angkut penumpang mampu menjelajah pada tingkat hipersonik atau lebih dari 10 kali kecepatan suara.

Selain itu, para ahli aeronautika juga merancang pesawat yang memungkinkan orang sipil merasakan efek tanpa beban seperti yang dialami astronaut, dengan berwisata ke ruang angkasa dalam perjalanan satu jam saja. Tak hanya itu, mereka juga sudah membuatkan prototipe skycar, yakni mobil pribadi yang dapat terbang seperti yang selama ini hanya ada di film-film fiksi.

Terbukti sudah, dalam kurun 100 tahun usia penerbangan, banyak prediksi, sketsa rancangan, dan prototipe yang berubah menjadi kenyataan. Tapi, para insinyur tak berhenti bermimpi.



HyperSoar

Bahan bakar adalah faktor kritis dalam setiap penerbangan. Itulah sebabnya para insinyur di Lawrence Livermore National Laboratory di California, Amerika Serikat, merancang pesawat hipersonik yang mereka namakan HyperSoar.

Pesawat ini terbang pada ketinggian 35 ribu-61 ribu meter, yakni batas tertinggi atmosfer sebelum masuk ruang angkasa. Ia memiliki kecepatan 10 Mach (10.782 kilometer per jam). Pada ketinggian 61 ribu meter, HyperSoar mematikan scramjet—mesin jet penghirup udaranya—untuk menghemat bahan bakar gas hidrogen, lalu mengapung turun seperti sehelai bulu angsa yang tak berbobot. Kondisi ini terus berlangsung hingga ketinggian 35 ribu meter, saat mesin-mesin jet kembali dinyalakan. Penumpang merasakan gravitasi 1,5 G pada ketinggian terbang terendah dan perasaan tanpa bobot saat berada di ruang angkasa.

Bentuk lintasan terbangnya seperti sebuah gelombang. Antara puncak pertama dan kedua berjarak 450 kilometer, yang ditempuh dalam waktu dua hingga tiga menit. Itu berarti perjalanan Chicago-Tokyo, yang berjarak 10.120 kilometer, hanya butuh 18 kali lompatan atau 72 menit. Cara terbang seperti itu selain menghemat bahan bakar juga mengatasi panas yang ditimbulkan oleh pergesekan dengan udara.

Untuk tinggal landas dan mendarat, pesawat berpanjang 65 meter dan lebar 24 meter atau seukuran Boeing 777 itu tak membutuhkan landasan khusus. Dengan bobot 225 ribu kilogram, HyperSoar mampu mengangkut beban 13.700 kilogram atau 10 kali kapasitas pesawat kargo subsonik seukuran.

Meski baru sketsa rancangan, HyperSoar diminati Federal Express, NASA, hingga militer. Jika dibangun prototipenya, butuh dana US$ 10 miliar atau senilai pesawat Boeing 777.

SpaceShipOne

Sejauh ini hanya astronaut dan kosmonaut yang dapat merasakan gravitasi nol di ruang angkasa. Tapi, tak lama lagi warga sipil dapat sampai di ruang angkasa berkat pesawat rancangan Burt Rutan yang dinamakan SpaceShipOne, dari perusahan riset aeronautika Scaled Composites, yang berpusat di Majove, California, Amerika Serikat. Inilah pesawat ulang-alik nonpemerintah yang dapat membawa tiga penumpang ke ketinggian 100 kilometer.

SpaceShipOne diluncurkan dari perut pesawat angkut khusus White Knight. Pesawat angkut ini dirancang khusus untuk misi di ketinggian hingga 16 ribu meter. Menggunakan mesin turbo jet kembar, White Knight mampu membawa beban lebih dari 3.600 kilogram.

Ketika sampai di ketinggian 16 ribu meter, SpaceShipOne dilepas dan langsung menyalakan mesin roket hibridanya yang berbahan bakar nitrogen cair dan padat. Setelah mendaki hingga ke ruang angkasa, pesawat ini akan kembali masuk ke atmosfer dan mendarat seperti pesawat biasa.

Dragonfly

Impian para insinyur aeronautika adalah menggabungkan helikopter dan pesawat tempur supersonik. Jadilah rancangan Dragonfly, yang dibuat oleh Boeing Phantom Works di Seal Beach, California.

Dragonfly menggunakan teknologi hibrida canard rotor wing, yakni sayap utama yang berfungsi sebagai baling-baling untuk tinggal landas dan mendarat secara tegak lurus sekaligus menjadi sayap tetap saat pesawat berada di ketinggian terbang yang aman.

Saat ini Boeing baru membuat prototipe tanpa awak. Panjangnya 5,39 meter dan lebar 1,98 meter. Diameter baling-balingnya 3,66 meter. Memakai mesin turbo fan, prototipe itu mampu terbang dengan kecepatan 741 kilometer per jam. Bekerja sama dengan Defense Advanced Research Projects Agency, prototipe itu menghabiskan dana US$ 24 juta. Nantinya, Dragonfly akan berawak dua hingga tiga orang. Angkatan Laut Amerika Serikat tertarik memakainya untuk misi pengintaian, dan ia menjadi saingan bagi pesawat tempur Inggris, Harrier.

Dragonfly tak ingin mengulangi produk hibrida Boeing sebelumnya, MV-22 Osprey, yang memiliki sejarah reputasi buruk. Pada awal-awal penerbangannya, ia jatuh dua kali dan menewaskan 12 orang.

Airbus A-380

Pesawat jet berlantai ganda dan bergang empat lajur buatan Airbus ini mampu mengangkut 840 penumpang. Inilah pesawat angkut penumpang paling besar yang pernah dibangun. Meskipun penerbangan perdana baru 1 September 2004 dan penerbangan komersialnya baru pada Oktober 2005, sudah 66 pesawat yang dipesan.

A-380 merupakan saingan langsung dari Boeing 747 seri 400. Tapi kapasitas kursinya 30-50 persen lebih banyak dan mengkonsumsi bahan bakar 20 persen lebih hemat.

Menggunakan empat mesin Trent 900 dari Rolls-Royce atau GP7200 dari The Engine Alliance (perusahaan gabungan General Electric dan Pratt & Whitney), kecepatan jelajahnya mencapai 1.014 kilometer per jam dan kecepatan tertinggi 1.049 kilometer per jam. Ia terbang pada ketinggian lebih dari 13.100 meter dengan jangkauan mencapai 14.800 kilometer.

Rentang sayap A-380 mencapai 79,8 meter, panjang bodi 73 meter, serta berat kosong 361 ton. Kapasitas bahan bakarnya 310 ribu liter.

Tak ada perbedaan tata ruang, prosedur, dan karakteristik penanganan ruang pilot. Pilot pesawat Airbus lain dapat beralih ke A-380 dengan sedikit latihan.

Skycar

Bagaimana rasanya menerbangkan sendiri pesawat pribadi seperti mengendarai mobil sport? Jawabannya ada pada M-400 Skycar, yang dirancang oleh Paul Moller. Inilah pesawat pribadi yang tinggal landas dan mendarat secara tegak lurus.

M-400 Skycar masih berupa prototipe, tapi nantinya dimaksudkan untuk mengangkut empat penumpang atau muatan hingga 340 kilogram.

Ia dinamai mobil terbang karena siapa saja dapat mengendarainya seperti mobil. Cuma, ada tambahan kendali penerbangan otomatis. Penerbang hanya memasukkan arah tujuan dan kecepatan terbang, yang mampu mencapai 563 kilometer per jam.

Mobil terbang ini memakai delapan mesin Wangkel, yang rendah emisinya. Kelemahan utama Skycar adalah konsumsi bahan bakar dan suara bising. Konsumsi bahan bakarnya sama dengan mobil, sekitar 11,8 kilometer per liter. Tingkat kebisingan pada ketinggian 150 meter mencapai 65 desibel.

Ketinggian terbang maksimumnya 884 meter dan jangkauan terbang maksimumnya 1.448 kilometer. Menurut perancangnya, Skycar sangat cocok untuk kendaraan patroli polisi, pemadam kebakaran, dan ambulans.

F-35 Joint Strike Fighter

Untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Udara, Angkatan Laut, Korps Marinir Amerika Serikat, serta Angkatan Udara dan Angkatan Laut Kerajaan Inggris, perusahaan aeronautika Lockheed Martin merancang pesawat tempur F-35.

Sebuah pesawat Joint Strike Fighter (JSF) mampu memberikan beragam layanan, misalnya membersihkan medan, melumpuhkan musuh, mempertahankan wilayah, dan mendukung pertempuran udara.

Ada tiga seri, yakni F-35A, F-35B, dan F-35C. JFS F-35A diperuntukkan bagi Angkatan Udara Amerika Serikat. Serupa atau melampaui tingkat kemampuan pesawat tempur F-16, beberapa langkah di muka pesawat siluman, jangkauannya lebih jauh dan sistem avioniknya lebih canggih.

F-35B dibuat untuk Korps Marinir Amerika Serikat serta Angkatan Udara dan Laut Kerajaan Inggris. Ia memiliki kemampuan tinggal landas secara vertikal atau di landasan pendek. Merupakan pesaing Harrier.

Sedangkan F-35C diperuntukkan bagi Angkatan Laut Amerika Serikat. Pesawat ini untuk operasi kapal induk, dan merupakan pesawat siluman pertama untuk angkatan laut.

Dody


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data