Misteri Singlet 555 Leong Mardi tewas di tahanan Kepolisian Sektor Tangkiling, Kalimantan Tengah. Bunuh diri atau dianiaya?
|
SUDAH tiga bulan Mardi A. Daniel, 60 tahun, memendam kesedihan sekaligus amarah. Dia kehilangan salah satu anaknya, Leong Mardi, yang tewas di kantor Kepolisian Sektor Tangkiling, Kalimantan Tengah, September silam. Sang ayah telah menulis surat kepada Kepala Kepolisian RI dan sejumlah lembaga beberapa pekan lalu, tapi belum ada hasilnya. "Saya akan terus mengusut kematian anak saya sampai tuntas," ujarnya penuh kegeraman.
Kematian Leong Mardi, 21 tahun, sungguh misterius. Polisi mencokok buruh penambang emas liar itu sekitar pukul 22.00, Minggu, 21 September silam, di rumahnya, di Desa Nyaru Menteng, Tangkiling, sekitar 30 kilometer ke arah utara dari Kota Palangkaraya. Ketika itu, tiba-tiba Brigadir Dua Mat Sopikun datang dan berteriak, "Mana Leong? Jangan lari kamu! Rumah ini sudah dikepung!"
Leong, yang tak berkutik, lalu digelandang oleh Sopikun dan seorang kawannya ke kantor polisi. Saat ditangkap, lelaki lulusan sekolah dasar itu hanya memakai celana gunung yang banyak kantongnya dan kemeja kotak-kotak. Dia dicokok karena diduga menembak Sugang, seorang warga setempat, dengan senapan angin. Walaupun korban hanya sedikit terluka, rupanya polisi menangani serius pengaduan keluarga Sugang.
Keesokan harinya, ibu Leong, Nyonya Midos, menjenguknya di tahanan polisi. Ditemani Kameluh, adik Leong, ia membawakan pakaian dan makanan. Mereka terkejut mendapati sekujur tubuh tersangka yang lebam kebiruan. "Ia minta saya mengeluarkannya karena tak tahan siksaan polisi," tutur Midos. Untuk "menebus" Leong, sang ibu, yang ditemani dua polisi, menjual kalung yang beratnya 3 gram dan cincin seberat 1 gram ke Palangkaraya. Ditambah tabungan, hasilnya berjumlah Rp 300 ribu.
Sambil membawa duit tersebut, mereka kembali ke kantor polisi pada siang hari. Leong tidak tampak di sel berukuran 3 x 4 meter persegi itu. Para penjaganya pun tidak ada. Tapi, begitu Nyonya Midos melongok ke kamar mandi sel, ia langsung menjerit. Sang anak tergantung di sana, tak bernyawa lagi. Setelah memanggil penjaga, Midos pulang ke rumah karena panik.
Sore harinya, barulah polisi mengantar jenazah Leong dan meletakkannya di dalam rumahnya tanpa bicara apa pun. Seorang anggota polisi yang mengaku sebagai utusan dari Polsek Tangkiling menyerahkan uang santunan Rp 1,5 juta kepada keluarga Mardi.
Menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Palangkaraya, Ajun Komisaris Besar Budi Waseso, Leong tewas karena bunuh diri. Ia mengatakan, seusai dengan hasil visum dokter, tersangka mati karena penyumbatan saluran napas di leher dan tak ditemukan racun. "Semua sudah jelas, kematian korban karena bunuh diri." Leong gantung diri di ventilasi kamar mandi sel dengan kaus singlet bermerek 555 berwarna putih.
Tapi keluarga Mardi tak percaya terhadap keterangan polisi. Mereka yakin Leong tewas karena disiksa. Saat dibesuk pagi hari, kata Kameluh, tersangka bercerita bahwa dirinya ditempatkan di ruang gelap begitu sampai di kantor polisi. Dengan tangan terentang dan terikat, ia ditendang dan dipukul polisi dengan tangan dan kayu. Leong juga menuturkan, sekujur tubuhnya terutama perut, pinggang, dan dada terasa sakit setelah dihajar.
Keanehan lain, Leong "menggantung diri" dengan kaus singlet. Padahal ia tidak pernah punya kaus semacam itu. Kaus ini juga masih tampak bersih dan belum molor. Pengacara keluarga Mardi, Labih Marat Binti, pun tak melihat lidah menjulur dan keluarnya sperma dari tubuh korban seperti umumnya orang bunuh diri.
Kasus ini sudah ditangani Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah. Kepala Polsek Tangkiling, Inspektur Satu Yoyo Rustandi, dijatuhi sanksi penundaan kenaikan pangkat. Ia dinilai lalai dalam menjalankan tugas sehingga ada tahanan yang "bunuh diri".
Hanya, keluarga Mardi tetap belum puas karena misteri kematian anaknya belum tersingkap. Mereka telah meminta seorang dokter melakukan visum luar. Tapi hasilnya kurang memuaskan gara-gara kaus singlet yang dipakai untuk "bunuh diri" tidak bisa diperiksa lantaran "diamankan" polisi.
Polisi sengaja menutup-nutupinya? Ajun Komisaris Besar Budi Waseso menepisnya. Ia menyatakan polisi telah bertanggung jawab terhadap kasus ini lewat pemeriksaan internal. "Apa untungnya polisi merekayasa?" tanyanya.
Jauh dari memuaskan, jawaban semacam itu justru makin menambah dalam luka keluarga Mardi.
Endri Kurniawati, Karana W. Wijaya (Palangkaraya)
|