Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 42/XXXII/15 - 21 Desember 2003
   
Ekonomi dan Bisnis

Siapa Menakhodai Biduk Bocor

Skandal pembobolan jadi alasan kuat untuk mengusung calon Direksi BNI dari unsur luar. Tapi penolakan datang dari serikat pekerja dan para pensiunan.

DALAM sebuah perbincangan dengan mingguan ini, Direktur Utama Bank Negara Indonesia, Saifuddien Hasan, pernah mengeluh, "Beda gaji direktur utama dengan direktur di BNI itu cuma 10 persen. Tapi, kalau ada masalah begini, saya yang harus menanggung semua."

Memang, skandal pembobolan brankas Bank Negara Indonesia (BNI) senilai Rp1,7 triliun makin memberi sinyal kuat bakal tergusurnya posisi Saifuddien dariposisi nomor satu di bank yang 99 persen sahamnya dikuasai pemerintah itu. Nasibdia, juga jajaran direksi lain, akan ditentukan dalam rapat umum pemegang sahamluar biasa (RUPSLB) yang digelar Senin ini.

Kabar mengenai akan terlemparnya Saifuddien sebenarnya bukan barusekarang mumbul. Seorang bankir bercerita, beberapa pekan sebelum aib ituterbongkar, dirinya sudah dihubungi pejabat Kementerian Negara Badan UsahaMilik Negara dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Ia dikabarimengenai kemungkinan terjadinya perombakan besar-besaran dalam manajemen di BNI.

Sumber lain mengungkapkan, Saifuddien kurang disukai para politikus diSenayan. Seorang wakil rakyat menilai Saifuddien ini "kurang gaul". Diamembandingkannya dengan para direktur bank pemerintah lain. "Kalau yang lain,di-SMS saja sudah datang tergopoh-gopoh. Saifuddien ini sulit," katanya.

Dan kebocoran gila-gilaan di lambung si Kapal Layar—sebuah noda yangharus dipertanggungjawabkan sang Direktur Utama—membuat nasibSaifuddien agaknya tak tertolong lagi. Menyongsong RUPSLB, Kementerian Badan UsahaMilik Negara (BUMN) sudah menyiapkan daftar calon Direksi BNI baru. Awalpekan lalu, 22 nama kandidat pengisi kursi direksi dan 10 komisaris telahdisetorkan ke Bank Indonesia untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Dan namaSaifuddien tak tertera di dalamnya.

Lis itu didominasi figur dari luar. Bahkan, dari empat direktur lama yangkembali dicalonkan, hanya Suryo Sutanto dan Mohammad Arsjad yangmembangun karier di BNI. Dua lainnya, Arwin Rasyid dan I. Supomo, baru masukbank pemerintah itu Juni lalu.

Dan seperti telah diduga, reaksi langsung datang dari serikat pekerja danpara pensiunan. Meski tak terang-terangan menolak, mereka merilis siaran persberisi desakan agar "orang-orang dalam"-lah yang dipilih untuk menakhodaiBNI. "Permintaan itu wajar. Selain alasan karier, pun belum tentu lebih baik jikadipegang orang luar," kata mantan Direktur Utama BNI, Widigdo Sukarman.

Tapi gelombang desakan untuk "membersihkan" manajemen BNI datangterlampau kuat. Dari Senayan, sejak awal para politikus telah berteriak mintaperombakan. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Anwar Nasution,bahkan mengancam akan memasukkan nama para direktur dan komisaris yangkini menjabat ke dalam daftar orang tercela.

Tentu Arwin tak masuk hitungan Anwar. Penggangsiran BNI, yang terjadisetahun sebelum ia masuk, justru terungkap tak lama setelah mantanPresiden Direktur Bank Danamon itu duduk di kursi Wakil Direktur Utama BNI.Nama Arwin, yang dulu sempat dikabarkan memang diplot untuk menggantikanSaifuddien, kencang berkibar.

Banyak orang mengaitkan kans kuat Arwin sehubungan kedekatannyadengan keluarga Presiden Megawati. Soalnya, saat memimpin Danamon, iasempat mengucurkan kredit—yang lalu macet—senilai Rp 25 miliar untukIndonesian Airlines, maskapai yang turut dimiliki Santayana Kiemas, adik Taufiq Kiemas.

Terhadap soal ini, Arwin menyanggah. "Mengapa kredit yang sudah jelasada agunannyakok dipersoalkan. Saya melihat ada upaya memojokkan saya,"ujarnya seperti dikutip Koran Tempo.

Selain Arwin, nama yang juga banyak digadang-gadang untuk memimpinBNI, bank beraset Rp 150 triliun lebih itu, adalah Sigit Pramono, Direktur UtamaBank BII saat ini. Menurut dua pejabat Kementerian BUMN dan BI, Sigit disokongoleh para petinggi Kementerian BUMN, bank sentral, dan BPPN. "Suksesnyadivestasi BII memuaskan BPPN. Itu membuat Syafruddin ingin dia melakukan halyang sama di BNI," kata seorang bankir.

Sigit sendiri enggan berkomentar banyak. Ditemui TEMPO ketika sedangberbincang akrab dengan Syafruddin dalam sebuah acara di kampus STIEPerbanas, Jakarta, Kamis malam lalu, ia cuma berkata, "Khusus soal itu, saya puasa bicara."

Dari semua nama yang dianggap berpeluang, adalah I Nyoman Sender yangterang-terangan mengaku siap menakhodai BNI. "Jangankan Direktur Utama BNI,kalau perlu presiden republik ini pun saya siap," ujarnya yakin. Deputi KetuaBPPN yang lembaganya akan "tutup klinik"Februari depan itu juga merasa tak punya beban dengan adanya penolakanterhadap calon dari luar. "Saya 24 tahun diBNI," katanya, sambil menambahkan isu itu sama sekali tidak relevan, "Hanya orangpicik yang berpikir begitu."

Lain Sender, lain pula Edwin Gerungan. Mantan Ketua BPPN ini punsempat mendapat banyak dukungan karena dikenal cukup bersih danberpembawaan tegas. Tapi, belakangan tersiar kabarEdwin sendiri malah tak terlalu menaruh minat. Bahkan, kepada wartawan,ia sempat mengatakan pencalonannya itu tak lebih dari sekadar pajangan.Selebihnya, "Saya tak mau komentar."

Bursa wakil direktur utama dan direktur lainnya pun tak kalah menarik.Sejumlah nama telah disebut. Antara lain, Direktur Utama Danareksa ZasUreawan, Direktur Utama Bahana Sekuritas Ignatius Jonan, Presiden DirekturDeloitte Touche Tomatsu Dessi H. Natalegawa, dan mantan Direktur Bursa EfekJakarta Cyrill Nurhadi. Menurut sumber TEMPO, dua pejabat bank sentral pun ikutdinominasikan oleh Kebon Sirih, markas BI, untuk menduduki kursi direkturkepatuhan. Mereka adalah staf ahli Gubernur BI yang pernah lama menjadi pengawasBNI, Achil R. Djajadiningrat, dan Kepala Kantor Wilayah BI Ja-Tim Nana Supriana.

Tapi, sampai RUPSLB diketuk palu, semua kemungkinan masihterbuka. Apalagi, menurut pengakuan seorang kandidat, lobi-lobi di puncakkekuasaan masih berlangsung gencar. Begitu gencarnya, sampai seorang bankirmewanti-wanti, "Sekali ada deal politik, ibaratmemelihara pesugihan (makhluk halus untuk mencari kekayaan), akan adatumbal yang harus dibayar."

Tomi Aryanto



Mereka yang Dijagokan

Arwin Rasyid

Lahir
: Roma, Italia, 22 Januari 1957

Karier: Per Juni lalu, ia menjabat wakil direktur utama di PT Bank BNI Tbk. Sebelumnya, ia adalah Direktur Utama Bank Danamon, sejak Oktober 2000, dan Deputi Ketua BPPN.

Pendidikan: Selepas dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada 1980, ia menempuh pendidikan pascasarjana jurusan ekonomi internasional dan meraih gelar master bidang bisnis internasional di University of Hawaii, AS.

Edwin Gerungan

Lahir
: Jakarta, 17 Juni 1948

Karier: Setelah 25 tahun berkarier di perbankan,antara lain menjabat Vice President Citibank danExecutive Vice President Treasury and InternationalCoordination Bank Mandiri, pada 3 November 1999 Edwindiangkat sebagai Ketua BPPN. Setelah itu, ia menjabatkomisaris di BCA dan per Juni 2003 diangkat sebagaikomisaris Bank Danamon.

Pendidikan: Ia alumni Jurusan Teknik MesinUniversitas Trisakti (1966—tidak selesai), meraih gelarbachelor of art dari Principia College, Illinois, AS(1972), dan pada 1980 mengikuti Program for Executivedi Carnegie Mellon, AS.

I Nyoman Sender

Lahir
: Tabanan, Bali, 28 Oktober 1952

Karier: Bergabung dengan BPPN sejak September 2001,ia kini menjabat Deputi Ketua BPPN Bidang BankRestructuring Unit. Ia juga pernah menjadi Direktur Utama PT BNIMulti Finance, Jakarta, dan Presiden Komisaris BNI NomuraJafco Management Ventura.

Pendidikan: Ia lulus dari Fakultas EkonomiUniversitas Brawijaya pada 1978 dan meraih gelar masternya dariAsian Institute of Management, Manila, Filipina, pada 1994.

Sigit Pramono

Lahir
: Batang, Jawa Tengah, 14 November 1958

Karier: Sejak 7 November 2002, ia menjabat Presiden Direktur BII. Sebelumnya, sejak 1999, ia berkarier di Bank Mandiri dengan jabatan terakhir senior vice president bidang credit recovery group (Agustus 2001). Ia juga pernah menjabat Vice President Director Bank Merincorp dan Kepala Departemen Penanganan Kredit Bermasalah Bank Exim.

Pendidikan: Ia sarjana manajemen lulusan Universitas Diponegoro, Semarang, pada 1983, dan meraih gelar master of business administration dari Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya, Jakarta, pada 1995.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data