Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Bisnis Sepekan

Kucuran Utang CGI



NEGARA-NEGARA donor yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) menyetujui permintaan pemerintah untuk mengucurkan pinjaman senilai US$ 3,4 miliar untuk tahun fiskal 2004—porsi terbesar berasal dari Bank Pembangunan Asia, Bank Dunia, serta pemerintah Jepang. Jumlah ini sedikit lebih besar daripada utang tahun 2003, yakni US$ 3,1 miliar.

Keputusan diambil dalam sidang tahunan CGI ke-13 yang berakhir Kamis pekan lalu di Jakarta. Perwakilan Bank Dunia untuk Asia Pasifik, Jemal-ud-din Kassum, berpendapat bahwa pinjaman itu diberikan karena Indonesia berhasil menciptakan stabilitas ekonomi. Kassum yakin bahwa White Paper, program kerja sama pasca-IMF yang telah dibuat pemerintah, dan cetak biru reformasi peradilan yang dirancang Mahkamah Agung akan menjamin perbaikan ekonomi di masa depan.

Toh Kassum mengingatkan agar pemerintah memegang komitmennya, "Sedikit saja bergeser dari White Paper, iklim investasi bisa terganggu."

Kiani Terombang-ambing

BAK kapal kehabisan solar, nasib pabrik kertas Kiani kini terombang-ambing dalam ketidakpastian. Setelah setahun dibeli PT Nusantara Energi dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), restrukturisasi utangnya tak kelar juga. Akibatnya, utang US$ 202 juta yang dikucurkan Bank Mandiri ke Nusantara terancam macet.

Jika sampai akhir minggu ini bos Nusantara, yakni Prabowo Subianto dan Luhut Panjaitan, tak mendapat suntikan modal segar untuk modal kerja, dipastikan kredit macet Mandiri bakal naik sekitar 2 persen, dari angka sekarang yang sudah mencapai 7,4 persen.

Yang menarik, untuk mengantisipasi kegagalan Nusantara menggaet investor, Mandiri berencana mengembalikan Kiani ke BPPN. "Kami akan menjual kembali Kiani ke BPPN," kata Direktur Utama Mandiri, E.C.W. Neloe, minggu lalu. Alasannya, jika pinjaman ke Nusantara tadi macet, hal itu bakal membuat Mandiri tak sehat.

Tapi BPPN belum tentu setuju. Menurut Rohan Nafas dari Bagian Humas BPPN, tak ada aturan yang membolehkan BPPN membeli kembali aset yang telah dilegonya.

Merayu Pedagang Fujian

SELASA pekan lalu Hotel Shangri-La, Jakarta, bak menjelma menjadi Tiongkok. Di sudut-sudut bangunan, lampion, pita, dan huruf Cina bertebaran. Di muka, sebuah pintu gerbang bergaya Cina abad pertengahan berdiri megah, dijaga ketat empat petugas.

Rupanya, sebuah hajatan besar tengah digelar. Namanya: Fujian Night. Acara makan malam yang disesaki 600 undangan itu dirancang untuk menjamu pengusaha Fujian serta wakil pemerintah Cina. Tak kurang, Presiden Megawati dan beberapa menteri menyempatkan datang.

Acara ini, kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Theo F. Toemion, bertujuan menggenjot kerja sama antara pengusaha Indonesia dan Cina, khususnya dari Provinsi Fujian. Apalagi neraca perdagangan Cina-Indonesia dari Januari-Mei 2003 mencatat surplus US$ 3,98 miliar. Untuk menindaklanjutinya, pada 18-20 Desember nanti, akan dilangsungkan China Export Product Fair 2003 di Kemayoran. Pekan raya ini akan diikuti 220 pengusaha asal Cina.

Lippo Belum Dilirik

TAMPAKNYA Ketua BPPN Syafruddin Temenggung mesti bersabar melego saham Bank Lippo. Setelah dua kali ditawarkan, bank yang didirikan keluarga Riady itu belum juga dipinang investor. Dari tiga peminat—Eurocapital Asia Limited, Platinum Securities Company Limited, serta Swissasia Global—tak satu pun yang berani menawar di atas harga dasar yang dipatok. "Tak ada pemenang dalam divestasi bank Lippo," Syaf mengumumkan, Senin pekan lalu.

Padahal patokan BPPN tak terlalu tinggi, yakni Rp 591 per lembar saham. Menurut seorang analis, ketersendatan ini tak lepas dari berbagai kasus kontroversial yang melilit bank tersebut, mulai dari penerbitan laporan keuangan ganda, penyusutan nilai agunan yang diambil alih, hingga belakangan naiknya jumlah kredit macet—yang menurut neraca keuangan per September 2003 meningkat dari 9,03 persen menjadi 12,17 persen.

Jadi, BPPN bakal mendiskon harga? Deputi Ketua BPPN Bidang Restrukturisasi Perbankan, I Nyoman Sender, mengakui bahwa penurunan harga itu mungkin saja akan ditempuh. Kalau soal kembalinya keluarga Riady? Sender berkata, "Memang sulit, karena tak ada larangan untuk itu."

Tuntutan Cemex

JALAN damai dalam sengketa kepemilikan Semen Gresik antara Cemex SA, raksasa semen asal Meksiko, dan pemerintah tampaknya tertutup sudah. Cemex menolak upaya penyelesaian di luar jalur hukum. Sebelumnya, mereka telah mendaftarkan gugatan ke International Center for Settlement of Investment Dispu-tes (ICSID) di Washington, AS.

Kamis pekan lalu, penasihat senior Cemex, Wimar Witoelar, mengatakan bahwa perusahaannya akan meminta kembali semua uang yang telah ditanam di Semen Gresik. Tapi berapa persisnya, Wimar belum tahu.

Wimar juga membantah pernyataan Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi bahwa Cemex telah mengajukan tiga alternatif penyelesaian. Yang pertama, Cemex mengakuisisi 51 persen saham pemerintah di Gresik. Opsi kedua, pemerintah mengambil alih 25 persen saham Cemex. Atau yang ketiga, Cemex menyuntikkan tambahan modal ke Gresik, sehingga porsi saham pemerintah akan terdilusi. "Itu hanya interpretasi pemerintah," kata Wimar.

Deputi Menteri Negara BUMN, Roes Aryawijaya, menganggap langkah Cemex di atas lumrah saja. Katanya, "Jika mediasi tak ada titik temu, ya dibawa ke arbitrase."

ING Bank Tutup



KERASNYA persaingan sektor perbankan setelah krisis 1997 menelan satu lagi korban: ING Bank Indonesia. Menurut Irwan Habsjah, Chief Executive Officer ING Bank Indonesia, sejak awal minggu lalu, Bank Indonesia telah menyetujui penutupan bank asal Belanda tersebut. Irwan bercerita, sejak September lalu, banknya sudah tak lagi menerima nasabah baru. Paling-paling mereka cuma melayani klien lama yang tinggal segelintir, antara lain Philips dan McDonald's.

Mirza Adityaswara, analis perbankan, mengaku tak kaget dengan tutupnya ING. Menurut dia, ING termasuk bank yang megap-megap dihantam krisis enam tahun lalu. Penyebabnya, ING amat mengandalkan nasabah korporat. Karena itu, ketika sejumlah konglomerat yang menjadi kliennya tercekik utang, mereka juga terimbas. Hal ini dibenarkan Irwan Habsjah. Sebelum krisis, Indofood dan Grup Sinar Mas memang merupakan nasabah utama mereka.

Hingga 2002, kredit macet ING mencapai 44,75 persen. Untungnya, rasio kecukupan modal mereka terhitung lumayan, 50,93 persen. Selain itu, ING juga mencatat kerugian Rp 18,661 miliar. n

Janji Koizumi

SETELAH ditunggu sekian lama, akhirnya Jepang ikut meneken Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara (Treaty of Amity and Cooperation), menyusul Cina dan India. "Ini ungkapan hati Jepang untuk tetap bekerja sama dengan ASEAN," kata Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi dalam jumpa pers bersama Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua ASEAN, usai penutupan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama ASEAN-Jepang di Tokyo, Jumat lalu.

Rabu, sehari sebelum KTT dimulai, dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Megawati, Koizumi menekankan pentingnya stabilitas dan kemajuan ekonomi Indonesia dalam perkembangan kawasan Asia Pasifik. Atas dasar itu, ia menyatakan komitmen pemerintah Jepang untuk terus membantu Indonesia, antara lain lewat pemberian bantuan 100 miliar yen (sekitar Rp 8 triliun) untuk membangun instalasi listrik, kereta listrik, dan pelabuhan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
29/XXXVII/08 - 14 September 2008

 

Berita lainnya

Pemilu 2009 Kemungkinan Pakai Marker Warna Orange - 08 Sep 2008 | 16:01 WIB
Arsenal Segera Berpindah Tangan ? - 08 Sep 2008 | 15:59 WIB
Pemudik ke Gunungkidul Perlu Waspadai Tanjakan - 08 Sep 2008 | 15:56 WIB
Pasokan Air PDAM Purwokerto Terancam Digilir - 08 Sep 2008 | 15:55 WIB
Schiavone: Sandy Bukan Lawan Mudah - 08 Sep 2008 | 15:50 WIB
Polisi Malaysia Tangkap 27 Warga Vietnam - 08 Sep 2008 | 15:40 WIB
KPUD Nusa Tenggara Barat Telusuri Putusan Mahkamah Agung - 08 Sep 2008 | 15:38 WIB
Korea Selatan tanpa Park Ji Sung - 08 Sep 2008 | 15:35 WIB
Makanan Rusak Banyak Ditemukan di Yogyakarta - 08 Sep 2008 | 15:33 WIB
Habis Puasa, Listrik di Pemukiman Padat Dirazia - 08 Sep 2008 | 15:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data