Apa yang Kaucari, Cherie? Sjamsul Nursalim—lewat putrinya, Cherie—mensponsori seminar besar di Bali. Apakah taipan ini sekadar membersihkan nama atau sekaligus mencari pelindung baru? |
Air mata Itjih Nursalim sempat menitik saat ia disapa oleh para tamu. Bibir istri konglomerat Sjamsul Nursalim itu tak henti berkomat-kamit, menggumamkan ucapan terima kasih. Anak-anaknya pun berbaur dengan tamu, seolah acara itu adalah suatu perhelatan keluarga.
Sebenarnya acara itu lebih dari sekadar pesta keluarga. Saat itu, Sabtu dua pekan lalu, Itjih dan anak-anaknya hadir dalam welcome dinner yang merupakan bagian dari rangkaian acara bertajuk United in Diversity: Achieving Indonesia's Progress Against All Odds. Berlangsung di Hotel Sheraton, Nusa Dua, acara inti dibuka oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Minggu, 7 Desember lalu. Selain tiga menteri koordinator, hadir sejumlah tokoh terkemuka, seperti Alvin Toffler, David Nellor dari IMF, dan Duta Besar Inggris Richard Gozney. Juga tak ketinggalan Jajang C. Noer dan Christine Hakim.
Diperkirakan paket acara itu menghabiskan dana miliaran rupiah—jumlah yang wajar, terutama karena lokasi yang dipilih adalah hotel bintang lima. Memang kehadiran Itjih dan anak-anaknya cukup mengejutkan. Apalagi ketika diketahui bahwa Gajah Tunggal Group, perusahaan milik Sjamsul Nursalim, mensponsori acara ini. Direktur Eksekutif Gajah Tunggal, Cherie Nursalim, duduk di steering committee bersama Frans Seda (penasihat presiden), Martani Huseini (Wakil Rektor Universitas Indonesia), Aristides Katoppo (Pemimpin Redaksi Sinar Harapan), dan Marzuki Usman (pendiri Indonesia's Capital Market).
Sepak terjang pemilik Gajah Tunggal inilah yang menyulut protes. Bahkan Sekretatris Jenderal Transparency International Indonesia, Emmy Hafild, mengaku sangat marah. Bergegas ia membuat surat imbauan yang ditandatangani empat pemimpin lembaga swadaya masyarakat, yakni Transparency International Indonesia, Indonesia Corruption Watch, INFID, dan Pergerakan Indonesia. Surat itu dikirim ke pembicara dan menganjurkan agar dewan penasihat, moderator, serta peserta juga memboikot acara tersebut.
Mereka diingatkan bahwa turut berpartisipasi sama saja dengan melegitimasi "kejahatan" yang dilakukan Grup Gajah Tunggal dan membersihkan namanya. "Mereka ingin mencari pelindung baru. Kan, tak ada yang tahu siapa pemenang pemilu nanti," kata Emmy pula.
Direktur Eksekutif Partnership for Governance Reform, H.S. Dillon, yang menjalin kemitraan antikorupsi dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, sepakat. "Tema united in diversity menjadi sangat bertolak belakang. Pemecah belah bangsa adalah ketidakadilan, dan korupsi adalah salah satunya," ujar Dillon berang.
Sjamsul Nursalim, konglomerat yang mengaku terbaring sakit di Rumah Sakit Rafflesia, Singapura, adalah debitor kelas kakap yang paling tak kooperatif. Utangnya kepada negara mencapai Rp 27,4 triliun dan kini sudah menggelembung menjadi Rp 48 triliun. Selain berstatus tersangka dalam kasus penyelewengan dana bantuan likuiditas senilai Rp 10 triliun, namanya sudah sangat rusak. Toh, hal itu tidak menghalangi Sjamsul untuk mengemplang utangnya.
Taipan asal Lampung itu bahkan mensponsori acara semegah United in Diversity. "Gajah Tunggal Group hanya salah satu dari banyak sponsor dalam acara itu," Executice Vice President Corporate Communications Gajah Tunggal, Catharina Widjaja, berkilah. Ia tak menyebut besarnya dana yang telah mereka kucurkan. Ia juga membantah anggapan bahwa Gajah Tunggal adalah penggagas acara itu. "Founder dari UID adalah MIT Sloan School of Management, Universitas Indonesia, dan Sinar Harapan." Bukankah di PT Sinar Harapan ada Aristides Katoppo? Adapun orang-orang di MIT Sloan School of Management, semuanya, adalah kolega Cherie sewaktu bertugas di Harvard Business School.
Walhasil, banyak aktivis dan pemuka masyarakat yang terkecoh. "Saya pikir hanya namanya yang mirip," kata Faisal Basri, Presiden Pergerakan Indonesia. "Begitu tahu, saya langsung menyampakain pembatalan kehadiran saya kepada panitia," ujar Imam Prasodjo. Syafi'i Ma'arif dan Ketua NU Hasyim Muzadi mengambil keputusan serupa.
Presiden Bank Dunia, James Wolfensohn, juga tak datang, kabarnya karena harus berangkat ke Irak. Menurut Emmy, Bank Dunia tak pernah memberikan persetujuan untuk menjadi sponsor. Tapi, walaupun namanya digunakan tanpa izin, mereka tak mau memperpanjang masalah. US Agency for International Development dan United Nations Development Programme setali tiga uang. MIT Sloan School of Management pun akhirnya mundur diam-diam.
Namun sebagian kalangan menilai acara ini benar-benar penting. Dan berbagai alasan pun dikemukakan. "Setahu saya, Cherie itu orang baik. Lagi pula ini kan bukan rapat kerja Gajah Tunggal," kata Wimar Witoelar. Tapi banyak orang lain berpendapat bahwa sulit membedakan antara Cherie Nursalim dan Sjamsul Nursalim. Selain sama-sama suka duit, mereka lihai menghambur-hamburkannya, walaupun utang sendiri tidak terbayar.
Dara Meutia Uning, I G.G. Maha Adi (Bali)
|