Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Ilmu dan Teknologi

Terbang Jauh tanpa Pilot

Berhasil melampaui kecepatan suara, teknologi penerbangan terus melesat. Hanya kelesuan bisnis yang bisa menghambat.

Andai saja Orville Wright dan Wilbur Wright masih hidup hingga minggu ini. Mereka mungkin akan berpesta. Maklum, sejak 17 Desember 1903, ketika dua bersaudara itu menjadi "penerbang" pertama dunia, sangat banyak hal yang bisa dirayakan. Kemajuan teknologi penerbangan hari ini bisa jadi tak pernah melintas di benak mereka.

Hanya dalam satu generasi, penerbangan melompat dari pesawat berbaling-baling ke pesawat jet. Kurang dari setengah abad, penerus Wright bersaudara bisa melampaui kecepatan suara. Pada 1980-an, manusia bisa membuat pesawat terbang berteknologi siluman (stealth) yang dapat mengelak dari tangkapan radar. "Era pertama penerbangan telah ditandai kemajuan yang sulit dipercaya. Betapa tinggi, betapa jauh, dan betapa cepatnya manusia bisa terbang," kata Phil Condit, Direktur Eksekutif Boeing Corporation.

Jika dibandingkan dengan sejarah peradaban manusia, usia penerbangan bermesin masih tergolong belia. Wajar saja jika ambisi ahli engineering penerbangan masih menyala-nyala. Seperti tak mengenal lelah, mereka terus melontarkan mimpi-mimpi jauh ke depan. Mereka terus bertanya, adakah pesawat terbang yang lebih cepat, lebih besar, dan lebih aman.

Kunci jawabannya sebagian terletak pada kemajuan ilmu komputer yang luar biasa. Berkat revolusi aplikasi avionic (aviation electronic), sistem penerbangan serba otomatis, pesawat terbang akan semakin pintar, bahkan jenius. Pesawat tempur generasi F/A-22 Raptor (Amerika Serikat), F-35 Joint Strike Fighter (AS dan Inggris), dan Sukhoi-47 Berkut (Rusia), misalnya, memamerkan hampir segenap isi otak para pakar penerbangan dunia.

Kemajuan terpenting yang diramalkan bakal menjadi tonggak teknologi penerbangan beberapa abad ke depan adalah teknologi pesawat tanpa pilot (unmanned aerial vehicles atau UAVs). "Sementara Wright bersaudara berjuang untuk menempatkan orang di pesawat, sekarang kita berjuang untuk mengeluarkan orang dari pesawat," kata George Muellner, mantan penerbang pesawat tempur yang kini menjadi Senior Vice President Boeing.

Teknologi UAVs memang telah menebarkan pemahaman baru bagaimana peperangan seharusnya digelar. Dipelopori pesawat RQ-1 Predator dan RQ-4 Global Hawk, generasi UAVs seperti menghasilkan "burung-burung" pengintai yang bisa berkeliaran di daerah sengketa. Dipadukan dengan teknologi siluman, pesawat UAVs bisa terbang tanpa diketahui musuh dalam waktu yang melewati batas kelelahan seorang pilot, kemudian melapor kepada komandan perang di belahan bumi yang lain. "Untuk tugas-tugas yang konyol, curang, dan berbahaya, kita ingin mengeluarkan pilot dari ruang kokpit," ujar Muellner.

Untuk versi yang lebih maju, Badan Aeronautika dan Ruang Angkasa Amerika Serikat (NASA) tengah mengembangkan proyek pesawat hipersonik masa depan, X-43, pesawat tanpa awak bermesin scramjet, berbahan bakar hidrogen dan hidrokarbon, yang kecepatannya diharapkan mencapai Mach 10 atau sepuluh kali lipat kecepatan suara. "Pesawat hipersonik bisa membawa manusia ke mana pun di planet bumi ini tak lebih dari sepuluh jam," ujar Larry Hueber, insinyur pesawat hipersonik NASA yang bekerja pada proyek X-43.

Mungkinkah teknologi UAVs diterapkan untuk pesawat sipil komersial? Para ahli masih berbeda pendapat. Namun mereka umumnya percaya bahwa teknologi UAVs menjanjikan banyak hal, entah untuk kepentingan komunikasi, pengamatan lingkungan, entah untuk sekadar pengiriman paket kilat.

Setengah berseloroh, Arlen Rens, pilot penguji di Lockheed Martin, mengatakan, ruang kokpit pesawat terbang masa depan dirancang untuk membawa seorang pilot dan seekor anjing. "Pilot bertugas memberi anjing makan, dan anjing bertugas menggigit pilot jika menyentuh sesuatu," katanya.

Berkat kemajuan komputer pula, sejak 1990-an, pengaturan penerbangan komersial sangat terbantu fasilitas air traffic control system (ATCS). Di layar komputer di ruang pusat kendali, ratusan sampai ribuan pesawat yang mengudara tergambar sebagai panah-panah kecil—mirip semut-semut yang merayapi sebuah bukit. Secara berkala, petugas di ruang ATCS menggelar konferensi dengan menara pengawas dan maskapai di seluruh negeri.

Dalam satu sampai dua dasawarsa ke depan, sistem ATCS pun diperkirakan segera usang. Para pakar kini membahas konsep "terbang bebas" (free flight). Sistem kendali tidak lagi dioperasikan dari sebuah ruang terpusat. Sistem kendali langsung melekat pada komputer di setiap pesawat. Komputer itulah yang menghitung ketinggian, rute, dan perkiraan atas cuaca dan kehadiran pesawat lain di udara. Idenya analog dengan cara mengalirkan paket-paket data melalui jaringan Internet. "Pilot tinggal memprogram komputer untuk memilih jalur yang lebih aman," ujar Jack Kies, Direktur Pusat ATCS Command Center di Bandar Udara Internasional Dulles, Washington, DC.

Namun semua kemajuan teknologi itu tak selalu seiring dengan kemajuan di bidang bisnis. Kelesuan perekonomian dunia membuat industri penerbangan komersial mengencangkan ikat pinggang. Ketakutan akan aksi teroris serta perang di Afganistan dan Irak menjadi biang kerok lainnya. Sementara itu, peningkatan harga minyak dunia memaksa perusahaan maskapai membayar lebih mahal untuk bahan bakar jet. Tantangan lain, wabah severe acute respiratory syndrome (SARS) membuktikan betapa penerbangan internasional bisa menyebarkan dengan cepat penyakit mematikan. Ini menambah jumlah kursi pesawat yang kosong.

Akibatnya, ancaman kebangkrutan kini menghantui maskapai penerbangan dunia. Di Amerika, misalnya, saham maskapai penerbangan American Airlines merosot tajam. Sedangkan pabrik Boeing, sejak serangan 11 September 2001, sudah memberhentikan puluhan ribu karyawannya.

Dipensiunkannya pesawat supersonik Concorde, pada Oktober lalu, sempat memupus harapan akan hadirnya generasi baru pesawat supersonik komersial massal. "Kita melihat pesawat supersonik Concorde pergi. Itu pasti sangat sulit untuk datang lagi," ujar Englishman Adam Brown, pensiunan Airbus.

Ihwal masa depan penerbangan komersial, perancang pesawat paling radikal pasca-Perang Dunia II, Burt Rutan, punya ramalan lain yang menarik. Katanya, tanpa krisis ekonomi pun, bisnis penerbangan komersial akan turun seiring dengan berkembangnya teknologi Internet. Dengan teknologi yang bisa menyajikan realitas maya (virtual reality), orang-orang yang terpisah ribuan mil bisa berkomunikasi seperti halnya sedang berhadapan di ruang rapat. Jadi, kata Rutan, perjalanan untuk tujuan bisnis dengan sendirinya akan merosot.

Lepas dari sikap pesimistis itu, pembuat pesawat komersial tetap merawat mimpinya. Mereka yakin, setelah kemandekan ekonomi berlalu, penerbangan sipil akan kembali ke puncaknya, tumbuh sekitar lima persen seperti pada 1980-an sampai 1990-an. Airbus meramalkan, pada 2023, lalu lintas penumpang akan meningkat tiga kali lipat. Prediksi yang diamini NASA ini diperkuat ramalan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa sebelum tahun 2015 sekitar 20 kota dunia akan memiliki penduduk lebih dari 10 juta orang dan enam kota lainnya akan berpenduduk lebih dari 20 juta orang.

Dengan argumen itu, Airbus tetap berniat menuntaskan proyek superjumbojet A-380. Pesawat berkapasitas 555 penumpang (untuk rancangan awal) dan 840 penumpang (untuk rancangan lanjutan) itu diharapkan lepas landas di Toulouse, Prancis, pada awal 2005. Jika tak ada aral melintang, pesawat berbobot 1,2 juta pound itu akan beroperasi mulai 2006. Menurut Vice President Airbus, Philippe Jarry, ketika pesawat pertama A-380 belum tuntas saja, perusahaan maskapai dunia sudah memesan lebih dari 100 buah A-380.

Pesawat berbadan besar seperti A-380 juga dirancang untuk lebih memanjakan penumpang. Selama perjalanan, penumpang bakal punya kesempatan bergaul dan bisa lebih santai. Maklum, ke depan, pesawat akan dilengkapi sarana olahraga, toko swalayan, dan perpustakaan. "Ini memang terdengar seperti mimpi," ujar Englishman Adam Brown.

Kecenderungan adu besar bukan tanpa penentang. Bruce Holmes, associate director dari Langley Research Center, NASA, misalnya, dengan gigih mengkampanyekan konsep small aircraft transportation system (SATS). Ke depan, menurut dia, kebutuhan akan pesawat kecil bakal meningkat. Pasalnya, pelayanan pesawat besar antar-bandara besar mulai tidak efektif.

Menurut Holmes, yang diperlukan adalah pesawat yang berfungsi sebagai taksi udara (air taxi), untuk antar-jemput penumpang dari bandara utama (hub airport) ke bandara kecil (spoke airport). "Kecepatan tinggi pesawat besar menjadi tidak berarti oleh kemacetan yang dialami penumpang di jalan dari dan menuju bandara," ujar Holmes.

Gagasan itu makin kuat setelah aksi teror pembajakan dan peledakan pesawat pada 11 September 2001. Penggagasnya yakin, jika terjadi bencana, semakin kecil pesawat, semakin kecil jumlah korbannya.

Bukankah pesawat-pesawat kecil akan membuat jadwal penerbangan makin padat? Bagaimana mengaturnya agar tidak bertabrakan? Menurut para pendukung pesawat kecil, itu bisa diatasi dengan kemajuan teknologi penjejak (GPS), radio digital, dan perangkat lunak berupa jaringan Internet tanpa kabel. Jurus lainnya, pesawat kecil masa depan bakal dilengkapi alat pandangan sintetis (synthetic vision). Alat itu bisa menerobos ketebalan kabut dan punya kemampuan navigasi intuitif. Bahkan, saat pilot sedang tertidur atau mabuk pun, sistem otomatis pesawat akan tetap bekerja.

Teknologi memang menawarkan banyak pilihan. Hanya, pilihannya kerap sangat mahal.

Jajang Jamaludin



Seabad Mengangkasa

17 Desember 1903

Orville Wright dan Wilbur Wright berhasil menerbangkan pesawat bermotor, berawak, dan terkendali, Flyer, untuk pertama kalinya di Kitty Hawk, North Carolina.

1908

Henri Farman menyelesaikan penerbangan memutari Eropa. Rancangan pesawat Farman memberi kontribusi besar terhadap konstruksi pesawat yang beroperasi pada Perang Dunia I.

1909

Glen Curtis berhasil menambahkan tenaga pada pesawat bermotor rancangannya dan memecahkan rekor kecepatan terbang, 47 mil per jam, di Reims, Prancis.

Louis-Charles Breguet membuat pesawat pengebom pertama, Breguet XIV, yang dipakai Prancis pada Perang Dunia I.

1913

Igor Sikorsky, imigran asal Rusia, membuat pesawat empat mesin pertama dunia, Le Grand, yang dipakai sebagai pesawat pengebom pada Perang Dunia I.

1919

Alfred Lawson, pilot dan pengusaha, memperkenalkan pesawat multi-engine pertama yang khusus dirancang untuk pesawat penumpang.

1924

Donald Douglas, dengan pesawat yang dibuat perusahaannya sendiri, Douglas Aircraft Company, berhasil menyelesaikan penerbangan keliling bumi.

1926

Robert Goddard meluncurkan roket berbahan bakar cair pertama. Roket itu terbang setinggi 41 kaki dalam 2,5 menit dan kemudian jatuh pada jarak 184 kaki.

1927

Charles Lindbergh, pilot Spirit of St. Louis, melakukan terbang solo tanpa henti melintasi Samudra Atlantik.

1929

Glen Martin membuat pabrik pesawat yang dirancang untuk memproduksi pesawat berbadan logam, dengan mempekerjakan insinyur pesawat terkemuka seperti Lawrence Bell, James McDonnel, dan Donald Douglas. John Northop membuat Alpha, pesawat yang sepenuhnya berbadan logam, sebagai cikal bakal P-61 Black Widow, pesawat tempur Perang Dunia II yang dilengkapi dengan radar.

1935

Pesawat DC-3, pesawat penumpang jarak jauh pertama, lepas landas dari Santa Monica, California.

1944

Theodore von Karman, ilmuwan kelahiran Hongaria, mendirikan Jet Propulsion Laboratory (kini bagian dari NASA) untuk meneliti rahasia kecepatan supersonik, teknologi peluru kendali jarak jauh (long ballistic missiles), dan roket berbahan bakar padat.

1947

Chuck Yeager menerbangkan Bell XS-1 pada kecepatan 700 mil per jam (Mach 1,06), menjadi manusia pertama yang terbang di atas kecepatan suara.

1952

Pesawat jet komersial pertama, De Havilland Comet, terbang membawa 36 penumpang.

1953

Scott Crossfield menjadi manusia pertama yang terbang dua kali lebih cepat daripada suara, dengan mengendarai Douglas Skyrocket pada ketinggian 62 ribu kaki di atas California. Jacqueline Cochran menjadi pilot wanita pertama yang memecahkan rekor terbang di atas kecepatan suara, dengan menerbangkan pesawat jet F-86 Sabre.

1957

Rusia meluncurkan Sputnik I, satelit bumi tiruan yang pertama.

1958

Badan Aeronautika dan Ruang Angkasa Amerika (NASA) beroperasi, menggantikan Komite Pertimbangan Nasional Aeronautika Amerika (NACA). Satelit Pioneer 1 NASA untuk pertama kalinya diluncurkan.

William Allen, Presiden Boeing Co., mengoperasikan versi sipil pesawat Boeing 707 yang mampu membawa 180 penumpang pada kecepatan 600 mil per jam. Allen menghabiskan dana sekitar US$ 185 juta untuk membuat pesawat jet komersial Amerika pertama itu.

1962

John Glenn mengawaki pesawat ruang angkasa NASA, Friendship 7, dan menjadi manusia pertama yang masuk jalur orbit bumi.

1969

Astronaut Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, awak Apollo 11, menjejakkan kaki di bulan, menandai era pendaratan manusia di bulan.

1981

NASA meluncurkan pesawat ulang-alik pertamanya, X-20 Dyna Soar, ke orbit dan berhasil mengembalikan pesawat itu ke bumi dengan terkendali.

1986

Burt Rutan, perancang pesawat eksentrik, berhasil membuat Voyager, pesawat berpilot dua yang mampu mengelilingi bumi tanpa henti. Voyager, yang diterbangkan Dick Rutan dan Jeana Yeager, itu membawa bahan bakar 1.209 galon.

1987

Airbus A-320 terbang dengan sistem kendali fly-by-wire (FBW).

17 Juli 1989

Pesawat siluman pengebom B-2 Stealth terbang perdana.

2 November 1992

Airbus A-330 terbang dengan bantuan komputer.

Maret 1997

Helikopter bertenaga listrik dan dikendalikan dari jarak jauh, Solid Rotor System, terbang.

Desember 1998

Pesawat bertenaga surya, Centurion, terbang perdana.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data