Kocokan Segar di Ujung Tahun Arisan! menyuguhkan sebuah satire tentang kehidupan kalangan atas Jakarta. Inilah film lokal paling segar di tahun ini untuk penonton berusia tiga puluhan ke atas. |
Arisan!
Skenario: Nia Dinata dan Joko Anwar
Sutradara: Nia Dinata
Pemain: Cut Mini Theo, Tora Sudiro, Aida Nurmala
Produksi: Kalyana Shira
Tubuh-tubuh yang terbalut baju Prada, lengan yang mengepit tas Gucci, sepatu Charles Jourdan, dan wewangian Armani, sekaligus pilihan tempat berkumpul untuk arisan US$ 100 per kepala. Itulah persyaratan seseorang untuk dipandang menjadi "seseorang" di Jakarta yang dahsyat ini.
Oops. Dan jangan lupa: tolong sebutkan nama suamimu (pengacara, menteri, asisten menteri, koruptor?), orang tuamu (pengusaha, konglomerat?), dan mertuamu (pengusaha, pejabat yang menggaruk isi kantong negara?). Itu semua penting untuk mengangkat harkat para anggota arisan ini.
Begitulah sepintas gambaran ibu-ibu kalangan atas Jakarta yang ditampilkan dalam film karya paling baru dari sutradara Nia Dinata, 33 tahun, Arisan!
Tema cerita yang disuguhkan Nia Dinata kali ini sungguh menarik. Bukan saja dia kelihatan lebih menikmati dibandingkan dengan karya pertamanya, Ca Bau Kan, tapi lebih dari itu filmnya berlari dari tren yang ada dalam jagat film nasional setahun ini, yang lebih banyak didominasi kisah komedi romantik, film remaja, dan horor. Arisan! adalah sebuah film yang tidak (lagi) ada upaya pretensi untuk berlarat-larat, atau bersusah payah mencoba artistik. Dengan menampilkan sebuah kisah yang jujur—dengan unsur parodi—tentang isi perut warga Jakarta kelas atas, Nia malah berhasil memuaskan dahaga penonton yang kepingin mendapatkan jenis tontonan yang lain dari biasanya.
Arisan para perempuan Jakarta yang kaya raya ini secara tak sengaja mempertemukan tiga tokoh yang sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Mereka adalah Andien (Aida Nurmala), Meimei (Cut Mini), dan Sakti (Tora Sudiro). Dalam hitungan sukses versi Jakarta—yang sering tak peduli dengan asal muasal kekayaan warganya, apakah dari keringat sendiri atau dari korupsi—mereka bertiga tergolong sukses. Andien, yang nekat kawin muda dengan bosnya, bergelimang harta, memiliki dua putri yang manis dan suami yang (tampaknya) setia dan menyayanginya. Alhasil, kebanyakan waktunya dihabiskan untuk berso- sialisasi dengan kelompok arisan, kongko di hotel atau kafe ternama.
Meimei, putri seorang pengusaha—yang sudah kaya raya dari sononya alias yang disebut orang kaya lama—menikah dengan seorang pengacara sukses. Ia sendiri adalah desainer interior yang memiliki perusahaan yang maju. Pun demikian dengan Sakti. Cowok Batak yang sekantor dengan Meimei ini sudah punya jip Mercedes kala umurnya masih muda. Secara kasatmata, mereka adalah orang yang happy dan hampir-hampir seolah-olah tak memiliki problem hidup.
Tapi ternyata semua itu cuma kedok. Di balik semua itu, ternyata masing-masing dari mereka punya problem berat. Meimei tak lain hanyalah seorang istri yang tertekan. Dia divonis dokter tak bakal mendapatkan keturunan. Saat itu pula suaminya meninggalkan dirinya. Sedangkan Sakti, meski rajin melakukan konsultasi dengan psikiaternya, tak bisa menyembunyikan dirinya sebagai seorang gay. Pergulatannya begitu panjang dan melelahkan. Belakangan, Andien, yang awalnya mati-matian menjaga keharmonisan keluarganya, tak kuasa untuk melakukan perselingkuhan gara-gara suaminya mengaku pernah melakukan hubungan di luar nikah dengan seorang perempuan. Andien jadi buas. Laki-laki muda dilahapnya. "Kalau dia bisa, gue juga bisa, kok," katanya dengan berang ketika Meimei mengkritik tingkah lakunya.
Seperti permainan arisan, semua problem itu dikocok Nia Dinata, yang juga menulis skenarionya bersama Joko Anwar, dengan nyaris sempurna. Film ini mampu bercerita dengan lancar dan sangat komunikatif. Itu bisa kelihatan dari pembukaan film yang menyajikan title film dan nama-nama pemain dengan visualisasi yang sangat unik (ditonton saja!). Sepanjang film, dialog para tokoh sarat dengan sindiran. Siapa saja disikat, termasuk kalangan pembuat film sendiri. Semuanya disajikan dengan kocak, menggelitik, sekaligus pedih.
Oplosan itu terlihat hampir sempurna karena Nia mampu menjaga mood penonton untuk mau menunggu adegan berikutnya yang bakal muncul. Padahal dalam film ini banyak sekali tokoh yang hendak dikedepankan. Untung, perpindahan adegan yang cepat menjadikan tempo film ini lebih dinamis. Semua pemain mampu bermain wajar di film ini. Pujian layak diberikan kepada Cut Mini Theo sebagai Meimei yang penuh derita dan terhunjam kesepian. Demikian pula pemain lainnya, Surya Saputra, sebagai seorang gay yang sudah tenteram dengan identitasnya, dan Rachel Maryam, sebagai wanita Batak yang dijodohkan dengan Sakti. Ibu-ibu arisan itu pun yahud. Mereka berbicara dengan bahasa campuran Inggris dan Indonesia (maklum, kira-kira prinsip hidup mereka: you've got show that you are rich by speaking English, somehow!).
Sayangnya, terlalu banyak perihal yang hendak disampaikan. Semisal tentang dialog suami Andien yang memberikan mobil Jaguar dengan mengutip perkataan seorang budayawan tentang tidak pantasnya orang Jakarta memiliki Jaguar. Adegan lain, seorang penulis seni media terkemuka di Jakarta (diperankan oleh Ria Irawan) yang melakukan seks oral dengan seorang pemilik galeri. Lalu juga tentang kritik Nia sendiri, sebagai pembuat film, terhadap film-film lokal yang sempat beredar. Sebenarnya, tanpa adegan-adegan itu pun film ini sudah cukup untuk berbicara.
Toh, meski masih banyak kekurangan yang ada di dalam film ini, dibandingkan dengan belasan film lokal yang keluar tahun ini, Arisan! merupakan tontonan lokal yang paling segar. Kali ini, two thumbs up untuk Nia.
Irfan Budiman/LSC
|