Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Gaya Hidup

Yang Hangat yang Dicari

Pesta di rumah pribadi kembali menjadi tren bagi sebagian kalangan setelah mereka bosan dengan perhelatan di gedung dan hotel.

TEGAK dengan megah di kawasan elite Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, rumah itu sibuk berdandan pada suatu sore pekan silam. Harum bunga segar, mawar, melati, lili, anggrek menggantung di udara. Meja-meja ditata cantik setelah dilapisi kain linen. Rumah Kartanegara—begitulah nama bangunan tersebut—milik Anna Manthovani, penyanyi tenar tahun 1970-an. Rumah ini bersolek karena "Nanti malam ada jamuan makan eksklusif," tutur Anna—setelah menikah lebih dikenal dengan nama Anna Bambang Sunindar.

Perhelatan pribadi ala Kartanegara sejatinya refleksi sebuah dunia yang rindu rumah ketika kota-kota cuma disesaki gedung hotel yang kotak lagi kaku. Dan gedung tanpa jiwa yang mustahil menghadirkan roh sebuah rumah. Lalu, orang-orang sibuk pun mencari roh sang rumah, termasuk pada saat berpesta, saat berbagi bahagia. Hotel tak lagi menjadi tempat favorit. Mereka yang berduit, yang dompetnya tebal sejahtera, lebih memilih rumah kediaman yang punya karakter. Rumah yang bisa menghadirkan pesta yang akrab, luwes, dan bergaya.

Simak saja kisah Rumah Kartanegara. Menurut Anna, awalnya rumah ini tidak dibangun untuk disewakan. Kerabat dekat Anna kerap meminjamkan rumah besar ini untuk berbagai keperluan. Karena, "Kawan-kawan banyak yang keberatan bikin acara di hotel," kata Anna. "Selain kaku, di hotel tamu juga harus melewati pemeriksaan keamanan yang ribet."

Pada 1999, Kartanegara resmi disewakan. Dan sejak itu pula beragam acara sudah digelar di rumah ini, mulai dari pernikahan, ulang tahun, sampai peluncuran produk kosmetik. "Bulan madu juga bisa di sini," kata Shinta Rudyanta, Manajer Kartanegara. Pasangan yang ber-honey moon di Kartanegara bakal dimanjakan dengan perawatan spa komplet, dari ujung rambut sampai jempol kaki. Tertarik? Atau Anda kepingin mencoba yang lain?

Datanglah ke Alexandra's, rumah pesta di Kemang Selatan. Seperti Kartanegara, rumah ini pun mulanya tak diniatkan untuk publik. Tapi, karena banyak permintaan, Alexandra's—nama ini mewakili kedua pemiliknya, pasangan Alex Kecil Kosasih dan Ratih Soe—resmi disewakan sejak September 2003.

Akhir pekan lalu, TEMPO menyaksikan selusin anak muda sedang sibuk angkat-junjung peralatan hajatan di rumah milik Ratih Soe, peragawati top tahun 80-an ini. Mereka lulusan SMU Bina Nusantara, Jakarta, yang sedang bersiap-siap menggelar acara pesta dansa (prompt night) di Alexandra's.

Karpet merah terhampar sejak di gerbang masuk sampai pusat lokasi pesta, yakni taman yang telah dipenuhi tenda-tenda cantik penuh bunga. Kolam renang ditutup dan disulap menjadi panggung musik. Segalanya serba elegan dan mewah. "Temanya suasana malam di Paris," kata William, alumni SMU Bina Nusantara yang mengatur pesta. Agaknya, anak-anak muda ini ingin mewujudkan aroma film idola masa kini, Eiffel, I'm in Love, di dalam pesta tersebut.

Alhasil, ongkos pesta yang minimal Rp 50 juta pun tak jadi soal. "Pokoknya, kita ingin ini jadi pesta yang berkesan," kata William. Alexandra's memang menawarkan kenyamanan. Bergaya art deco, bangunan di atas tanah seluas 3.000 meter persegi ini amatlah elok. Tamannya luas dengan pohon-pohon besar dan rimbun. Pesta kebun di sini pasti jauh lebih intim ketimbang acara di hotel. Apalagi Alexandra's juga menyediakan katering yang sedap. Bahkan William Wongso, pakar kuliner yang sohor itu, turun tangan sendiri dalam urusan hidangan.

Ongkos sewa di rumah ini tergantung jumlah undangan dan jenis pesta. Mulai dari Rp 3,5 juta untuk acara minum teh di sore hari sampai Rp 50 juta untuk pesta. Dengan sederet kenyamanan tersebut, tak mengherankan jika Alexandra's menggaet banyak peminat. Pembatasan pun dilakukan, maksimal dua kali acara seminggu. "Biar rumah ini punya kesempatan bernapas," kata Sri Wahyu Restuningsih, kakak Ratih Soe yang mengelola Alexandra's.

Rumah pesta lain bagi publik adalah Tanah Baru, di Beji, Depok. Bangunan milik keramikus terkenal F. Widayanto ini dirancang dengan suasana pedesaan Jawa dan Bali. Kolam ikan, gemericik air mengalir, pepohonan, menciptakan irama yang adem dan harmonis. Dengan mudah Anda bisa menjumpai "tanda tangan" Widayanto di segala sudut, di tembok bata, tiang, juga di lantai. Aksen keramik berupa kodok, kupu-kupu, cicak, bunga-bungaan, tak ketinggalan menempel di setiap perabot.

Yang unik, rombongan yang datang ke Rumah Tanah Baru bisa mengakhiri acaranya dengan "pesta" tanah liat, belepotan membuat perabot keramik dengan tangan sendiri. Dua minggu berikutnya, setelah melalui proses pembakaran berlapis-lapis, hasil karya tamu akan dikirim ke alamat masing-masing. "Saya bikin ini sambil membayangkan jadi pemeran film Ghost," tutur Monica sambil memamerkan cangkir penyok. Cangkir ini dibuatnya sewaktu gadis 25 tahun ini diundang seorang kawan yang berulang tahun di Rumah Tanah Baru.

Ada pula rumah-rumah pesta yang menyediakan suasana etnik tertentu. Umpamanya Rumah Kemang Timur Tujuh di Jakarta Selatan. Suasana Jawa yang kental langsung menyergap begitu kita memasuki gerbang yang layaknya benteng keraton itu. Bangunan utama didominasi kayu jati dan lantainya terbuat dari marmer serta batu kali yang adem. Lalu, ada pendapa kayu kecil dari Kudus, Jawa Tengah, yang sudah berusia ratusan tahun. Ada juga seperangkat gamelan dari kuningan yang siap ditabuh jika ada tamu yang menghendaki.

Selain beringin yang rindang, hala- man Rumah Kemang Timur yang luas itu juga ditumbuhi tanaman yang berbuah sedap seperti durian, sukun, aneka jenis mangga, jambu, pisang, juga salak. Suasana tropis Asia melingkupi areal 8.000 meter persegi ini. Di bagian belakang, terpisah dari rumah utama, tampak sebuah gazebo berbentuk joglo yang dikelilingi kolam. Dari jauh joglo ini terlihat seperti terapung di atas air.

Rumah Kemang Timur dimiliki duet Bagoes Brotodiwirjo bersama Atmadja Tjiptobiantoro, keduanya bermitra di perusahaan properti PT Morposa Kiat Karsindo. Mereka sebenarnya enggan membuka rumah ini untuk publik. "Demi kepentingan pemeliharaan, mendingan kosong daripada disewakan," kata Bagoes. Tapi ada pertimbangan lain. Dengan menyewakan rumah, Bagoes juga menciptakan lapangan kerja, mulai dari kurir, tukang kebun, pembuat dekorasi pesta, tukang masak, sampai pengisi hiburan pesta. Walhasil, pada akhir 2002, Bagoes dan Atmadja resmi menyewakan rumah ini untuk umum.

Hanya, menyewa Rumah Kemang Timur sama sekali tidak murah. Anda mesti mengeduk saku dalam-dalam. Betapa tidak, ongkos sewa pesta semalam adalah US$ 7.000 atau hampir Rp 60 juta. Ini belum termasuk biaya katering yang Rp 250 -350 ribu per tamu undangan. Maklumlah, rumah dan katering adalah satu paket—jadi Anda pasti ditolak kalau hanya berniat menyewa rumah tanpa makanan.

Untunglah, nun di Yogyakarta, suasana di atas bisa dijangkau dengan harga yang jauh lebih murah. Di sana ada Ndalem Joyokusumo, yang berdampingan dengan Keraton Kilen di Yogyakarta. Rumah milik Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Joyokusumo ini pekat dengan suasana Jawa. La, ini rumah memang warisan dari Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII, ayahanda Joyokusumo.

Ndalem Joyokusumo bahkan masih dilengkapi dengan tempat tidur, kaca kuning besar, gamelan, dan perabotan antik milik Sultan HB VII. Ongkos sewa Ndalem Joyokusumo pun tak sampai menonjok langit, sekitar US$ 20 atau Rp 170 ribu per tamu undangan. Ini sudah termasuk katering. Menunya dijamin khas keraton dan tak ada duanya di luar. Steik edan, misalnya, adalah kegemaran Sultan HB VII. Ini semacam steik ayam yang dibumbui cabe khusus dan dijamin membuat para tamu merasa keenakan dan bakal berkomentar: edan...!

Rukminingsih, yang pernah berhelat di sini, mengakui kesedapan steik ala Joyokusumo tersebut. "Enak tenan," katanya. Dua pekan lalu dia menyewa Ndalem Joyokusumo untuk menggelar resepsi pernikahan putrinya, Nurur Rokhmah Bintari. Dia mengaku bahagia bisa menyelenggarakan pesta yang unik dengan suguhan yang tidak pasaran. Di Ndalem Joyokusumo, Rukminingsih merasa telah menjamu tamu dengan ketulusan sebuah rumah: suasana yang tak bakal didapat di hotel paling mentereng sekalipun.

Mardiyah Chamim, L.N. Idayanie (Yogya), Nurhayati, Istiqomah, Ucok Ritonga (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data