Perjalanan Menuju Dunia Arisan |
BEBERAPA hari menjelang filmnya resmi main di bioskop, Nia Dinata kebanjiran telepon dan pesan singkat (SMS). Ada yang protes tapi tak sedikit yang merasa ge-er alias gede rasa. Jangan-jangan diri mereka yang dimaksud Nia melalui tokoh dalam filmnya. "Eh, si Meimei itu gue ya? Gue kan ditinggalin suami kayak begitu," ujar Nia, menirukan suara wanita yang sempat mampir ke kupingnya. Tanggapan semacam itu sebetulnya tak pernah disangkanya. Dalam benaknya, dia justru khawatir akan sikap para pemuka agama. Maklum, dalam filmnya ini dia memasukkan cerita tentang gay. "Enggak tahunya malah dari ibu-ibu, ha-ha-ha….," katanya.
Ide untuk membuat film ini bermula sekitar dua tahun lalu. Saat itu Afi Shamara, karibnya yang juga berperan sebagai produser film ini, mengajaknya datang ke sebuah acara arisan. Afi membisikinya, siapa tahu acara ini bisa jadi ilham untuk membuat film. Nia pun manut. Eh, ternyata acara itu benar-benar menarik perhatiannya. Namun ide itu dibiarkan lebih dulu mengambang. Saat itu dia tengah sibuk dengan Ca Bau Kan, film yang diangkat dari novel milik Remy Silado. Alhasil, selama dua tahun, dia wara-wiri datang ke berbagai acara arisan biar lebih khatam soal acara kocok kertas itu.
Hasilnya, setelah Ca Bau Kan usai, bersama Joko Anwar sejak Juni hingga Desember tahun lalu dia kembali mengutak-atik skenario. Awalnya, sosok Andien mendapatkan porsi yang banyak. "Kayaknya, lebih pantas diberi judul Andien," katanya. Belakangan porsi tokoh lainnya dikembangkan. Akhirnya, pada draf ke-6, skenario itu rampung. Pembagian porsi untuk ketiga tokoh, Andien, Sakti, dan Meimei, menjadi seimbang. Setelah itu, seleksi peran pun dilakukan. Hasilnya, dari 300 orang didapat pemain-pemain yang sama sekali tak punya latar belakang akting, seperti Aida Nurmala, yang sehari-hari bekerja di perusahaan event organizer, dan Tora Sudiro, seorang manajer keuangan di sebuah perusahaan periklanan. Selebihnya, dia menggunakan pemain yang sudah dikenal di berbagai judul sinetron.
Yang jelas, dibandingkan dengan saat mengerjakan Ca Bau Kan, Nia mengakui kerjanya kali ini lebih rileks. "Mungkin karena Arisan ini semata merupakan pendapatku sendiri, jadi aku merasa lebih fun." Di Ca Bau Kan, pekerjaannya sebagai sutradara bikin pusing kepala. Bukan hanya karena pemainnya yang bejibun, tapi sebelum produksi dilakukan di kepalanya sudah menggelendot, di antaranya soal bagaimana mengadaptasi novelnya ke dalam film. "Aku malah tidak percaya diri. Padahal Om Remy sudah membebaskanku," katanya. Namun, seperti kata orang pintar: pengalaman adalah guru yang paling oke, Nia pun mendapat banyak pelajaran dari penggarapan Ca Bau Kan. Hasilnya bisa dilihat di filmnya yang segar itu.
Tapi kemampuan itu tidak datang begitu saja. Selain memiliki bakat, sejatinya ada sebab lain yang membuat bakatnya itu lebih terasah. Dan, jalan menuju ke sana ditemukannya saat dia didera bencana. Peristiwa itu terjadi ketika sang ayah, Dicky Iskandar Dinata, kesandung kasus permainan valuta asing yang menyebabkan kerugian Bank Duta hingga ratusan miliar, sekitar 13 tahun silam.
Kala itu dia mengaku sangat terpukul dengan peristiwa tersebut. Apalagi ketika muncul omongan dari pejabat hukum di negeri ini bahwa utang itu berlaku hingga anak dan cucunya. Nia, yang saat itu berusia 19 tahun, sebagai anak pertama dari pasangan Dicky Iskandar Dinata dan Roserimeitha Junir, mengaku syok. "Berat banget," katanya mengenang. Alhasil, sejak itu dia lebih banyak berdiam diri. Nia mengaku lebih banyak menulis catatan harian, puisi, dan banyak menonton film. Justru di tempat itulah dia menemukan dunia yang kini ditekuninya. Dan setelah film keduanya ini, Nia semakin dikukuhkan (penontonnya dan media massa) bahwa film memang dunianya.
Irfan Budiman
|